Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Membuka Bisnis Dari Modal Harta Yang Haram

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Maret 14, 2009

Oleh
Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta

Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Orang tua saya memiliki harta yang haram dan beliau hendak membuka bisnis buat saya dengan modal dari harta yang haram tersebut. Apakah saya boleh menyucikan bisnis saya ini dari keuntungan bisnisnya. Sedangkan saya dalam keadaan tidak sekolah kecuali hanya tamat SD, dan saya sudah tidak berminat lagi untuk belajar keterampilan. Lalu bagaimanakah hukum Islam terhadap masalah ini ?

Jawaban.
Pertama : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyari’atkan mu’amalah antara kaum muslimin dengan melakukan akad yang dibolehkan, misalnya akad jual beli, sewa-menyewa, salam, dan akad-akad lainnya yang disyari’atkan, karena di dalamnya terkandung kemaslahatan manusia.

Kedua : Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan sebagian akad yang didalamnya terkandung mudharat, misalnya, akad riba dan asuransi dagang, dan beberapa praktek perdagangan yang haram, misalnya jual beli alat-alat yang bisa melengahkan (alat-alat musik), juga jual beli minuman khamr (minuman keras), ganja dan rokok, yang semuanya itu mengandung berbagai mudharat yang bermacam-macam.

Oleh karena itu, seorang muslim harus menempuh jalan yang dibolehkan dalam hidup dan berusaha. Dan hendaklah dia menghindari harta benda yang haram, serta cara-cara yang dilarang. Jika Allah telah mengetahui kesungguhan niat seorang hamba dan kegigihannya untuk mengikuti syari’atNya serta berpetunjuk pada Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Dia akan memudahkan jalan baginya serta akan melimpahkan rizki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” [Ath-Thalaaq : 2-3]

Dan dalam sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya” [1]

Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa Anda tidak boleh mendirikan sebuah usaha dengan modal dari sumber yang haram, baik itu berasal dari ayah Anda sendiri maupun orang lain.

Wabillaahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.

[Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta, Pertnanyaan ke 1 dari Fatwa Nomor 5436, Disalin dari Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Jual Beli, Pengumpul dan Penyusun Ahmad bin Abdurrazzaq Ad-Duwaisy, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i]
_________
Foote Note.
[1] Diriwayatkan oleh Ahmad V/78,79, 363 Abdullah bin Al-Mubarak di dalam kitab Az-Zuhud halaman 412 nomor 1168, Waki bin Al-Jarrah dalam kitab Az-Zuhud II/635 nomor 356. Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Hilyah II/196. Al-Ashbahani di dalam kitab At-Targhib wa Tarhiib I/409 nomor 715. Al-Qudha’i di dalam kitab Musnad Asy-Syihaab II/178 dan 179 nomor 1135-1138, dan Al-Baihaqi V/335


Sumber : almanhaj.or.id

2 Tanggapan to “Membuka Bisnis Dari Modal Harta Yang Haram”

  1. nugraha said

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Bagaimana hukum jual beli yang seperti ini :
    Si Fulan ingin membeli sebuah barang tapi dia tidak cukup punya uang (si Fulan ini sudah bekerja yang insyaallah halal ). Kemudian dia berniat meminjam uang ke saudaranya yang bekerja di bank ribawi / konvensional dan saudaranya setuju meminjamkan uangnya ( bukan uang bank ) tanpa bungan sepeserpun. Jadi misalkan Fulan pinjam 100 rb maka uang yang dikembalikan nanti juga 100 rb. Tetapi uang 100 rb milik saudaranya ini adalah hasil bekerja di bank ribawi tersebut.

    Wassalamu’alaikum warahmatullah

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      W’alaykumsalam warahmatullah wabarokatuh

      Dalam kasus tersebut, maka tidaklah sepentasnya kita mencampuradukkan antara yang haq dengan yang batil (riba). Dalam membeli sesuatu hal, maka harus diperhtungkan segi kemanfaatan dari barang tersebut, apakah termasuk barang yang harus segera dibeli atau tidak. Jika barang yang dimaksud pembeliannya bisa ditunda sembari menabung untuk membelinya, maka hal itu sesuatu yang sangat baik. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

      “Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka bagiannya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka ; mereka kekal didalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa” (Al-Baqarah : 275-276)

      Jika barang yang akan dibeli memang barang yang sangat dibutuhkan, maka lebih baik meminjam kepada saudara muslim yang lain yang memiliki penghasilan yang halal, agar barang yang dibeli lebih barokah.

      Allohu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: