Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

BENTUK LOYALITAS KEPADA ORANG BERIMAN

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Maret 2, 2009

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]

Adapun bentuk-bentuk perwala’an (loyalitas) terhadap orang-orang yang beriman telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu :

Pertama.
Berhijrah ke negara kaum muslimin, dan meninggalkan negara orang-orang kafir, hijrah artinya pindah dari negara orang-orang kafir ke negara kaum muslimin untuk menyelamatkan Ad-Dien.

Dan hijrah dalam artian serta untuk tujuan ini hukumnya wajib sampai terbitnya matahari dari arah barat ketika Hari Kiamat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di antara orang-orang musyrikin, maka haram bagi seorang muslim bermukim di negara-negara kafir, kecuali jika tidak mampu berhijrah dari tempat itu, atau dalam bermukimnya itu terdapat maslahat Ad-Dien, misalnya berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini’. Mereka menjawab :’Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’.Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk- buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun”. [An-Nisa : 97-99].

Kedua
Membantu dan menolong kaum muslimin dalam urusan dien dan duniawi baik dengan jiwa, harta, juga dengan lisan (perkataan/ucapan). Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain”. [At-Taubah : 71].

Dan Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka”. [Al-Anfal : 72].

Ketiga
Merasa sakit atas penderitaan mereka, serta berbahagia dengan kebahagian mereka.

Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta kasih, dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka seperti satu jasad (tubuh) apabila satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh jasadnya ikut merasa sakit”.

Dan beliau bersabda :

“Artinya : Seorang mukmin dan mukmin lainnya adalah bagaikan suatu bangunan yang sebagiannya menutup bagian lainnya (seraya/sambil merapatkan antara jari-jari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Keempat.
Memberi nasehat serta mencintai kebaikan mereka serta tidak menghina dan tidak menipu mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Artinya : Tidaklah seorang di antara kamu beriman sehingga ia mencintai saudaranya melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri”.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain ; tidak meremehkannya, dan tidak menghinanya serta tidak menyerahkannya (kepada musuh), betapa buruknya jika seorang menghina (meremehkan) saudaranya yang muslim ; segala yang ada pada seorang muslim adalah haram pada muslim lainnya baik darahnya, hartanya, dan harga dirinya”.

Dan besabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Janganlah kalian saling membenci, saling bermusuhan, saling memata-matai dan janganlah sebagian kamu menjual (berakad) terhadap (akad) lainnya, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”.

Kelima
Menghormati dan memuliakan mereka serta tidak mengurangi kehormatan mereka.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [Al-Hujurat : 11-12].

Keenam
Senantiasa menyertai mereka baik dalam keadaan sulit maupun lapang. Berbeda dengan orang-orang munafik yang hanya menyertai orang-orang yang beriman dalam keadaan mudah dan senang saja dan meninggalkan mereka dalam keadaan susah.

Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : (Yaitu) orang-orang yang menunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata :’Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?’. Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata :’Bukankah kami turut memenangkan kamu, dan membela kamu dari orang-orang yang beriman”. [An-Nisa : 141].

Ketujuh
Menziarahi/mengunjungi mereka dan senang bertemu dengan mereka serta senantiasa berkumpul bersama mereka. Disebutkan dalam hadits Qudsy:

“Artinya : Kewajiban cintaku bagi orang-orang yang saling berkunjung kepada-Ku”.

Di dalam hadits lain disebutkan :

“Artinya : Bahwa seorang laki-laki hendak mengunjungi saudaranya karena Allah Ta’ala, lalu diutuslah oleh Allah Ta’ala seorang malaikat untuk mengikuti perjalanannya seraya bertanya :’Hendak kemanakah engkau ?’. Laki-laki itu menjawab :’Aku akan mengunjungi saudaraku karena Allah Ta’ala’. kemudian malaikat itu bertanya lagi :’Apakah kunjunganmu disebabkan suatu nikmat yang engkau harapkan dari padanya ?’ Laki-laki itu menjawab:’ Tidak, tapi semata-mata dikarenakan aku mencintainya karena Allah Ta’ala.’Malaikat berkata :’Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang diutus kepadamu untuk menyampaikan kepadamu bahwa Allah Ta’ala mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya”.

[Disalin dari buku Al-Wala’ & Al-Bara’ Tentang Siapa Yang Harus Dicintai dan Harus Dimusuhi oleh Seorang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, hal 26-33, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Endang Sefuddin]


Sumber : http://almanhaj.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: