Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Cara-Cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Maret 27, 2009

Cara-Cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh

Maka Ahlus Sunnah menyatakan kepada mereka, baik kelompok Al-Ikhwanul Muslimun ataupun Hizbut Tahrir serta semua pihak yang menempuh cara mereka, tunjukkan kepada umat ini satu saja Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian wujudkan dengan cara yang kalian tempuh sepanjang sejarah kelompok kalian. Di Mesir kalian telah gagal total, bahkan harus ditebus dengan dieksekusinya tokoh-tokoh kalian di tiang gantungan atau ditembak mati, dan semakin suramnya nasib dakwah. Di Al-Jazair pun ternyata juga pupus bahkan berakhir dengan pertumpahan darah dan perpecahan.

Atau mungkin kalian akan menyebut Sudan, sebagai Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian dirikan, di mana kalian berhasil dalam Pemilu di negeri tersebut. Namun apa yang terjadi setelah itu…? Wakil Presidennya adalah seorang Nashrani, lebih dari 10 orang menteri di kabinet adalah Nashrani.

Ketika kaum muslimin, terkhusus para aktivisnya, telah menjauhi dan meninggalkan metode dan cara yang ditempuh oleh para nabi dan generasi Salaful Ummah di dalam mengatasi problematika umat dalam upaya mewujudkan Daulah Islamiyyah, tak pelak lagi mereka akan mengikuti ra`yu dan hawa nafsu. Karena tidak ada lagi setelah Al-Haq yang datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya n serta Salaful Ummah, kecuali kesesatan.

Sebagaimana firman Allah:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ
“Maka apakah setelah Al Haq itu kecuali kesesatan?” (Yunus: 32)

Dengan cara yang mereka tempuh ini, justru mengantarkan umat ini kepada kehancuran dan perpecahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutlah dia, dan janganlah kalian mengikuti As-Subul (jalan-jalan yang lain), karena jalan-jalan itu menyebabkan kalian tercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah Ta’alaepadamu agar kalian bertaqwa.” (Al-An’am: 153)

Diantara cara-cara sesat yang mereka tempuh antara lain:

1. Penyelesaian problem umat melalui jalur politik dengan ikut terjun langsung atau tidak langsung dalam panggung politik dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan mereka.

Diantara mereka ada yang beralasan bahwa tidak mungkin Daulah Islamiyyah akan terwujud kecuali dengan cara merebut kekuasaan melalui jalur politik, yaitu dengan memperbanyak perolehan suara dukungan dan kursi jabatan dalam pemerintahan. Sehingga dengan banyaknya dukungan dan kursi di pemerintahan, syariat Islam bisa diterapkan. Walaupun dalam pelaksanaannya, mereka rela untuk mengadopsi dan menerapkan sistem politik Barat (kufur) yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan Islam.

Mereka sanggup untuk berdusta dengan menyebarkan isu-isu negatif terhadap lawan politiknya. Bila perlu, merekapun sanggup untuk mencampakkan prinsip-prisip Islam yang paling utama dalam rangka untuk memuluskan ambisi mereka, baik melalui acara ‘kontrak politik’ atau yang semisalnya.(1) Bahkan tidak jarang merekapun sanggup untuk berdusta atas nama Ulama Ahlus Sunnah dengan mencuplik fatwa-fatwa para ulama tersebut dan mengaplikasikannya tidak pada tempatnya. Cara ini lebih banyak dipraktekkan oleh kelompok Al-Ikhwanul Muslimun.

Sebagian kelompok lagi beralasan bahwa melalui politik ini akan bisa direalisasikan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa, yaitu dengan menekan dan memaksa mereka menerapkan hukum syariat Islam dan meninggalkan segala hukum selain hukum Islam.
Walaupun sepintas lalu mereka tampak ‘menghindarkan diri’ untuk terjun langsung ke panggung politik demokrasi seperti halnya kelompok pertama, namun ternyata mereka menerapkan cara- cara Khawarij di dalam melaksanakan aktivitas politiknya. Yaitu melalui berbagai macam orasi politik yang penuh dengan provokasi, atau dengan berbagai aksi demonstrasi dengan menggiring anak muda-mudi sebagaimana digiringnya gerombolan kambing oleh penggembalanya.

Kemudian mereka menamakan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan kritik dan kontrol serta koreksi terhadap penguasa, atau terkadang mereka mengistilahkannya dengan amar ma’ruf nahi munkar. Yang ternyata tindakan mereka tersebut justru mendatangkan kehinaan bagi kaum muslimin serta ketidakstabilan bagi kehidupan umat Islam, baik sebagai pribadi muslim ataupun sebagai warga negara di banyak negeri. Dengan ini, semakin pupuslah harapan terwujudnya Daulah Islamiyyah. Cara ini lebih banyak dimainkan oleh kelompok Hizbut Tahrir.

Maka Ahlus Sunnah menyatakan kepada mereka, baik kelompok Al-Ikhwanul Muslimun ataupun Hizbut Tahrir serta semua pihak yang menempuh cara mereka, tunjukkan kepada umat ini satu saja Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian wujudkan dengan cara yang kalian tempuh sepanjang sejarah kelompok kalian. Di Mesir kalian telah gagal total, bahkan harus ditebus dengan dieksekusinya tokoh-tokoh kalian di tiang gantungan atau ditembak mati, dan semakin suramnya nasib dakwah. Di Al-Jazair pun ternyata juga pupus bahkan berakhir dengan pertumpahan darah dan perpecahan.

Atau mungkin kalian akan menyebut Sudan, sebagai Daulah Islamiyyah yang berhasil kalian dirikan, dimana kalian berhasil dalam Pemilu di negeri tersebut. Namun apa yang terjadi setelah itu…? Wakil Presidennya adalah seorang Nashrani, lebih dari 10 orang menteri di kabinet adalah Nashrani. Atau mungkin kalian menganggap itu sebagai kesuksesan di panggung politik di negeri Sudan, ketika kalian berhasil ‘mengorbitkan’ salah satu pembesar kalian di negeri tersebut dan memegang salah satu tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri itu, yaitu Hasan At-Turabi. Apakah orang seperti dia yang kalian banggakan, orang yang berakidah dan berpemikiran sesat?! Simak salah satu ucapan dia: “Aku ingin berkata bahwa dalam lingkup daulah yang satu dan perjanjian yang satu, boleh bagi seorang muslim – sebagaimana boleh pula bagi seorang Nashrani– untuk mengganti agamanya.”(2)

Kami pun mengatakan kepada kelompok Hizbut Tahrir dengan pernyataan yang sama. Bagaimana Allah akan memberikan keberhasilan kepada kalian sementara kalian menempuh cara-cara Khawarij yang telah dikecam keras oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam sekian banyak haditsnya?

Dimana prinsip dan dakwah kalian –wahai Hizbut Tahrir—dibanding manhaj yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam menyampaikan nasehat kepada penguasa, sebagaimana hadits beliau, dari shahabat ‘Iyadh bin Ghunm: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانِ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang hendak menasehati seorang penguasa, maka jangan dilakukan secara terang-terangan (di tempat umum atau terbuka dan yang semisalnya, pent). Namun hendaknya dia sampaikan kepadanya secara pribadi, jika ia (penguasa itu) menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak mau menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Baihaqi. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Imam Al- Albani di dalam Zhilalul Jannah hadits no. 1096)

2. Jenis cara batil yang kedua adalah melalui tindakan atau gerakan kudeta/revolusi terhadap penguasa yang sah, dengan alasan mereka telah kafir karena tidak menerapkan hukum/syariat Islam dalam praktek kenegaraannya. Kelompok pergerakan ini cenderung menamakan tindakan teror dan kudeta yang mereka lakukan dengan nama jihad, yang pada hakekatnya justru tindakan tersebut membuat kabur dan tercemarnya nama harum jihad itu sendiri. Mereka melakukan pengeboman di tempat-tempat umum sehingga tak pelak lagi warga sipil menjadi korban. Bahkan tak jarang di tengah-tengah mereka didapati sebagian umat Islam yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa. Cara-cara seperti ini lebih banyak diperankan oleh kelompok-kelompok radikal semacam Jamaah Islamiyyah, demikian juga Usamah bin Laden –salah satu tokoh Khawarij masa kini— dengan Al-Qaeda-nya beserta para pengikutnya dari kalangan pemuda yang tidak memiliki bekal ilmu syar’i dan cenderung melandasi sikapnya di atas emosi. Cara-cara yang mereka lakukan ini merupakan salah satu bentuk pengaruh pemikiran-pemikiran sesat dari tokoh- tokoh mereka, seperti:
a. Abul A’la Al-Maududi, dimana dia menyatakan: “…Mungkin telah jelas bagi anda semua dari tulisan-tulisan dan risalah-risalah kita bahwa tujuan kita yang paling tinggi yang kita perjuangkan adalah: MENGADAKAN GERAKAN PENGGULINGAN KEPEMIMPINAN. Dan yang saya maksudkan dengan itu adalah untuk membersihkan dunia ini dari kekotoran para pemimpin yang fasiq dan jahat. Dan dengan itu kita bisa menegakkan imamah yang baik dan terbimbing. Itulah usaha dan perjuangan yang bisa menyampaikan ke sana. Itu adalah cara yang lebih berhasil untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan wajah-Nya yang mulia di dunia dan akhirat.” (Al-Ushusul Akhlaqiyyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 16)

Al-Maududi juga berkata: “Kalau seseorang ingin membersihkan bumi ini dan menukar kejahatan dengan kebaikan… tidak cukup bagi mereka hanya dengan berdakwah mengajak manusia kepada kebaikan dan mengagungkan ketakwaan kepada Allah serta menyuruh mereka untuk berakhlak mulia. Tapi mereka harus mengumpulkan beberapa unsur (kekuatan) manusia yang shalih sebanyak mungkin, kemudian dibentuk (sebagai suatu kekuatan) untuk merebut kepemimpinan dunia dari orang-orang yang kini sedang memegangnya dan mengadakan revolusi.” (Al-Ususul Akhlaqiyah lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 17-18)

b. Sayyid Quthb. Pernyataan Sayyid Quthb dalam beberapa karyanya yang mengarahkan dan menggiring umat ini untuk menyikap lingkungan dan masyarakat serta pemerintahan muslim sebagai lingkungan, masyarakat, dan pemerintahan yang kafir dan jahiliyah. Pemikiran ini berujung kepada tindakan kudeta dan penggulingan kekuasaan sebagai bentuk metode penyelesaian problema umat demi terwujudnya Khilafah Islamiyyah.
Metode berpikir seperti tersebut di atas disuarakan pula oleh tokoh-tokoh mereka yang lainnya seperti Sa’id Hawwa, Abdullah ‘Azzam, Salman Al-‘Audah, DR. Safar Al-Hawali, dan lain-lain.(3)

Buku-buku dan karya-karya mereka telah tersebar luas di negeri ini, yang cukup punya andil besar dalam menggiring para pemuda khususnya untuk berpemikiran radikal serta memilih cara- cara kekerasan untuk mengatasi problematika umat ini dan menggapai angan yang mereka canangkan. Maka wajib bagi semua pihak dari kalangan muslimin untuk berhati-hati dan tidak mengkonsumsi buku fitnah karya tokoh-tokoh Khawarij.

Demikian juga buku-buku kelompok Syi’ah Rafidhah yang juga syarat dengan berbagai provokasi kepada umat ini untuk melakukan berbagai aksi dan tindakan teror terhadap penguasa. Mudah- mudahan Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada pemerintah kita agar mereka bisa mencegah peredaran buku-buku sesat dan menyesatkan tersebut di tengah-tengah umat, demi terwujudnya stabilitas keamanan umat Islam di negeri ini.

Khilafah Islamiyyah bukan Tujuan Utama Dakwah para Nabi
Dari penjelasan-penjelasan di atas jelas bagi kita, bahwa banyak dari kalangan aktivis pergerakan-pergerakan Islam yang menyatakan bahwa permasalahan Daulah Islamiyyah merupakan permasalahan yang penting, bahkan terpenting dalam masalah agama dan kehidupan.

Dari situ muncul beberapa pertanyaan besar yang harus diketahui jawabannya oleh setiap muslim, yaitu: Apakah penegakan Daulah Islamiyyah adalah fardhu ‘ain (kewajiban atas setiap pribadi muslim) yang harus dipusatkan atau dikosentrasikan pikiran, waktu, dan tenaga umat ini untuk mewujudkannya?
Kemudian: Benarkah bahwa tujuan utama dakwah para nabi adalah penegakan Daulah Islamiyyah?

Maka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, mari kita simak penjelasan para ulama besar Islam berikut ini.
Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardi berkata di dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyah: “…Jika telah pasti tentang wajibnya (penegakan) Al-Imamah (kepemerintahan/kepemimpinan) maka tingkat kewajibannya adalah fardhu kifayah, seperti kewajiban jihad dan menuntut ilmu.” Sebelumnya beliau juga berkata: “Al-Imamah ditegakkan sebagai sarana untuk melanjutkan khilafatun nubuwwah dalam rangka menjaga agama dan pengaturan urusan dunia yang penegakannya adalah wajib secara ijma’, bagi pihak yang berwenang dalam urusan tersebut.” (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)

Imamul Haramain menyatakan bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan jenis permasalahan furu’. (Al-Ahkam As-Sulthaniyah, hal. 5-6)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Maka anda melihat pernyataan mereka (para ulama) tentang permasalahan Al-Imamah bahwasanya ia tergolong permasalahan furu’, tidak lebih sebatas wasilah (sarana) yang berfungsi sebagai pelindung terhadap agama dan politik (di) dunia, yang dalil tentang kewajibannya masih diperselisihkan apakah dalil ‘aqli ataukah dalil syar’i…. Bagaimanapun, jenis permasalahan yang seperti ini kondisinya, yang masih diperselisihkan tentang posisi dalil yang mewajibkannya, bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa masalah Al-Imamah ini merupakan puncak tujuan agama yang paling hakiki?”

Demikian jawaban dari pertanyaan pertama. Adapun jawaban untuk pertanyaan kedua, mari kita simak penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :
“Sesungguhnya pihak-pihak yang berpendapat bahwa permasalahan Al-Imamah merupakan satu tuntutan yang paling penting dalam hukum Islam dan merupakan permasalahan umat yang paling utama (mulia) adalah suatu kedustaan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun dari kalangan Syi’ah (itu sendiri). Bahkan pendapat tersebut terkategorikan sebagai suatu kekufuran, sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perma-salahan yang jauh lebih penting daripada perma-salahan Al-Imamah. Hal ini merupakan permasalahan yang diketahui secara pasti dalam dienul Islam.” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)
Kemudian beliau melanjutkan:
“…Kalau (seandainya) demikian (yakni kalau seandainya Al-Imamah merupakan tujuan utama dakwah para nabi, pent), maka (mestinya) wajib atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk menjelaskan (hal ini) kepada umatnya sepeninggal beliau, sebagaimana beliau telah menjelaskan kepada umat ini tentang permasalahan shalat, shaum (puasa), zakat, haji, dan telah menentukan perkara iman dan tauhid kepada Allah Ta’ala serta iman pada hari akhir. Dan suatu hal yang diketahui bahwa penjelasan tentang Al-Imamah di dalam Al Qur`an dan As Sunnah tidak seperti penjelasan tentang perkara-perkara ushul (prinsip) tersebut… Dan juga tentunya Diantara perkara yang diketahui bahwa suatu tuntutan terpenting dalam agama ini, maka penjelasannya di dalam Al Qur`an akan jauh lebih besar dibandingkan masalah-masalah lain. Demikian juga penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam terntang permasalahan (Al-Imamah) tersebut akan lebih diutamakan dibandingkan permasalahan-permasalahan lainnya. Sementara Al Qur`an dipenuhi dengan penyebutan (dalil-dalil) tentang tauhid kepada Allah Ta’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tanda-tanda kebesaran-Nya, tentang (iman) kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir. Dan tentang kisah-kisah (umat terdahulu), tentang perintah dan larangan, hukum-hukum had dan warisan. Sangat berbeda sekali dengan permasalahan Al-Imamah. Bagaimana mungkin Al Qur`an akan dipenuhi dengan selain permasalahan-permasalahan yang penting dan mulia?” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyah, 1/16)

Setelah kita membaca penjelasan ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas, lalu coba kita bandingkan dengan ucapan Al-Maududi, yang menyatakan bahwa:
1. Permasalahan Al-Imamah adalah inti permasalahan dalam kehidupan kemanusiaan dan merupakan pokok dasar dan paling mendasar.
2. Puncak tujuan agama yang paling hakiki adalah penegakan struktur Al-Imamah (kepemerintahan) yang shalihah dan rasyidah.
3. (Permasalahan Al-Imamah) adalah tujuan utama tugas para nabi.

Menanggapi hal itu, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata: “Sesungguhnya permasalahan yang terpenting adalah permasalahan yang dibawa oleh seluruh para nabi –alaihimush shalatu was salaam- yaitu permasalahan tauhid dan iman, sebagaimana telah Allah simpulkan dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
“Dan sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap umat seorang rasul (dengan tugas menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah (saja) dan jauhilah oleh kalian thagut.” (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rasul-pun kecuali pasti kami wahyukan kepadanya: Sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Aku, maka beribadahlah kalian semuanya (hanya) kepada-Ku.” (Al-Anbiya`: 25)

وَلَقَدْ أُوْحَي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Sungguh telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) yang sebelummu (bahwa) jika engkau berbuat syirik niscaya akan batal seluruh amalanmu dan niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

Inilah permasalahan yang terpenting yang karenanya terjadi permusuhan antara para nabi dengan umat mereka, dan karenanya ditenggelamkan pihak-pihak yang telah ditenggelamkan… Dan sesungguhnya puncak tujuan agama yang paling hakiki dan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta tujuan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab suci adalah peribadatan kepada Allah (tauhid), serta pemurnian agama hanya untuk-Nya… Sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُيْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat: 56)

الر، كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ. أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ
“Aliif Laam Raa. (Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya.” (Hud: 1-2)

Demikian tulisan ini kami sajikan sebagai bentuk nasehat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote :
1. Untuk lebih jelasnya tentang berbagai sepak terjang mereka yang menyimpang dalam politik, pembaca bisa membaca kitab Madarikun Nazhar fi As-Siyasah karya Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani; dan kitab Tanwiiruzh Zhulumat bi Kasyfi Mafasidi wa Syubuhati Al-Intikhabaat oleh Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam.
2. Ucapan ini dinyatakan di Universitas Khurthum, seperti dinukil oleh Ahmad bin Malik dalam Ash-Sharimul Maslul fi Raddi ‘ala At-Turabi Syaatimir Rasul, hal 12.
3. Tiga tokoh terakhir ini yang banyak berpengaruh dan sangat dikagumi oleh seorang teroris muda berasal dari Indonesia, bernama Imam Samudra.

Iklan

40 Tanggapan to “Cara-Cara Batil Menegakkan Daulah Islamiyah”

  1. catatanpinggirhati said

    lha di indonesia gimana? kalo tata cara pemilihan pemimpinnya saja sudah berhukum dengan hukum demokrasi, apakah masih layak kalian menyebutnya “pemimpin kami” wahai kalian irja’i?

    • assahab said

      Kita bisa melihat apa yang terjadi selama ini di Indonesia, apakah demokrasi yang selama ini di gembar-gemborkan telah berhasil mensejahterakan ummat? Bukan rahmat yang di dapat, akan tetapi bala’ dan bencana yang menimpa, selain itu ikut sertadalam demokrasi sama halnya dengan bertasyabuh dengan orang kafir.
      Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

      “Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah belah dan beselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas ……”.[Ali-Imran : 105].

      Dan firman-Nya pula.

      “Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah ….”.[Ali-Imran : 103].

      Allohu A’lam

  2. catatanpinggirhati said

    bukan demokrasinya yang saya permasalahkan karena saya yakin kita sepakat dengan keharaman dan syiriknya demokrasi. yang ingin saya dengar adalah bagaimana sikap kalian terhadap pemerintah indonesia secara umum dan presidennya secara khusus?

    • assahab said

      Suatu saat Syeikh Bin Baz pernah ditanya oleh seseorang :
      Ada pendapat yang mengatakan bahwa dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh penguasa adalah dasar diperbolehkannya kita melakukan pemberontakan kepadanya dan merupakan alasan wajibnya mengubah keadaan meskipun menimbulkan mudhorot bagi kaum muslimin. Bagaimana hal itu menurut pandangan syeikh ?

      Jawab beliau :
      Sesungguhnya Allah telah berfirman dalam kitabNya :
      “Artinya :
      Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa : 59]

      Ayat diatas menegaskan wajibnya mentaati waliyul amri, yaitu umara’ dan ulama. Dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak dijelaskan bahwa mentaati waliyul amri dalam perkara ma’ruf merupakan kewajiban.

      Nash-nash hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mentaati waliyul amri adalah ketaatan dalam perkara ma’ruf bukan dalam perkara maksiat. Mereka tidak boleh mentaati penguasa jika mereka diperintahkan berbuat maksiat. Akan tetapi mereka tidak boleh memberontak penguasa karenanya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      “Artinya : Barangsiapa melihat sebuah perkara maksiat pada diri-diri pemimpinnya, maka hendaknya ia membenci kemaksiatan yang dilakukannya dan janganlah ia membangkang pemimpinnnya. Sebab barangsiapa melepaskan diri dari jama’ah lalu mati, maka ia mati secara jahiliyah”
      Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      “Artinya : Seorang muslim wajib patuh dan taat (kepada umara’) dalam saat lapang maupun sempit, pada perkara yang disukainya ataupun dibencinya selama tidak diperintah berbuat maksiat, jika diperintah berbuat maksiat, maka tidak boleh patuh dan taat”.

      Nah sekarang dalam keadaan yang bagaimanakah kaum muslimin diperbolehkan untuk memberontak kepada penguasa ?. Yaitu apabila mereka dapat melihat pada diri penguasa mereka kekufuran yang nyata dan mereka memiliki hujah atas kekufurannya dari Alloh (Al-Qur’an dan Sunnah) Berdasarkan riwayat:
      Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu menuturkan : “Kami memba’iat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kami tidak merampas kekuasaan dari pemiliknya” Beliau melanjutkan : “Kecuali kalian lihat pada diri penguasa itu kekufuran yang nyata dan kamu memiliki hujjah atas kekufurannya dari Allah [Al-Qur’an dan As-Sunnah]”

      Jadi kesimpulannya adalah :
      Kita diwajibkan untuk patuh dan taat kepada pemimpin selama dalam hal yang ma’ruf. Baik kepada pemerintahannya secara umum, maupun personnya secara khusus, dalam hal ini adalah presiden.

      Allohu A’lam

  3. Aminuddin said

    Assalamualaikum wr wb

    Saya kira nash-nash dari Haditsh di atas memiliki potensi untuk ditafsirkan berbeda sesuai dengan manhaj dakwah yang ditempuh oleh masing-masing pengemban dakwah. Bagi mereka yang pro status quo bisa menggunakan hadisth tersebut untuk menjustifikasi bahwa dakwah untuk mengembalikan daulah islamiyah dengan cara membongkar kerusakan-kerusakan pemimpin di negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia adalah suatu hal yang dilarang. Apatah lagi misalnya itu dilakukan di Arab Saudi yang dikuasai oleh Ibnu Saud dan keluarganya, maka itu termasuk bughat. Tapi bagi mereka yang berpendapat bahwa kerusakan sudah demikian parah sehingga diperlukan upaya dakwah ideologis agar masyarakat menyadari bahwa tugas mereka tidak hanya menjadi mukmin dan muslim dalam tataran individu tapi juga untuk menyegarakan kehidupan berlandaskan islam secara kaaffah, maka nash-nash di atas juga bisa menjustifikasinya.
    Intinya marilah kita sama-sama berjuang ikhlas filllah sambil bergandengan tangan untuk menerapkan islam di dunia ini berlandaskan aqeedah islam.

  4. catatanpinggirhati said

    “Jadi kesimpulannya adalah :
    Kita diwajibkan untuk patuh dan taat kepada pemimpin selama dalam hal yang ma’ruf. Baik kepada pemerintahannya secara umum, maupun personnya secara khusus, dalam hal ini adalah presiden.”

    nah ini anehnya. antum kata, atau ustadz antum, demokrasi haram, syirik. lha sarana yang bathil itu kok bisa antum justifikasi sebagai sahnya kepemimpinan dia? bukankah islam juga memiliki tata cara pemilihan pemimpin tersendiri?

    terus, si presiden antum, pernah bilang bahwa dirinya seorang pluralis. tahu antum apa itu pluralis? pengikut pluralisme. apa kedudukan pluralisme bagi antum? bagi ana, itu sudah merupakan ad din. maka islam ada di lembah yang satu, sedang pluralisme berada di lembah yang lain. pun demikian dengan muslim dan pluralis. seseorang tidak bisa dikatakan islam sementara pada saat yang sama mengaku sebagai pluralis. bagi ana, presiden antum sudah kafir oleh karena sebab ini. sebab yang lain, restunya terhadap penyelenggaraan hukum thoghut warisan belanda sudah cukup menjadikan dia sebagai thoghut. jika dibilang ia tidak kuasa merubah, apa fungsinya, kemudian, posisi dirinya sebagai pemimpin? jangan-jangan cuma boneka mainannya amrik. dan jika ini yang terjadi, muncul pula putusan ketiga atas kekafirannya. mengambil alih kekuasaan dari orang kafir, sejauh pemahaman saya, justru diwajibkan.

    • assahab said

      Dalam hal takfir (mengkafirkan seseorang) kita harus sangat hati-hati dan tidak boleh sembarangan sebab tempat kembalinya adalah Alloh dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak setiap perkataan atau perbuatan yang disebut kufur, berarti kufur akbar yang mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Karena sumber penetapan hukum pengkafiran kembalinya kepada Allah dan RasulNya, maka kita tidak boleh mengkafirkan seseorang, kecuali jika Al-Qur’an dan Sunnah telah membuktikan kekafirannya dengan bukti yang jelas. Maka (mengkafirkan orang) tidak cukup hanya berdasarkan syubhat dan dugaan-dugaan saja, sebab akan berakibat pada konsekwensi hukum-hukum yang berbahaya.

      Itulah sebabnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya agar jangan sampai menghukumi kafir kepada seseorang yang tidak kafir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

      “Artinya : Siapapun orang yang mengatakan kepada saudaranya ‘Hai Kafir’, maka perkataan itu akan mengeneai salah satu diantara keduanya. Jika perkataannya benar, (maka benar). Tetapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang yang mengatakannya” [Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu Umar].

      Kadang di dalam Al-Qur’an dan Sunnah terdapat nash yang dapat difahami darinya, bahwa perkataan ini, perbuatan itu atau keyakinan itu adalah kufur, tetapi orang yang melakukannya tidak kafir, disebabkan adanya penghalang yang menghalangi kekafirannya. Hukum pengkafiran ini, sama seperti hukum-hukum lainnya. Yaitu tidak akan terjadi, kecuali jika sebab-sebab serta syarat-syaratnya ada 4 dan penghalang-penghalangnya tidak ada. Umpamanya dalam masalah waris. Sebabnya (misalnya) adalah adanya hubungan kerabat. Kadang-kadang seseorang (yang mempunyai hubungan kerabat) tidak bisa mewarisi disebabkan oleh adanya penghalang, yaitu perbedaan agama. Begitu pula masalah kekafiran. Seorang mukmin dipaksa melakukan perbuatan kufur misalnya, maka ia tidak kafir karenanya.

      Kadang seorang muslim mengucapkan kalimat kufur disebabkan oleh kesalahan lidah karena sangat gembiranya, atau sangat marahnya atau karena sebab-sebab lainnya. Iapun tidak kafir karenanya. Sebab ia tidak sengaja mengucapkannya. Seperti kisah orang yang suatu saat kehilangan ontanya. Ia mengatakan : “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu”, maka dia tidak kafir diakibatkan kesalahan pengucapannya. Dia salah mengucapkan kalimat itu karena sangat gembiranya (menemukan ontanya yang hilang ditengah kesendiriannya).[Hadits Shahih Riwayat Muslim, dari sahabat Anas bin Malik]

      Tergesa-gesa menghukumi kafir terhadap seseorang akan mengakibatkan banyak perkara yang berbahaya. Di antaranya menghalalkan darah dan harta Muslim, dilarangnya saling mewarisi, pembatalan pernikahan dan lain-lain yang merupakan konsekwensi hukum-hukum orang murtad. Jadi bagaimana mungkin seorang mukmin boleh lancang menetapkan hukum kafir hanya berdasarkan syubhat yang sangat sederhana sekalipun ?

      Dan apabila ternyata (tuduhan kafir) ini ditujukan kepada para penguasa maka persoalannya jelas lebih parah lagi. Sebab akibatnya akan menimbulkan sikap pembangkangan terhadap penguasa, angkat senjata melawan mereka, menebarkan isu kekacauan, mengalirkan darah dan membuat kerusakan terhadap manusia dan negara.

      Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penentangan kepada penguasa. Beliau bersabda.

      “Artinya : … Kecuali bila kalian lihat kekafiran yang nyata (bawaah), yang tentangnya kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah” [Muttafaq ‘alaih, dari Ubadah]

      Hadits di atas mengandung makna :

      a. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (kecuali jika kalian lihat), memberikan pengertian bahwa tidak cukup (pengkafiran) hanya berdasarkan dugaan dan isu.

      b. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (kekafiran), memberikan pengertian bahwa tidak cukup (penentangan terhadap penguasa, -red) hanya karena fasiknya penguasa, walau kefasikannya besar seperti zhalim, meminum khamr, berjudi dan dominan berbuat perkara haram.

      c. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (nyata), memberikan pengertian bahwa tidaklah cukup kekafiran yang tidak nyata. Arti (bawaah) ialah jelas dan nyata.

      d. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (kalian memiliki bukti jelas mengenai kekafiran yang nyata dari Allah). Ini memberikan pengertian bahwa pengkafiran harus berdasarkan dalil yang sharih (jelas dan terang). Dalil itu harus shahih adanya dan sharih (jelas dan terang) pembuktiannya. Sehingga tidak cukup bila dalil itu lemah sanadnya atau tidak tegas pembuktiannya.

      e. Kemudian sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dari Allah), memberikan pengertian bahwa perkataan ulama manapun (dalam pengkafiran, -red) tidak bisa dianggap, meski betapapun tinggi ilmu dan sikap amanahnya, apabila perkataannya tidak berdasarkan dalil yang sharih (nyata dan terang) pembuktiannya dan shahih berasal dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Tentang demokrasi yang notabene adalah produk yang berasal dari barat. Kita tidak bisa memvonis bahwa orang yang melakukannya lantas dihukumi kafir. sebab kufur itu ada 2 yaitu kufur I’tiqoodi (keyakinan) dan kufur amali (amal). Kalau kita sembarang melakukannya maka apa bedanya kita dengan khawarij. Kita belum tahu pada diri pemimpin itu apakah ia menganggap hukum Islam lebih baik ataukah sebaliknya. Apabila pada diri pemimpin itu ia berkeyakinan bahwa hukum Alloh dan RasulNya yang lebih baik, tetapi ia melakukan demokrasi dan berhukum dengan hukum buatan manusia maka ia tergolong kufur amali yang berarti kufur dunna kufrin (kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam). Jadi selama ia muslim dan masih menjalankan sholat 5 waktu meskipun ia menggunakan undan-undang buatan barat dan melaksanakan demokrasi, maka selama itu harus kita ta’ati karena prilaku kufur yang dilakukannya tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (kufrun dunna kufrin).

      Antum berkata “bagi ana, presiden antum sudah kafir oleh karena sebab ini. sebab yang lain, restunya terhadap penyelenggaraan hukum thoghut warisan belanda sudah cukup menjadikan dia sebagai thoghut. jika dibilang ia tidak kuasa merubah, apa fungsinya, kemudian, posisi dirinya sebagai pemimpin? jangan-jangan cuma boneka mainannya amrik. dan jika ini yang terjadi, muncul pula putusan ketiga atas kekafirannya. mengambil alih kekuasaan dari orang kafir, sejauh pemahaman saya, justru diwajibkan”.

      Maka dalam hal ini Syeikh Albani pernah berkata:
      bahwa anggaplah penguasa itu benar-benar kafir murtad, lalu apakah yang bisa kalian perbuat ? Orang-orang kafir itu telah menguasai negeri-negeri Islam, sedang kita di sini menghadapi musibah dijarahnya tanah Palestina oleh orang-orang Yahudi! Lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap mereka ? Apa yang dapat kalian lakukan hingga kalian dapat menyelesaikan masalah kalian dengan para penguasa yang kalian anggap kafir itu !? Tidaklah lebih baik kalian sisihkan dulu persoalan ini dan memulai kembali dengan peletakkan asas yang di atas asas itulah pemerintahan Islam akan tegak! Yaitu ‘ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di atas sunnah itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing sahabat-sahabat beliau! Itulah istilah yang sering kami sebutkan dalam berbagai kesempatan seperti ini yaitu setiap jama’ah Islam wajib berusaha sungguh-sungguh menegakkan kembali hukum Islam, bukan saja di negeri Islam bahkan di seluruh dunia. Dalam mewujudkan firman Allah :

      “Artinya : Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci” [Ash-Shaff : 9]

      Maka dari itu kewajiban kita sebagai rakyat adalah patuh kepada penguasa dan bersama sama mengokohkan iman dan taqwa kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan berjalan diatas manhaj yang haq berdasarkan Al-Qur’an dan sennah sesuai dengan pemahaman salaful ummah.

      Allohu A’lam

  5. catatanpinggirhati said

    “Kita belum tahu pada diri pemimpin itu apakah ia menganggap hukum Islam lebih baik ataukah sebaliknya. Apabila pada diri pemimpin itu ia berkeyakinan bahwa hukum Alloh dan RasulNya yang lebih baik, tetapi ia melakukan demokrasi dan berhukum dengan hukum buatan manusia maka ia tergolong kufur amali yang berarti kufur dunna kufrin (kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam). Jadi selama ia muslim dan masih menjalankan sholat 5 waktu meskipun ia menggunakan undan-undang buatan barat dan melaksanakan demokrasi, maka selama itu harus kita ta’ati karena prilaku kufur yang dilakukannya tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam (kufrun dunna kufrin).”

    ya dibelah saja dadanya, biar antum tahu benar bagaimana pendapatnya tentang syariat islam. saya dukung benar itu. karena setelah itu, dia kan mati.

    tentang kufur amali, (agak kaget saya, mengingat biasanya antum hanya mencukupkan iman pada lisan dan hati), kebayang ndak kalau sebenarnya antum memaksakan diri untuk membenarkan apa yang ada pada pemimpin antum itu. saya jadi ragu, antum dah tahu belum soal thoghut? silakan dibaca. banyak literatur berbicara soal itu. jangan hanya terkungkung dengan orang2 yang selalu condong pada pemerintah. ingat, rasulullah memperingatkan kita dari ulama yang dekat dengan penguasa.

    • assahab said

      Tampaknya antum belum membaca dengan baik jawaban saya yang sebelumnya. Apakah yang terjadi ketika kita belah dadanya ternyata ia adalah seorang mukmin yang taat, bahkan taatnya melebihi antum. Tentunya itu adalah suatu kedzoliman yang besar karena itu berarti membunuh sesama muslim. Padahal Alloh dan RasulNya mengharamkan darah sesama muslim kecuali yang dibenarkan atas dasar dalil-dalil syariat (Al-Qur’an dan sunnah).

      Berhati-hatilah dalam menghukumi seseorang yang dilakukan tanpa dasar ilmu dari Al Qur’an dan sunnah, karena itu hanya akan menjerumuskan kepada pertengkaran dan permusuhan.
      Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

      “Artinya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” [An-Nisa’ : 93]

      “Artinya : Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa : barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain (hukum qishas) atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” [1] [Al-Maidah : 32]

      Mujahid Rahimahullah berkata : “ ….Ayat ini menunjukkan betapa besarnya (dosa) membunuh jiwa tanpa alasan yang benar”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

      “Artinya : Tidak halal darah seseorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali (karena) tiga perkara : jiwa dengan jiwa, pezina yang sudah menikah dan orang yang keluar dari agama Islam, meninggalkan jama’ah” [Muttafaqun ‘alaihi dan ini lafadh Bukhari]

      Tentang iman, antum salah dalam memahami makna iman. Tidak ada satupun generasi salaf maupun ulama Ahlussunnah yang mengatakan bahwa iman cukup dihati dan lisan. Disini akan saya nukilkan perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

      Suatu saat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :
      “Bagaimana pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ?

      Beliau menjawab :
      Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

      [1] Ikrar dengan hati.
      [2] Pengucapan dengan lisan.
      [3] Pengamalan dengan anggota badan

      [Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, hal 50-52 Pustaka At-Tibyan]

      Segala sesuatu haruslah didasarkan pada ilmu dari Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman yang benar (salaf), bukan berdasarkan prasangka dan hawa nafsu, sebab prasangka dan hawa nafsu hanya akan menjerumuskan manusia.
      Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

      “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

      Allohu A’lam

  6. catatanpinggirhati said

    nah, sekarang antum bingung kan bagaimana menyikapi pemimpin indonesia negeri pancasila ini. dibelah dadanya mati. nggak dibelah, bingung pula bagaimana sikapnya sebenarnya terhadap islam. gini nih kalo terlalu memaksakan diri untuk tahu persis bagaimana sikap seseorang terhadap islam berdasarkan hatinya. dah lah, yang gampang-gampang saja (bukan berarti menggampangkan). kita lihat bagaimana tindak tanduknya, bagaimana perkataannya, serta dalam kondisi apa dia melakukan keduanya (bertindak dan berbicara tersebut). ia berhukum kepada thoghut dan memaksakan hukum tersebut kepada manusia indonesia. ia pengikut thoghut sekaligus thoghut itu sendiri. apakah ia terpaksa dalam melakukannya? siapa yang berani memaksa seorang yang paling berkuasa di suatu negeri? dikatakan bahwa ia juga mengklaim diri sebagai pluralis, maka itu jelas kekufuran karena pluralisme adalah agama. sumber dari berita ini ada di majalah suara mujahidin. apakah ini kurang jelas? antum barangkali yang bermasalah dalam penglihatan.

    ndak pa pa, saya dianggap tak berilmu, hanya sekedar karena saya kurang pandai dalam menukil kalimat si fulan, pernyataan si fulan dengan persis. padahal, kalau antum tahu, saya kategorikan pluralisme sebagai agama menurut penuturan seorang berilmu, lengkapnya namanya Dr. Anis Malik Toha. silakan antum baca disertasi doktoral beliau yang sudah diterbitkan oleh anak perusahaan GIP. sedang kebanyakan manusia, justru menganggapnya ringan2 saja. mereka bisa dengan mudahnya mengikuti ajaran tersebut dan pada saat yang sama mengaku masih muslim. lantaran mereka masih sholat. apakah pasukan mongol dahulu tidak sholat? sebagiannya sudah bersyahadat. namun demikian, syaikhul islam justru menyatakan untuk membunuh dirinya seandainya beliau ada di barisan pasukan mongol dan di atas kepala beliau ada al qur’an.

    open your eyes!

    • assahab said

      Kenapa harus bingung. Semua sangat jelas diterangkan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang shohih dan mu’tabar. Justru antum yang bingung sebab semua didasarkan pada prasangka dan akal semata tanpa dasar ilmu dari Al-Quran dan sunnah.

      Dalam hal agama kita dilarang untuk berta’asub dan taqlid kepada pendapat seseorang tanpa kita ketahui apa dasar pendapatnya. Apakah pendapatnya itu didasarkan kepada Al-haq atau bukan (timbangannya adalah Al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat). Selain itu dari segi pendalilanya pun dia harus memenuhi kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan.

      Sebelum mengambil pendapat seseorang kita tidak boleh sembarangan.Harus mengetahui terlebih dahulu apa manhajnya, bagaimana aqidahnya, tingkat keilmuan dan kealimannya dan lain-lain, karena itu akan mempengaruhi pola fikirnya. Jangan hanya karena didepan namanya tertulis title doktor lantas apa-apa yang menjadi pendapatnya kita ambil.

      Barakallohu fiikum

  7. catatanpinggirhati said

    Pemerintah Indonesia telah kafir dan berlaku hukum-hukum murtad bagi mereka karena alasan-alasan di antaranya sebagai berikut:

    Pertama: Indonesia membuat Undang-Undang Negara sendiri sebagai dasar hukum dan tidak menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber hukum.

    Kedudukan Pancasila dalam negara RI:
    Kegunaan dan penerapan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika selain memiliki fungsi utama sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Pancasila juga mendapat sebutan/predikat antara lain :
    1. Sebagai jiwa dan kepribadian bangsa, berarti Pancasila memberikan corak yang khas bagi bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Nilai-nilai Pancasila mungkin saja dimiliki bangsa-bangsa di dunia ini, tetapi kelima sila merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
    2.Sebagai tujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia, yaitu masyarakat adil dan makmur merata materiil dan spirituil.
    3.Sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia, berarti Pancasila disetujui oleh wakil-wakil rakyat menjelang dan sesudah proklamasi. Disetujui karena digali dari nilai luhur budaya bangsa, sesuai dengan kepribadian bangsa dan telah teruji kebenarannya.
    4.Sebagai idiologi nasional.
    5.Sebagai sumber dari segala sumber hukum.
    Dasar hukum Pancasila sebagai Dasar Negara adalah Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, sedang dasar hukum Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum yang tertinggi adalah Tap MPR No. III/MPR/2000. (LKS MGMP PPKn KARESIDENAN SURAKARTA, Arakhman, hal. 22)

    Sedangkan bentuk-bentuk Peraturan Perundangan Republik Indonesia menurut UUD 1945 ialah sebagai berikut:
    1.Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945,
    2.Ketetapan MPR,
    3.Undang-Undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang,
    4.Peraturan Pemerintah,
    5.Keputusan Presiden dan
    6.Peraturan-peratiran lainnya seperti
    – Peraturan Menteri
    – Intruksi Menteri dan lain-lain.
    Sesuai dengan sistim seperti yang dijelaskan dalam Penjelasan authentik Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 adalah bentuk peraturan yang tertinggi, yang menjadi dasar dan sumber dari semua peraturan-Perundangan yang berlaku, yang lebih tinggi tingkatnya (Beberapa Problem Hukum hal. 92 Dr. Mas Subagio S.H.)

    Dalil-dalil atas kufurnya adalah sebagai berikut:
    Sesungguhnya nash-nash syari’at telah menunjukkan bahwa siapa yang menetapkan undang-undang untuk manusia selain hukum Allah dan mewajibkan mereka untuk berhukum dengannya, ia telah melakukan kafir akbar dan keluar dari milah, berdasarkan beberapa dalil berikut ini :

    1. Di antaranya firman Allah :
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيـــــلاً
    “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di an-tara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An Nisa’ :59].
    Ayat yang mulia ini telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengembalikan urusan mereka saat terjadi perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini menerangkan bahwa mereka tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya jika tidak melakukan perintah ini. Sebabnya adalah karena ayat ini menjadikan pengembalian urusan kepada Allah dan Rasul-Nya –sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qayyim–, “Sebagai tuntutan dan kewajiban dari iman. Jika pengembalian urusan kepada Allah dan Rasul-Nya ini hilang maka hilang pulalah iman, sebagai bentuk hilangnya malzum (akibat) karena lazimnya (sebabnya) telah hilang. Apalagi antara dua hal ini merupakan sebuah kaitan yang erat, karena terjadi dari kedua belah pihak. Masing-masing hal akan hilang dengan hilangnya hal lainnya…” (I’lamul Muwaqi’in I/84)

    Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Maksudnya kembalikanlah perselisihan dan hal yang kalian tidak ketahui kepada kitabullah dan sunah Rasulullah. Berhukumlah kepada keduanya atas persoalan yang kalian perselisihkan ” Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”. Hal ini menunjukkan bahwa siapa tidak berhukum kepada Al Qur’an dan As Sunah serta tidak kembali kepada keduanya ketika terjadi perselisihan maka ia tidak beriman kepada Allah dan tidak juga beriman kepada hari akhir.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim I/519)

    Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam risalah tahkimul qawanin mengatakan, “Perhatikanlah ayat ini…bagaimana Allah menyebutkan kata nakirah yaitu “perkara” dalam konteks syarat yaitu firman Allah “Jika kalian berselisih” yang menunjukkan keumuman (sehingga artinya menjadi segala perkara-pent.)…lalu perhatikanlah bagaimana Allah menjadikan hal ini sebagai syarat adanya iman kepada Allah dan hari akhir dengan firman-Nya “Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Risalatu Tahkimi Al Qawanin hal. 6-7)

    kalau masih berminat, ana sambung.

    nb: bukannya antum yang–maaf–picik dalam mengambil ilmu? antum hanya mau mengambil ilmu dari orang2 semacam ust. lukman ba’abduh yang menurut abduh zulfidar akaha dalam bukunya belajar dari akhlaq ustadz salafi cenderung membesar-besarkan masalah, menambah-nambah ketebalan halaman buku, dan akhlaq-akhlaq lain yang kurang bisa disandangkan kepada seseorang yang mengaku bermanhaj salaf, para pendahulu ummat yang mulia. ust ali ghufron bahkan mengomentari buku beliau–ust lukman ba’abduh–sebagai luapan kebencian yang telah lama bergejolak semenjak di Yaman–kalau tak salah, afwan atas lemahnya ingatan saya. sementara ustadz2 lain yang telah diblacklist kelompok antum, akan dengan sekuat tenaga antum tolak pendapatnya. bukankah demikian yang terjadi?

    saya ambil pendapat beliau–Dr. Anis Malik Toha–bukan sekedar karena pada nama beliau terdapat titel doktor. lagi pula, apakah salah jika kita mengambil dari seseorang dengan titel doktor? banyak doktor-doktor lain, namun tak semua saya ambil pendapatnya. saya ambil pendapat beliau, karena isi dalam kandungan buku tersebut memang dibuat dalam pandangan islam. beliau sendiri menyatakan bahwa adalah hal yang mustahil untuk bersikap objektif. semua pendapat adalah subjektif, pencetusnya pastilah bersandar pada dasar-dasar tertentu, dan beliau memandang fenomena pluralisme dari sudut pandang islam yang justru banyak dicela apabila hal ini dilakukan di luar negeri sana (luar negeri dari dunia islam). bukankah pada akhirnya mereka juga berapologi dengan memaksakan pandangan mereka untuk memandang islam?

    ngomong2, antum sudah baca buku tersebut? kalau belum, antum bisa kena dosa ghibah lho! atau barangkali antum menganggap beliau musuh? kali aja ada pengikut antum yang memimpikan antum makan bangkai ular. (baca tentang mimpi seorang murid dari ustadz salafi yang memimpikan murobbinya memakan bangkai ular di arrahmah.com atau buku karangan ustadz ali ghufron.

  8. catatanpinggirhati said

    oh ya, ada yang lupa, selain bagian “nb” ke bawah ana kutip tulisan di atas dari sebuah tulisan (softcopy) berjudul “indonesiaku sayang indonesiaku malang” karangan “usyaqul hur”. ana punya softcopynya, kalau mau bisa ana kirim lewat e-mail. syukron.

    • assahab said

      Sebelumnya silahkan baca postingan saya pada kategori Al-Irhab (terorisme). Disitu banyak artikel yang membahas tentang pengkafiran, aksi anarkis seperti pengeboman, penculikan dan lain-lain dengan mengatasnamakan jihad yang banyak dilakukan oleh kaum khawarij dan banyak kelompok-kelompok Islam lainnya. Semua dibahas oleh ulama-ulama yang faqih dalam bidangnya seperti Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan ulama Ahlussunnah lainnya.

      Kalau yang antum maksud dengan “Ustad Ali Gufron” itu adalah seorang pelaku bom Bali itu, maka tidak syak lagi bahwa ia adalah seorang khawarij yang menghalalkan darah sesama kaum muslimin dan melakukan perusakan dan menebarkan teror di negara ini serta mengkafirkan penguasa dengan seenak mulutnya sendiri. Apakah ia tidak pernah membaca ayat :

      “Artinya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” [An-Nisa’ : 93]

      Imam Al Barbahari berkata :
      “Setiap orang yang memberontak kepada imam (pemerintah) kaum Muslimin adalah Khawarij. Dan berarti dia telah memecah kesatuan kaum Muslimin dan menentang sunnah. Dan matinya seperti mati jahiliyah.” (Syarhus Sunnah karya Imam Al Barbahari, tahqiq Abu Yasir Khalid Ar Raddadi halaman 78)

      Asy Syahrastani berkata :
      “Setiap orang yang memberontak kepada imam yang disepakati kaum Muslimin disebut Khawarij. Sama saja, apakah dia memberontak di masa shahabat kepada imam yang rasyidin atau setelah mereka di masa para tabi’in dan para imam di setiap jaman.” (Al Milal wan Nihal halaman 114)

      Konsekwensi dari dasar pengkafiran yang antum sebutkan itu sangat besar. Jika antum mengkafirkan penguasa Indonesia saat ini, berarti antum juga mengkafirkan pemerintah Indonesia yang sebelumnya termasuk presiden, bupati, camat, sampai lurah. Bahkan kalo mau lebih ekstrim, hujjah yang antum sebutkan itu juga mengena pada PNS (Pegawai Negeri Sipil ) secara keseluruhan tanpa terkecuali sebab mereka bekerja untuk pemerintah. Pemahaman macam apa ini. apakah Pemahaman ahlussunnah seperti itu…Allohu Akbar..

      Dasar pemahaman seperti itu adalah dasar pemahaman yang digunakan oleh Khawarij (saya tidak menghukumi anda seorang khawarij), untuk mengkafirkan penguasa dan sungguh pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang picik dan dangkal tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Disini akan saya lampirkan tulisan dari Al-Ustad Abu Hamzah Al-Atsary tentang bagaimana Khawarij menyebarkan pemahamannya yaitu sebagai berikut :

      1. Meremehkan dakwah kepada Tauhid, dengan alasan urusan Aqidah telah diketahui banyak orang dan mungkin dapat memahaminya dalam jangka sepuluh menit. Lebih dari itu, merekapun enggan untuk mendakwahkan aqidah yang benar dengan sangkaan akan memecah belah umat.

      2. Mencela ulama umat, merendahkan ilmunya dan memalingkan pendengarannya dari para ulama dengan dalih mereka tidak faham kondisi dan bukan ahlinya untuk menyelesaikan problema umat dan mengemban urusan-urusannya. (sering sekali mereka mengatakan ulama tidak paham trik-trik politik atau ulama hanya sibuk dengan tumpukan-tumpukan kitab)

      3. Menjauhkan para pemuda dari ilmu yang syar’i yang berlandaskan Kitab dan Sunnah serta menyibukan mereka dengan nasyid-nasyid provokasi yang disebar disana-sini lewat media elektronik yang dibaca, dilihat ataupun didengar.

      4. Meremehkan keberadaan wulatul umur / pemerintah dan menjelaskan ‘aib-aibnya di atas mimbar atau lewat tindakan-tindakan yang meresahkan serta mentakwil nash-nash yang ditujukan untuk ta’at terhadap waliyyul amri / pemerintah, bahwa nash-nash tersebut untuk imamul a’dhom yakni khalifah kaum muslimin seluruhnya.
      (Mereka lupa atau pura-pura lupa dengan apa yang telah menjadi konsensus ulama bahwa dalam keadaan berbilangnya wilayah-wilayah Islam, maka setiap wilayah itu punya hak dan kewajiban-kewajibannya terhadap penguasanya, karena itu wajib untuk ta’at dalam hal yang ma’ruf dan haram untuk memeberontaknya selama menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah umat).

      5. Menghadirkan para pemikir yang berpemahaman khawarij lalu mengumpulkan para pemuda dalam satu halaqah, mencuci otak mereka dalam pertemuan tertutup, menjauhkan para pemuda dari ulamanya dan dari pemerintahnya serta mengikatkan mereka dengan tokoh-tokoh yang mana pemberontakan dan pengkafiran menjadi jalan pikirannya.

      6. Mengajak untuk berjihad, yang dalam pandangan mereka adalah menghalalkan darah kaum muslimin dan hartanya, memprovokasi untuk membuat pengrusakan dan pengeboman (di sejumlah tempat) dengan anggapan bahwa negeri muslimin adalah negeri kafir (alasan mereka mengklaim demikian karena, hukum pemerintahan yang diberlakukannya bukan hukum Islam). (Ini jelas pemahaman yang keliru dan membahayakan, -pent.) karena itu menurut mereka negeri muslimin yang demikian keadaannya adalah negeri jihad, negeri perang.
      Mereka tanamkan pemikirannya ini lewat sebagian nasyid-nasyid, bahkan sampai pada tahap melatih para pemuda menggunakan segala macam jenis senjata di tempat-tempat yang jauh dari penglihatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (Benarlah sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan, kalau mereka itu memerangi ahlil islam dan membiarkan ahlil autsaan / musyrikin. HR. Muslim 4/389 no. 1064. Ibnu Umar berkata, “Mereka bertolak dari ayat-ayat yang diturunkan untuk orang-orang kafir lalu diterapkan pada orang-orang mukmin.” HR. Bukhari 14/282, -pent)

      7. Menyebarkan buku-buku, selebaran-selebaran dan berkas-berkas serta kaset-kaset yang mengajak pada pemikiran khawarij, pengkafiran kaum muslimin lebih-lebih ulama dan pemerintah, diantara buku-buku tersebut adalah:
      a. Karya-karya Sayyid Qutb. Buku yang paling berbahayanya, yang di dalamnya terdapat pengkafiran umat dan celaan terhadap sahabat bahkan terhadap para nabi ialah seperti Fi Zhilalil Qur`an, Kutub wa Syakhsiyat, Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah, Ma’alim fi Thariq.
      b. Buku-buku Abul A’la Al-Maududy, buku-buku Hasan Al-Banna, Said Hawa, ‘Isham Al-‘Atthar, Abu Al-Fathi Al-Bayanuni, Muhammad Ali As-Shabuniy, Muhammad Hasan Hanbakah Al-Maidani, Hasan At-Turaby, Al-Hadiby, At-Tilmisani, Ahmad Muhammad Rosyid, Isham Al-Basyir, (juga buku-buku DR. Abdullah Azzam Al-Mubarok, Fathi Yakan, dan buku “Aku Melawan Teroris” Imam Samudra, -pent.)
      c. Buku-buku dan kaset-kaset Muhammad Surur bin Nayif Zaenal Abidin pendiri / pimpinan Yayasan Al-Muntada -London- (dulu di indonesia pun ada yayasan yang bernama Al-Muntada -Jakarta-, namun kini telah berubah nama menjadi Al-Sofwa -Jakarta-).

      Orang-orang yang picik akalnya lagi muda usianya diprovokasi oleh tandzim-tandzim yang menipu, tulisan-tulisan yang tidak bertanggung jawab dan fatwa-fatwa yang menyesatkan sehingga menyulap mereka menjadi para perusak, memerangi kaum muslimin dan merampas hartanya dan membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan. Mereka namakan yang demikian itu dengan nama JIHAD.

      Silahkan baca postingan saya pada kategori Al-Irhab (terorisme) untuk informasi lebih lengkap tentang paham khawarij ini.

  9. catatanpinggirhati said

    sebelum melangkah ke mana-mana, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu tentang dosa. dalam buku-buku yang ana pelajari terdapat dua macam dosa, yakni dosa mukafirah dan dosa ghairul mukafirah. apakah antum mengenal pembagian dosa ini? apabila antum mengenal, menetapkan hukum bukan dengan hukum Allah dan memberlakukan hukum tersebut kepada manusia termasuk bagian yang mana? dan apakah disyaratkan istihlal bagi pelaku dosa mukafirah?

    jika belum, silakan dipelajari terlebih dahulu. apabila tidak antum dapati penjelasan mengenainya dari ulama manapun, silakan antum sertakan referensi yang menyatakan tidak adanya pembagian hukum tersebut.

    afwan sebelumnya, antum masih–maaf–picik, dengan hanya mencantumkan ustadz-ustadz yang selalu dengan pongahnya menyertakan al atsary dan gelar lc dan dilegitimasi sebagai ustadz “salafy” oleh organisasi–yang tak pernah antum akui keberadaannya–antum.

    dan sebelumnya, pernahkah antum membaca karya-karya tersebut di atas yang banyak dicemooh kalangan antum tersebut ataukah antum hanya mendengar dari fulan dan fulan dan fulan yang telah terlebih dahulu dipenuhi prasangka dan kecenderungan terhadap pemerintah?

    • assahab said

      Apa antum mengira antum lebih faqih dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu? antum mengira ilmu antum sudah melebihi syeikh Albani, Syeikh bin Baz dan yang lainnya? sehingga berani memutuskan si fulan kafir, si fulan kafir. Subhanalloh…Mereka (sahabat, tabiin, tabiuttabiin, dan ulama setelahnya) semua orang-orang yang mulia dan seorang ahlul ilmi yang seumur hidupnya diabdikan untuk memperdalam Al-Qur’an dan Sunnah, sangat berhati-hati dalam hal takfir sebab hal itu adalah hal yang sangat besar akibatnya, karena jika salah maka tuduhan itu justru akan menimpa pada diri mereka. Semua ulama salaf dari generasi sahabat, tabiin, tabiuttaiin tidak ada yang memaknai ayat “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [Al-Maidah : 44]” sebagai kafir keluar dari Islam, tidak ada ulama salaf dari awal sampai saat ini yang menyatakan demikian.

      Disini saya sampaikan tulisan syeikh Albani tentang tafsir Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu tentang ayat tersebut :
      Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu mendengar persis seperti yang sering kita dengar sekarang ini bahwa ada beberapa oknum yang memahami ayat ini secara zhahir saja tanpa diperinci. Maka beliau Radhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Bukan kekufuran yang kalian pahami itu! Maksudnya bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, namun maksudnya adalah ‘kufrun duna kufrin’ (yaitu kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama).

      Kemudian beliau melanjutkan : ‘Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan murid beliau, Ibnu Qayyim al-Jauziyah selalu memperingatkan pentingnya membedakan antara ‘kufur i’tiqaadi’ dengan ‘kufur amali’. Kalau tidak, akibatnya seorang muslim dapat terperosok ke dalam kesesatan menyempal dari kaum muslimin tanpa ia sadari sebagaimana yang telah menimpa kaum Khawarij terdahulu dan cikal bakal mereka sekarang…”.

      [Dinukil dari Tabloid “Al-Muslimun” 5/5/1416H edisi : 556 halaman 7. dan dari majalah “al-Buhuts al-Islamiyah” 49/373-377]

      saya kira jawaban yang saya berikan sudah cukup untuk memberikan penjelasan kepada antum yang maaf-masih dangkal pemikirannya tentang Al-Qur’an dan sunnah.

      Barakallohu Fiikum

  10. catatanpinggirhati said

    ketika membaca tuduhan antum bahwa saya merasa diri saya lebih baik daripada ibnu abbas radhiallahu ‘anhum, saya terhenyak. telah melangkah sedemikian jauhkah saya? persis seperti ketika saya mendapati sebuah pernyataan bahwa bid’ah sama saja menuduh bahwa Rasulullah berdusta, bahwa beliau tidak menerangkan apa yang Allah perintahkan kepada beliau untuk disampaikan. dan demi memperoleh keterangan yang sebenarnya, saya pun mencoba membandingkan dua pendapat tentang makna kafir dalam ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa barangsiapa berhukum kepada selain hukum Allah, maka dia kafir.

    Dari kalangan antum cenderung mengandalkan pernyataan “kufrun dunna kufrin” sebagai tameng penangkis bagi pendapat yang memahami nash tersebut secara dhahir, yakni, kafirnya mereka yang berhukum dengan selain hukum Allah. dua hal yang masih mengganjal dalam hati saya. pertama, pendapat pertama yang menyanggah “syubhat basi” andalan kalangan antum mengatakan bahwa para penguasa saat ini berbeda dengan para penguasa dahulu, ketika ibnu abbas masih hidup. salah satu sumber bahkan mengatakan, “jadi kalian adalah Ali dan pengikutnya? Apakah Ali menyeru kepada nasionalisme Arab, apakah Ali mengajak manusia untuk berhukum dengan hukum buatannya? dsb”.

    kedua, pendapat kedua menyatakan bahwa apabila ada pendapat yang berbeda, maka kita ambil pendapat yang paling shahih, yang mengisyaratkan adanya pendapat dari sahabat lain. ini mengingatkan pada saya tentang tulisan salah seorang ustadz dari kalangan antum bahwa “ucapan siapapun tidak bisa diambil sebagai kebenaran, kecuali dari ahli kubur ini” (yakni Rasulullah) dan memberikan contoh bagaimana seorang Umar yang oleh Rasulullah dikatakan, “jika ada nabi setelahku, tentulah Umar orangnya”, bisa salah ketika menunjuk seseorang untuk dijadikan sebagai pejabat negara namun justru ialah (orang yang ditunjuk Umar tersebut) yang membunuh Utsman Radhiallahu ‘anhu. kalau Umar (sahabat utama kedua setelah Abu Bakar) saja bisa ditolak pendapatnya, apatah lagi Ibnu Abbas?

    dari sini saya meminta kepada antum, untuk mengetengahkan di sini kelengkapan atsar beserta konteks di mana ibnu abbas mengartikan kekafiran dalam ayat tersebut dengan kufrun dunna kufrin. agar jelas bagi kita, siapa yang beliau maksudkan telah berada dalam lingkup kufrun dunna kufrin tersebut. kemudian, adakah pendapat lain yang berbeda dengan pendapat Ibnu Abbas ini? dan satu lagi, sampai seberapa shahihkah penisbatan ungkapan ini kepada sahabat Ibnu Abbas? karena saya mendapati adanya sebuah tulisan yang menyatakan bahwa ungkapan kufrun dunna kufrin “dinisbatkan kepada Ibnu Abbas” radhiallahu ‘anhum.

    syukron

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Banyak sekali syubhat yang beredar dan sering dilontarkan oleh khawarij dan orang yang terpengaruh dengan pemahaman mereka, salah satunya yaitu :

      Menyebarkan keraguan tentang keshohihan tafsir Ibnu Abbas tentang surat Al-Maidah ayat 44 bahwa lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma berkata : “Sesungguhnya kekufuran dalam ayat ini bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama, dia adalah kufur duna kufrin (kufur kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dan lslam)”. [Tafsir Ibnu Jarir 10/355]

      Tujuan mereka menyebarkan syubhat tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk melegalkan pemahaman mereka yang serampangan tentang tafsir surat Al-Maidah ayat 44 yang kemudian dengan pemahaman mereka yang dangkal ini, mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.

      Disini akan saya menjawab dan sekaligus membantah syubhat mereka.

      Tentang kedudukan tafsir Ibnu Abbas Radhiyallohu Anhuma

      Abdulloh bin Abbas Rodhiyallahu anhuma dikenal dengan julukan “Penerjemah Al-Quran dengan barokah do’a Rosululloh Shallallahu alaihi wa sallam :

      “Ya Alloh, pahamkan dia dalam agama dan ajarilah dia tafsir” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad 1/328 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Ahmad Syakir]

      lbnu Mas’ud Rodhiyallahu anhu berkata : “Sebaik-baik penerjemah al-Qur’an adalah lbnu Abbas” [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir dalam Muqoddimah Tafsir-nya dengan sanad yang shohih]

      Keshohihan tafsir Ibnu Abbas tentang tafsir surat Al-Maidah ayat 44 dapat dijelaskan sebagai berikut :

      1. Al-Hafizh Ibnu Jarir Ath-Thobari Rohimahullah berkata dalam Tafsir-nya (6/256) :
      “Telah mengabarkan kepada kami Hannad dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Waki’ dan telah mengabarkan kepada kami lbnu Waki’ bahwasanya dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami bapakku dari Sufyan dari Ma’mar bin Rosyid dari lbnu Thowus dari bapaknya dari lbnu Abbas rodhiallahu anhu (tentang ayat) … Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Ma‘idah : 44), dia (lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma) berkata: “ini adalah kekufuran dan bukan kufur kepada Alloh, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya, dan para rosul-Nya.”

      Kami katakan: Para perowi riwayat ini adalah orang-orang yang tsiqoh (terpercaya) dan para imam, dan sanad inii dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullah dalam Silsilah Shohihah 6/113.

      2. Al-Hakim Rohimahullah berkata dalam Mustadrok-nya (2/342) :
      ” Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman al-Mushili dia berkata : Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Harb dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thowus dari lbnu Abbas RodhiYallahu anhu dia berkata: “Dia bukanlah kekufuran yang kalian [2] katakan, sesungguhnya dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam. (Ayat yang artinya:) …. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orangorang yang kafir (Al-Ma ‘idah (51:44). ini adalah kufur duna kufrin”

      Sesudah membawakan riwayat ini, al-Hakim rohimahulloh berkata : “Ini adalah hadits yang shohih sanadnya” dan disetujui oleh Dzahabi rohimahullah dalam Talkhis Mustadrok 2/342.

      Syaikh Al-Albani rohimahullah berkomentar : “Keduanya berhak mengatakan hadits ini shohih atas syarat Bukhori dan Muslim karena memang demikian keadaannya.” [Silsilah Shohihah 6/113]

      Para Ulama Yang Bersandar Pada Pendapat Ibnu Abbas Radhiyallohu Anhuma tentang “Tafsir surat Al-Maidah ayat 44”

      Hal lain yang menunjukkan keshohihan tafsir lbnu Abbas Rodhiyallahu anhuma yaitu para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari zaman tabi’in hingga zaman ini selalu bersandar kepada tafsir lbnu Abbas Rodhiyallahu anhu terhadap ayat hukum, sebagaimana di dalam nukilan-nukilan berikut ini:

      1). Atho’ bin Abu Robah, seorang tabi’in, menyebut ayat 44-46 surat al-Ma’idah, dan berkata: “Kufrun duna kufrin (kufur kecil), fisqun duna fisqin (fasik kecil), dan zhulmun duna zhulmin (dzolim kecil)” [Diriwayatkan oleh lbnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shohihah 6/114]

      2). Thowus bin Kaisan, salah seorang tabi’in, menyebut ayat hukum dan berkata :”Bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya 6/256 dan dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani dalam SilsiIah Shohihah 6/114]

      3). Al-Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang maksud kufur dalam ayat hukum,
      maka beliau berkata : “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dan keimanan” [Majmu’ Fatawa 7/254]

      4). Al-Imam Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam membawakan tafsir lbnu Abbas dan Atho’ bin Abu Robah terhadap ayat hukum dan berkata : “Maka telah jelas bagi kita bahwa kekufuran dalam ayat ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dan bahwasanya agamanya tetap eksis meskipun tercampur dengan dosa-dosa.” [Kitabul lman hal. 45]

      5). Al-Imam Bukhori berkata dalam Shohih-nya (1/83) : “Bab Kufronil ‘Asyir wa Kufrun Duna Kufrin’ al-Haflzh Ibnu Hajar berkata :”Penulis (Al-Imam Bukhori) mengisyaratkan kepada atsar yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Kitabul Iman dari jalan Atho’ bin Abu Robah dan yang lainnya” [FathuI Bari 1/83]

      6). Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari menyebutkan lima pendapat para ulama tentang tafsir ayat hukum kemudian berkata : “Pendapat yang paling utama menurutku adalah pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun pada orang-orang kafir ahli kitab, karena ayat-ayat sebelum dan sesudahnya turun pada mereka, merekalah yang dimaksudkan dengan ayat-ayat ini, dan konteks ayat-ayat ini adalah khobar (kabar) tentang mereka, maka keberadaannyab sebagai kabar tentang mereka lebih utama.

      Jika ada orang yang bertanya : Sesungguhnya Alloh Ta’ala mengabarkan secara umum seluruh orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh, bagaimana engkau menjadikan ayat ini khusus bagi ahil kitab?

      Maka jawabannya adalah: Sesungguhnya Alloh Ta’ala mengabarkan secara umum dengan ayat ini tentang suatu kaum yang juhud (mengingkari) hukum Alloh di dalam Kitab-Nya. Alloh mengabarkan bahwasanya mereka kafir ketika meninggalkan hukum Alloh dengan cara seperti yang mereka lakukan (yaitu juhud). Demikian juga, setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh karena juhud terhadapnya maka dia telah kafir terhadap Alloh. sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Rodhiallahu anhuma” [Tafsir Ibnu Jarir 6/257]

      7). Al-Imam Baihaqi berkata dalam Sunan Kubro (10/207): “Yang kami riwayatkan dari al-Imam Syafi’i dan para imam yang lainnya tentang para ahli bid’ah ini mereka maksudkan kufur duna kufrin (kufur kecil) sebagaimana dalam firman Alloh.

      “Artinya : ..Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”(AI-Ma’idah : 44); lbnu Abbas Rodhiallahu anhumas berkata : Dia bukanlah kekufuran yang kalian (para Khowarij) katakan, sesungguhnya dia adaiah kekufuran yang tidak engeluarkan dari Islam. Ini adalah kufur duna kufrin.”

      8). Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (4/237) : “Telah datang dari lbnu Abbas Rodhiallahu anhuma bahwasanya dia berkata tentang hukum penguasa yang lancung, kufrun duna kufrin”.

      9). Al-Imam Qurthubi berkata:”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh karena menolak al-Qur’an dan juhud (mengingkari) pada perkataan Rosul Shallallahu alaihi wa sallam maka dia kafir, ini adalah perkataan Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhuma dan Mujahid” [Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 6/190]

      10).Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah menafsirkan ayat hukum di atas dengan mengatakan: “Yaitu seorang yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Alloh.” [Majmu’ Fatawa 3/268]

      Beliau juga berkata: “Ketika datang dari perkataan salaf bahwasanya di dalam diri seseorang ada keimanan dan kemunafikan, maka demikian halnya perkataan mereka bahwasanya di dalam diri seseorang ada keimanan dan kekufuran ; kekufuran ini bukanlah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Rodhiallahu anhuma dan para sahabatnya tentang tafsir firman Alloh.

      “Artinya : Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Ma’idah : 44); mereka berkata :”Dia adalah kekufuran yang tidak mengeluarkan dari IsIam” Perkataan ini diikuti oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dari para Imam Sunnah.” [Majmu’ Fatawa 7/312]

      11). lbnul Qoyyim membawakan tafsir Ibnu Abbas, Thowus, dan Atho’ bin Abu Robah terhadap ayat hukum dan berkata :”Hal ini jelas sekali dalam al-Qur’an bagi siapa saja yang memahaminya, karena Alloh menyebut kafir seorang yang berhukum dengan Selain hukum Alloh, dan menyebut kafir seorang yang mengingkari pada apa yang Dia turunkan pada Rosul-Nya ; dua kekufuran ini tidaklah sama” [Ash-Sholat wa Hukmu Tarikiha hal. 57]

      12). Syaikh Al-Albani berkata: “Kesimpulannya, ayat hukum ini turun pada orang-orang Yahudi yang juhud (mengingkari) hukum Alloh. Barangsiapa yang ikut serta mereka dalam juhud, dia telah kafir dengan kufur i’tiqodi; dan barangsiapa yang tidak ikut serta mereka dalam juhud maka kufurnya amali, karena dia melakukan amalan mereka, maka dia telah berbuat kejahatan dan dosa, tetapi tidak keluar dari agama sebagaimana telah terdahulu (keterangannya) dari lbnu Abbas Rodhyiallahu anhuma” [Silsilah Shohihah 6/115]

      13). Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata : Adapun yang berhubungan dengan atsar Ibnu Abbas Rodhiallahu anhuma di atas, cukuplah bagi kita bahwa para ulama yang mumpuni seperti Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim dan selain keduanya telah menerimanya dengan baik, mereka membawakan dan menukilnya, maka atsar ini adalah shohih” [Ta’liq terhadap risalah Syaikh Al-Albani at Tahdzir min Fitnati Takfir hal. 69]

      Dari tulisan saya di atas cukuplah kiranya dapat menjelaskan sekaligus membantah syubhat yang selama ini ada dan sekaligus meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang makna surat Al-Maidah:44 tersebut karena jujur saja banyak para pemuda yang memiliki ghiroh (semangat) keislaman yang tinggi, akan tetapi belum dibarengi dengan keilmuan yang cukup tentang Al-Qur’an dan Sunnah sehingga sering terjerumus dengan pemahaman-pemahaman yang keliru dan dangkal khususnya yang berasal dari firqoh-firqoh sesat semacam Khawarij ini.

      Barokallohu Fiikum

  11. catatanpinggirhati said

    “Tujuan mereka menyebarkan syubhat tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk melegalkan pemahaman mereka yang serampangan tentang tafsir surat Al-Maidah ayat 44 yang kemudian dengan pemahaman mereka yang dangkal ini, mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka”

    dan antum tidak mengira bahwa kerasnya antum memaksakan hujjah bahwa kekafiran yang dimaksud dalam al maidah ayat 44 tersebut adalah kufrun dunna kufrin juga merupakan sebentuk pelegalan pemahaman antum bahwa para penguasa hari ini bukanlah orang2 yang telah murtad untuk kemudian dengan pemahaman tersebut antum menghalangi para pemuda untuk melakukan amal sholih? antum jatuh persis pada apa yang antum voniskan untuk orang lain!

    untuk yang lain, biar saya cerna dahulu.

    btw, adakah assahab tak mampu menjawab pertanyaan ana hingga memanggilkan “outsider” untuk menghadapi ana?

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Tafsir Ibnu Abbas telah jelas Keshohihannya dan semua ulama Ahlussunnah pun berpegang kepadanya..

      Dengan antum mengatakan seperti itu, berarti antum telah menganggap Ibnu Abbas Radhiyallohu Anhu telah salah dalam menafsirkan surat Al-Maidah ayat 44 tersebut…Naudhubillah…

      Apakah antum sudah sedemikian tingginya menguasai ilmu tafsir sehingga berani menafsirkan suatu ayat bahkan membantah tafsir Ibnu Abbas dan ulama yang berpegang kepadanya…Ana seorang penuntut ilmu, bukan seorang tukang takfir (tukang mengkafirkan orang) seperti banyak orang sekarang…Jadi sebagai penuntut ilmu merujuklah kepada tulisan-tulisan para ulama yang faqih di bidangnya.

      Saya tidak yakin antum bisa menyebutkan, Siapakah sahabat atau ulama baik dari kalangan Tabiin, atau Tabiut Tabiin yang menafsirkan Surat Al-Maidah:44 sebagai Kafir yang mengeluarkan dari Islam yang seperti antum pahami sekarang ?
      Tolong sebutkan nama, kitab manhaj dan aqidahnya..nanti ana cek kebenarannya

      Jika antum tidak bisa berarti antum sudah mengkafirkan orang tanpa dasar dan hanya berdasarkan akal, hawa nafsu, dan sangkaan belaka..

      Barakallohu Fiikum

  12. catatanpinggirhati said

    antum baru menjawab satu pertanyaan ana. itupun pertanyaan yang ana tempatkan palig akhir, artinya bukan pertanyaan terpenting. dua pertanyaan dan permintaan yang lebih utama belum dijawab. jadi , mohon dengan sangat, dijawab dulu.

  13. catatanpinggirhati said

    ini sudah tanggal 13, sepuluh hari setelah posting terakhir saya? ada yang bisa menjawab? selain dua orang di atas?

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Afwan baru bisa balas sekarang, karena ada kesibukan yg tdk bisa ditingggal…

      Pertanyaan antum yang mana, apakah tentang Umar bin Khottob itu…perlu antum ketahui bahwa para sahabat bukanlah orang yang maksum (bebas dari kesalahan) jd apabila mereka salah baik dalam hal ijtihad mapun yg lain, itu bukanlah suatu hal yg patut diperdebatkan

  14. catatanpinggirhati said

    “Dengan antum mengatakan seperti itu, berarti antum telah menganggap Ibnu Abbas Radhiyallohu Anhu telah salah dalam menafsirkan surat Al-Maidah ayat 44 tersebut…Naudhubillah…”

    “apakah tentang Umar bin Khottob itu…perlu antum ketahui bahwa para sahabat bukanlah orang yang maksum (bebas dari kesalahan) jd apabila mereka salah baik dalam hal ijtihad mapun yg lain, itu bukanlah suatu hal yg patut diperdebatkan”

    ini sangkalan dari antum sendiri lho ya!

    coba baca lagi posting terakhir sebelum antum turut campur dalam diskusi antara saya dengan assahab. jangan sampai kayak seseorang yang belakangan berdebat dengan saya namun emoh memperhatikan apa yang saya berikan, karena baginya saya terlanjur ahlul bid’ah.

  15. catatanpinggirhati said

    satu lagi, silakan dibaca postingan saya berikut:

    Ijma’ Para Ulama’ Tentang Kafirnya Para Penguasa Yang Menjalankan Hukum Dengan Selain Syariat Alloh

    Penulis:
    Syaikh ‘Abdul Qoodir Bin ‘Abdul ‘Aziiz

    Penerjemah:
    Abu Musa Ath Thoyyaar

    MASALAH KE TUJUH:
    Penjelasan Tentang Ijma’ Atas Kafirnya Para Penguasa Yang Menjalankan Hukum Dengan Selain Apa Yang Diturunkan Alloh.

    Pendahuluan:
    Penggantian Syariat Yang Pertama Kali Dilakukan Oleh Orang-orang Yang Mengaku Islam.

    Telah dapat dipahami dari Sababun Nuzuul (peristiwa yang menjadi penyebab turunnya ayat):
    ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
    “Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Alloh, maka mereka adalah orang-orang kafir”.

    Bahwa orang-orang Yahudi berpaling dari hukum Alloh SWT yang berupa rajam bagi orang muhshon yang berzina dan mereka membuat hukum pengganti hukum tersebut. Lalu hukum pengganti tersebut menjadi undang-undang yang diberlakukan di kalangan mereka.
    Adapun di kalangan orang-orang yang mengaku Islam sesungguhnya yang pertama kali melakukannya adalah Tartar pada akhir abad ke tujuh hijriyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ahmad Syaakir rh: ”Dengan demikian bolehkah dalam syariat Alloh, umat Islam menjalankan hukum di negeri mereka dengan hukum yang diambil dari undang-undang orang Eropa para penyembah berhala yang atheis? — sampai — sesungguhnya bencana ini belum pernah menimpa umat Islam sekalipun — sejauh yang kami ketahui dalam sejarah — kecuali pada jaman Tartar. Dan masa itu adalah seburuk-buruk masa kedholiman dan kegelapan”. (‘Umdatut Tafsiir IV/173). Dan apa yang dikatakan itu memang benar.
    Adapun masuknya Tartar ke dalam Islam itu terjadi setelah mereka menguasai Baghdad di bawah pimpinan Hulako pada tahun 656 H yang mana mereka sebelumnya adalah watsaniyyiin (penyembah berhala). Dan yang pertama kali masuk Islam diantara mereka adalah Sultan Ahmad Hulako pada tahun 680 H. Lihat buku “Watsaa-iq Al Huruub Ash Sholiibiyyah Wal Ghozwil Maghuuliy, Dr. Muhammad Maahir Hamaadah, hal. 80, cet. Mu-assasah Ar Risaalah 1986 M. Dan pengakuan Islam mereka ini nampak dari pertanyaan-pertanyaan tentang mereka yang diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rh di dalam salah satu pertanyaan itu disebutkan: “Apa yang dikatakan oleh para fuqoha’ para imam dalam Islam (a’immatud diin) tentang orang-orang Tartar yang datang pada tahun 699, dan yang membunuh kaum muslimin sebagaimana yang telah masyhur — sampai — namun demikian mereka mengaku berpegang teguh dengan dua kalimat syahadat, dan mereka mengaku haram memerangi mereka yang memerangi karena mereka mengaku mengikuti pokok-pokok Islam” (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/501-502). Dan dalam pertanyaan yang lain disebutkan: ”Apakah yang dikatakan oleh para pemimpin dan para ulama’…tentang Tartar yang datang ke Syam berulang kali, mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, dan mereka mengaku Islam dan mereka tidak lagi kafir sebagaimana sebelumnya” (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/509). Inilah yang menunjukkan bahwa mereka mengaku Islam.

    Sedangkan berhukumnya mereka dengan selain apa yang diturunkan Alloh meskipun mereka mengaku Islam adalah: sebagaimana yang dapat dipahami dari perkataan Ibnu Taimiyyah ketika menerangkan kondisi Tartar dalam fatwanya tentang mereka: ”Dan mereka tidak iltizam dengan (menjalankan) hukum Alloh di kalangan mereka, namun mereka menjalankan hukum buatan mereka yang sebagian sesuai dengan Islam dan sebagian bertentangan.” (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/505). Dan Ibnu Katsiir berkata: ”Dan sebagaimana yang dijadikan hukum oleh Tartar yang berupa peraturan kerajaan yang diambil dari raja mereka Jengkis Khan yang membuat Ilyasiq untuk merek, yaitu sebuah kitab yang berisi kumpulan hukum yang mereka ambil dari berbagai syariat, dari Yahudi, Nasrani, Islam dan yang lainnya. Dan di dalamnya juga banyak hukum yang dia buat dengan akal dan hawa nafsunya. Lalu peraturan itu di kalangan mereka menjadi sebuah peraturan yang berlaku yang lebih mereka utamakan daripada berhukum dengan Kitaabullah dan Sunnah RosulNya SAW. Maka barangsiapa yang melakukan seperti itu harus diperangi sampai dia kembali kepada hukum Alloh dan RosulNya, dan tidak memutuskan perkara dengan selainnya baik sedikit maupun banyak” (Tafsir Ibnu Katsiir II/67). Dan Jengkis Khan adalah kakeknya Hulako yang menguasai Baghdad.
    Wa ba’du: Inilah kejadian pertama kali yang dikenal dalam sejarah kaum muslimin, yaitu sekelompok orang yang mengaku Islam namun mereka menjalankan hukum selain syariat Islam. Maka ini adalah merupakan naazilah (peristiwa insidental) yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun demikian Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsiir telah mengeluarkan fatwa tentangnya dan keduanya menyatakan ijma’ atas kafirnya orang yang melakukan seperti itu:
    1. Adapun fatwa Ibnu Taimiyyah; adalah terdapat dalam perkataannya — dalam fatwanya tentang Tartar —.
    Ia berkata: ”Dan telah diketahui secara pasti dalam diin Islam dan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin bahwasanya barangsiapa memperbolehkan mengikuti selain diinul Islam, atau mengikuti syariat selain syariat Muhammad SAW, maka dia kafir sebagaimana kafirnya orang yang beriman dengan sebagian kitab dan kafir dengan sebagian yang lain. Sebagaimana firman Alloh:
    إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً أُوْلئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap Alloh dan para RosulNya, dan hendak membedakan antara Alloh dan para RosulNya, dan mereka mengatakan : kami beriman kepad sebagian dan kami kufur kepada sebagian yang lain, dan mereka hendak mengambil jalan diantara itu. Mereka adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya dan kami telah siapkan bagi orang-orang kafir siksaan yang menghinakan”. (QS. An-Nisaa’:150-151).
    (Majmuu’ Fataawaa : XXVIII/ 524).
    Dan ditempat lain dalam Majmuu’ Fataawaanya, Syaikhul Islam menyatakan ijma’ atas kafirnya orang yang memutuskan perkara dengan syari’at yang didalamnya mengandung penghalalan yang haram atau pengharaman yang halal atau pengguguran perintah-perintah dan larangan syar’iy. Dan semua ciri yang ia sebutkan ini sesuai dengan keadaan undang-undang pada masa sekarang. Diantaranya adalah perkataannya yang berbunyi: “Dan kapan saja manusia itu menghalalkan yang haram — yang telah disepakati — atau mengharamkan yang halal — yang telah disepakati — atau mengganti syari’at — yang telah disepakati — maka dia kafir bedasarkan kesepakatan para fuqoha’.” (Majmuu’ Fataawaa III/ 267). Dan ia juga mengatakan : “Dan telah dimaklumi bahwa barangsiapa menggugurkan perintah dan larangan yang Alloh sampaikan melalui para Rasul-Nya maka dia kafir berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin, Yahudi dan Nashrani. (Majmuu’ Fataawaa XIII/106) Ibnu Taimiyyah juga mempunyai perkataan-perkataan yang lain akan kami nukil pada masalah berikutnya insya Alloh SWT.
    2. Sedangkan fatwa Ibnu Katsiir yang menyebutkan ijma’ atas kafirnya orang yang memutuskan perkara dengan selain apa yang diturunkan Alloh.
    Yaitu perkataannya yang berbunyi: “Maka barangsiapa yang meninggalkan syari’at yang jelas yang diturunkan kapada Muhammad bin ‘Abdillah, penutup para Nabi dan berhukum kepada syari’at yang lain yang telah mansukh, ia telah kafir. Lalu bagaimana dengan orang yang berhukum kepada Ilyasa dan lebih mengutamakannya dari pada syari’at tersebut ? Barangsiapa yang melakukannya dia kafir berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. Alloh berfirman :

    أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله دينا لقوم يوقنون
    “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari pada Alloh bagi kaum yang yakin ?”
    Dan Alloh berfirman :
    فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
    “Maka demi Robb mu mereka tidaklah beriman sampai mereka memutuskan yang mereka perselisihkan kepadamu kemudian mereka tidak dapatkan keberatan dalam dada mereka terhadap apa yang kamu putuskan dan mereka pasrah dengan sepenuhnya.”
    Maka Maha Benar Alloh Yang Maha Agung.” (Al Bidaayah Wan Nihaayah XIII/ 119) dicantumkan dalam peristiwa tahun 624 H, ketika menerangkan biografi Jengkis Khan).
    Demikianlah, dan didepan — ketika mengkritisi buku Ar Risaalah Al Liimaaniyyah pada akhir pembahasan I’tiqood (aqidah) — telah dibahas kedudukan ijma’ sebagai hujjah, yaitu jika dari segi periwayatannya shohih dan tidak diketahui ada yang menyelisihinya maka ia menjadi hujjah yang harus diikuti dan tidak boleh menasakhnya atau merubahnya. (lihat Irsyaadul Fuhuul, karangan Asy Syaukaaniy hal. 67-85, dan Syarhuut Talwiih ‘Alat Tanqiih karangan At Taftaazaaniy II/ 51). Atas dasar ini maka ijma’ atas kafirnya orang yang memutuskan perkara dengan selain apa yang diturunkan Alloh — yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsiir — adalah hujjah bagi kita yang harus kita ikuti, dan merupakan satu dalil tersendiri yang kita jadikan landasan dalam berfatwa atas kafirnya para penguasa yang menjalankan hukum positif. Dan ijma’ atas hukum masalah ini pada masa Ibnu Taimiyyah (728 H) dan Ibnu Katsiir (774 H) karena peristiwa ini terjadi pada masa keduanya dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Hal ini seperti masalah kholqul qur-aan (pendapat yang mengatakan bahwa Qur’an itu makhluq) yang terjadi pada masa Ahmad bin Hambal, maka ijma’ Ahlus Sunnah tentang hukumnya pun terjadi (yaitu bahwa Al Qur’an Alloh itu kalaamullah, bukan makhluq dan bahwa barangsiapa mengatakan Al Qur’an itu makhluq maka dia kafir). Dan hukum semacam ini tidak pernah diriwayatkan dari seorangpun dari sahabat karena masalah ini belum pernah terjadi pada masa hidup mereka. Sehingga tidak pernah diriwayatkan seorangpun dari sahabat yang mengatakan tentang masalah ini. Hal ini mengingatkan bahwa setiap permasalahan yang baru itu fatwanya diambil dari pada ulama’ yang semasa dengan peristiwa tersebut.

    Peringatan Tentang Perbedaan Penting Antara Tartar Dan Para Penguasa Hari Ini

    Sebagian orang yang membela para penguasa thoghut itu menyangka bahwasanya tidak ada alasan yang tepat untuk menggunakan fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsiir tentang Tartar terhadap para penguasa pada hari ini, karena Tartar adalah watsaniyyun (penyembah berhala). Dan ini adalah salah, dari penjelasan di atas anda dapat memahami bahwa Tartar telah masuk Islam akan tetapi tetap tidak menjalankan hukum dengan syariat Islam. Ciri-ciri semacam ini sama dengan keadaan para penguasa pada hari ini, oleh karena itu hukum mereka sama, karena keadaan mereka sama.
    Dan yang benar adalah sesungguhnya para penguasa hari ini lebih kafir dan lebih sesat daripada Tartar. Karena meskipun Tartar mengusai banyak negeri kaum muslimin seperti Khurosan, Irak dan Syam beberapa saat namun mereka tidak memaksa negeri-negeri tersebut untuk menggunakan hukum buatan mereka (Ilyasiq) akan tetapi mereka hanya berhukum dengannya di kalangan mereka sedangkan hukum yang berlaku di kalangan kaum muslimin tetap sesuai dengan syariat Islam. Adapun para penguasa hari ini, mereka mewajibkan kaum muslimin untuk menjalankan hukum kafir tersebut.
    Adapun yang menerangkan bahwa hukum Ilyasiq itu berlaku hanya terbatas pada kelompok Tartar dan tidak meluas ke seluruh kaum muslimin adalah perkataaan Ibnu Taimiyyah rh. yang berbunyi: ”Dan mereka tidak menjalankan hukum di kalangan mereka dengan hukum Alloh.” (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/505). Dan perkataan Ibnu Katsiir yang berbunyi: ”Dan sebagaimana yang dijadikan hukum oleh Tartar yan berupa peraturan kerajaan yang diambil dari raja mereka Jengkis Khan yang membuat Ilyasiq untuk mereka — sampai perkataannya — lalu peraturan itu di kalangan mereka menjadi sebuah peraturan yang berlaku.” (Tafsiir Ibnu Katsiir II/67). Perkataan Ibnu Taimiyyah yang berbunyi:”… menjalankan hukum di kalangan mereka … dan perkataan Ibnu Katsiir yang berbunyi:”… lalu peraturan itu di kalangan mereka menjadi … “ menunjukkan bahwa hukum Ilyasiq itu hanya berlaku dalam kelompok Tartar saja dan tidak mereka wajibkan terhadap kaum muslimin di negeri-negeri yang mereka kuasai. Dan hal ini telah diingatkan oleh Ahmad Syaakir dalam perkataannya yang berbunyi:”Tidakkah kalian melihat ciri-ciri yang menonjol yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsiir — pada abad kedelapan — terhadap undang-undang buatan tersebut yang dibuat oleh musuh Islam “Jengkis Khan”? Tidakkah kalian melihatnya menyebutkan kondisi kaum muslimin pada hari ini, yaitu pada abad keempat belas? Kecuali hanya satu perbedaannya sebagaimana yang telah kami singgung tadi yaitu: bahwasanya dahulu hanya berlaku pada kalangan penguasa yang terjadi dalam tempo yang singkat lalu tersebar di kalangan umat Islam kemudian tidak berbekas apa yang mereka lakukan. Namun kaum muslimin pada hari ini kondisinya lebih buruk dan lebih dholim dan lebih gelap daripada mereka, karena hampir mayoritas umat Islam sekarang terjerumus dalam Undang-undang yang menyelisihi syariat Islam yang sangat mirip dengan “Ilyasiq” itu”. (‘Umdatut Tafsiir IV/173-174).
    Adapun yang menunjukkan bahwa hukum yang berjalan di kalangan kaum muslimin itu sesuai dengan hukum Islam adalah surat Sultan Tartar Gozan kepada wakilnya Saifud Diin Qobjek tentang hukum yang diberlakukan di Syam, yaitu sebuah surat yang dibacakan di mimbar-mimbar Damaskus pada th. 699 H. — Yaitu pada tahun dimana Ibnu Taimiyyah mengeluarkan fatwa mengenai mereka sebagaimana yang baru saja saya sebutkan — Dalam surat tersebut Gozan mengatakan: ”Dan Maalikul Umaroo’ (pemimpin para gubernur) Saifud Diin hendaknya bertaqwa kepada Alloh dalam hukum-hukumNya dan hendaknya takut kepadaNya dalam menggugurkan dan menetapkannya, dan hendaknya memuliakan syariat dan orang-orang yang memutuskan perkara dengannya, dan hendaknya melaksanakan keputusan setiap qodli (hakim) sesuai dengan pendapat imamnya, dan hendaknya duduk dengan bersandarkan keadilan, dan hendaknya mengambil hak orang bawahan dari para atasan, dan hendaknya melaksanakan hukum huduud dan qishosh terhadap semua orang yang berhak mendapatkannya, dan hendaknya tidak berdholim kepada orang-orang yang didholimi”. (Dinukil dari “Watsaa-iqul Huruub Ash Sholiibiyyah Wal Ghozwil Maghuliy”, karangan DR. Muhammad Maahir Hamaadah, hal. 403-406, cet. Mu-assasah Ar Risaalah 1986 M). Dan dalam menggambarkan kondisi negeri-negeri tersebut setelah dikuasai Tartar, Shiddiiq Hasan Khoon mengatakan: ”Adapun di negera-negara yang dikuasai oleh para pengusa kafir maka diperbolehkan juga untuk mengadakan sholat Jum’at dan dua hari raya dan seorang qodliy memutuskan perkara atas dasar kerelaan kaum muslimin karena telah ditetapkan bahwasanya selama masih tersisa ‘illah (penyebab munculnya hukum) nya masih ada hukum. Dan telah kami tetapkan tanpa ada perselisihan bahwasanya negara-negara tersebut sebelum dikuasai Tartar adalah negara-negara Islam. Dan setelah dikuasai Tartar, kumandang adzan, sholat Jum’at, sholat-sholat jama’ah, memutuskan hukum berdasarkan syariat dan fatwa berjalan dengan tanpa ada pengingkaran dari pengusa mereka” (Al ‘Ibroh Mimmaa Jaa-a Fil Ghozwi Wasy Syahaadah Wal Hijroh, karangan Shiddiiq Hasan, hal. 232, cet. Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah 1405 H).
    Intinya: Sesungguhnya adanya praktik memutuskan perkara berdasarkan syariat Islam di negara-negara kaum muslimin yang dikuasai oleh Tartar, telah terbukti secara historis. Hal ini termasuk di antara yang menunjukkan bahwa para penguasa hari ini yang mengharuskan kaum muslimin untuk mematuhi undang-undang kafir itu lebih kafir dan lebih sesat daripada Tartar, dan bahwasanya manaath (alasan) yang menjadi dasar fatwa atas kafirnya Tartar itu terwujud pada para penguasa hari ini dalam bentuk yang lebih kuat.

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Assalamualaykum Warahmatullah Wabarokatuh

      Siapakh sebenarnya Syeikh Abdul Qodir bin Abdul Azis yang antum nukil tulisannya itu. Berikut ini CV nya:

      Nama lengkapnya adalah Sayyid Imam bin Abdul Aziz Imam Asy Syarif. Bisa juga dipanggil dengan sebutan Dr Fadhel, namun lebih populer dengan nama Syaikh Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz. Lahir pada Agustus 1950 di kota Bani Suwaif, Mesir Selatan. Menuntut ilmu dan menghafal Al Qur`an sejak kecil serta mulai menulis buku sejak awal usia mudanya.

      Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kairo tahun 1974 M dengan meraih predikat Mumtaz (cum laude). Setelah lulus ia sempat bekerja sebagai Wakil Kepala Bagian Operasi pada Jurusan Spesialis Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo.

      Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz mulai menjadi buron pemerintahan Mesir pasca terbunuhnya Anwar Sadat pada tahun 1981 M, namun ia berhasil meloloskan diri keluar dari Mesir. Kemudian Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja sebagai direktur sebuah rumah sakit milik Bulan Sabit Merah Kuwait di Kota Peshawaar, Pakistan. Dengan dibantu oleh Dr Aiman Azh Zhawahiri. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz menikah dengan seorang wanita Palestina dan dikarunia empat orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Di Pakistan itulah Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat meraih gelar doktor dibidang bedah disalah satu universitas di sana.

      Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian meninggalkan Pakistan dalam rangka menghindari kejaran pihak intelijen. Pada saat bersamaan terjadi penangkapan terhadap orang-orang Aron di daerah Peshawar pada tahun 1993 M. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz kemudian menuju Sudan.

      Beliau sempat tinggal di Yaman pada saat akhir perang saudara antara Yaman Utara dengan Yaman Selatan dan kemudian bekerja di Rumah Sakit Ats Tsaurah Al `Aamm di Kota Ib sebelah selatan Ibukota Shan`a, sebagai sukarelawan. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz sempat menikahi seorang wanita dari daerah tesebut, dan kemudian dikaruniai satu orang anak perempuan. Selanjutnya Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz bekerja di sebuah Rumah Sakit Spesialis Daar Asy Syifaa.

      Pada bulan April 1999 M, Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz divonis penjara seumur hidup dalam kasus “orang-orang yang kembali dari Albania”, padahal beliau sama sekali tidak pernah pergi ke sana. Setelah peristiwa 11 September 2001 M, pada tanggal 28 Oktober 2001 M, beliau ditangkap oleh pemerintahan thoghut Yaman. Selanjutnya beliau dipenjara di rumah tahanan poliyik yang berada di Shan`a selama 2 tahun 5 bulan.

      Terakhir Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz di ekstradisi ke Mesir yaitu pada tanggal 28 februari 2004 M, oleh pemerintah Mesir. Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz dan sejumlah kawan seperjuangannya dipenjara dan ada pula yang divonis hukuman mati.
      Dr Abdul Qodir bin Abdul Aziz memiliki sejumlah karya tulis diantaranya:

      1. Faidhul Karimil Mannaan min Ahammi Furuudhul A`yaan
      (Mendukung [kontradiksi] antara Tauhid dengan Jihad Sebagai Prioritas Yang Paling Penting)
      2. Al Jaami` fie Tholabil `Ilmisy Syariif
      (Kelengkapan dalam Menuntut Ilmu Syar`ie)
      3. Al `Umdah fie I`daadil `Uddah
      (Bekal dalam Mempersiapkan Kemampuan)
      4. Da`watut Tauhid
      (Da`wah Tauhid)
      5. Al Hujjah fie Ahkami Millatil Islamiyyah
      (Hujah dan Kedudukannya dalam Hukum Islam)
      6. Hadzaa Bayaan Lin Naas: Al Irhaabu minal Islaam
      (Penjelasan Bahwa Teror adalah Bagian dari Islam)

      Latar belakang pendidikannya sama sekali bukan dibidang hadits atau ilmu agama lainnya. Gurunya pun tidak jelas siapa. Kalo kita baca CVnya ia adalah buronan pemerintah Mesir yang pada masa itu masih pemerintahan Anwar Sadat dimana Ikhwanul Muslimin dikejar-kejar dan beberapa diantaranya dihukum mati. Maka pemahamannya tidak jauh dari Ikhwanul Muslimin. Dan dari keterangan tersebut ada nama Dr. Aiman Az-Zawahiri yang namanya santer gara-gara menjadi asistennya pahlawan khawarij yang kesiangan Osama bin laden.

      Dia menukil perkataan syeikhul Islam Ibn Taimiyah akan tetapi dari segi penasirannya dia artikan menurut pendapat ia sendiri yang jauh dari pemahaman para ulama salaf terkini seperti Syeikh bin Baz, syeikh utsaimin, syeikh Albani dan yang lainnya…
      Tentang pendapat mereka silahkan baca balasan-balasan saya yang terdahulu

  16. catatanpinggirhati said

    “Latar belakang pendidikannya sama sekali bukan dibidang hadits atau ilmu agama lainnya. Gurunya pun tidak jelas siapa. Kalo kita baca CVnya ia adalah buronan pemerintah Mesir yang pada masa itu masih pemerintahan Anwar Sadat dimana Ikhwanul Muslimin dikejar-kejar dan beberapa diantaranya dihukum mati. Maka pemahamannya tidak jauh dari Ikhwanul Muslimin. Dan dari keterangan tersebut ada nama Dr. Aiman Az-Zawahiri yang namanya santer gara-gara menjadi asistennya pahlawan khawarij yang kesiangan Osama bin laden.

    Dia menukil perkataan syeikhul Islam Ibn Taimiyah akan tetapi dari segi penasirannya dia artikan menurut pendapat ia sendiri yang jauh dari pemahaman para ulama salaf terkini seperti Syeikh bin Baz, syeikh utsaimin, syeikh Albani dan yang lainnya…
    Tentang pendapat mereka silahkan baca balasan-balasan saya yang terdahulu”

    benar2 khas salafiyyun, eh salah madkhaliyyun! menghilang selama beberapa waktu karena berburu sebuah biografi, untuk kemudian antum serang pribadinya. kalau dilihat dari lokasi kita, ia jauh lebih berkesempatan untuk datang dan menuntut ilmu ke masjidil haram atau lain tempat, semisal yordania dan sebagainya. perlukah ia mencantumkan banyak sumber yang kepadanya beliau berguru? ah ini dagangan kalangan antum saja. sama persis dengan kalangan nahdhiyyin yang suka mengunggulkan habib-nya! sedang biografi yang antum sedemikian singkatnya, dan antum telah berani menuduh beliau dengan tuduhan buruk?

    ya, mungkin berbeda karena baik syaikh utsaimin maupun syaikh bin baz tidak pernah terjun secara langsung ke medan jihad. dan kalian bertanya tentang soal jihad kepada keduanya? secara umum mungkin keduanya mengetahui, namun secara rinci, saya belum berani sesembrono itu! sedang syaikh abdullah azzam saja kalian caci, bagaimana pula dengan seseorang yang perannya tidak lebih besar dari beliau dalam dunia jihad saat ini?

    sudahlah, dalam kacamata kalian (ini berarti mata kalian sudah rusak, dalam pandangan saya), sedari lahir seseorang harus suci, tak boleh melakukan dosa, tak boleh dibimbing oleh musuhnya, tak boleh berlatar belakang sufi, misalnya, dan sebagainya dan sebagainya. antum kira, saat antum sekolah dulu siapa yang mengajar? apakah ustadz2 antum saat ini? apakah di antara orang-orang yang mengajar antum dahulu tidak ada orang kafir? apakah di antara mereka tidak mengajarkan nasionalisme, terutama guru ppkn atau pmp? apakah di antara mereka tidak ada yang mengajari evolusi bahkan mendukungnya dan menjadikannya standar kebenaran jawaban tes antum? ini berarti antum didikan sistem pendidikan barat, yang saat ini dikepalai oleh amerika! antum tak jauh beda dengan orang yang antum hujat!

    adillah hai madkhaliyyun! adillah hai kau irja’i! atau barangkali engkau telah siap dengan konsekuensi ketidakadilan antum? silakan kalau ini yang terjadi!

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Yang penting saya dan ikhwan salafy lainnya bukan orang yang suka mentakfir (mengkafirkan) orang lain seperti yang antum lakukan kepada saudara muslim yang lain…dakwah salafy tidak akan berhenti hanya karena antum tidak menerima dalil2 syar’i yang shohih yang dijelaskan dengan sangat jelas dan sejelas jelasnya oleh ulama-ulama Ahlussunnah.

      Ibnul Qayyim rahimahullah ketika memberikan gambaran tentang kaum munafiqin:

      “Mereka itu telah berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan orang yang berpegang dengan keduanya. Mereka menolak untuk terikat dengan hukum dua wahyu tersebut karena merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka dari ilmu yang sebenarnya tidaklah bermanfaat banyaknya ilmu tersebut bagi diri mereka, kecuali hanya menambah kejelekan dan kesombongan. Maka engkau lihat mereka selama-lamanya berpegang teguh untuk mengolok-olok wahyu yang pasti.
      الله يستهزئ بهم و يمدهم في طغيانهم يعمهون
      “Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang ambing dalam kesesatan mereka yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 15) [Shifatul Munafiqin, hal. 7]

      Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang orang yang suka memperolok dan menuduh orang lain sebagai beikut:

      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokan), dan jangan pula wanita memperolok-olok wanita lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari yang memperolok-olokkan. Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar (julukan-julukan) buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan kefasikan sesudah keimanan, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)
      Dan ini merupakan kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

      “Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (Riwayat Imam Muslim, 1/93, hadits no: 90)

      Barokallohu Fiikum

  17. catatanpinggirhati said

    “Yang penting saya dan ikhwan salafy lainnya bukan orang yang suka mentakfir (mengkafirkan) orang lain seperti yang antum lakukan kepada saudara muslim yang lain…”

    “yang penting” adalah frasa yang digunakan oleh orang-orang yang tak mau mendengar pendapat orang lain. dengan perkataan tersebut, ada kemungkinan antum sudah terjangkiti fitnah al halabi yang mengharamkan semua jenis takfir!

    “dakwah salafy tidak akan berhenti hanya karena antum tidak menerima dalil2 syar’i yang shohih yang dijelaskan dengan sangat jelas dan sejelas jelasnya oleh ulama-ulama Ahlussunnah.”

    bukan salafi juga bukan ahlussunah, melainkan madkhaliyyun karena yang antum pakai hanya islam menurut rabi’ bin hadi al madkhali dan muhammad bin hadi’ al madkhali beserta konco2-nya yang condong pada pemikiran ala murji’ah yang mengentengkan amal kekufuran dan ala khawarij yang menghalalkan kekuasaan imam di tangan keluarga sa’ud meski dia bukan dari quraisy!

    Ibnul Qayyim rahimahullah ketika memberikan gambaran tentang kaum munafiqin:

    “Mereka itu telah berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan orang yang berpegang dengan keduanya. Mereka menolak untuk terikat dengan hukum dua wahyu tersebut karena merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka dari ilmu yang sebenarnya tidaklah bermanfaat banyaknya ilmu tersebut bagi diri mereka, kecuali hanya menambah kejelekan dan kesombongan. Maka engkau lihat mereka selama-lamanya berpegang teguh untuk mengolok-olok wahyu yang pasti.
    الله يستهزئ بهم و يمدهم في طغيانهم يعمهون
    “Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang ambing dalam kesesatan mereka yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 15) [Shifatul Munafiqin, hal. 7]

    Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang orang yang suka memperolok dan menuduh orang lain sebagai beikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokan), dan jangan pula wanita memperolok-olok wanita lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik dari yang memperolok-olokkan. Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar (julukan-julukan) buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan kefasikan sesudah keimanan, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)
    Dan ini merupakan kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

    “Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (Riwayat Imam Muslim, 1/93, hadits no: 90)

    lagi-lagi antum memperuntukkan suatu ayat hanya pada orang lain yang berbeda pendapat dengan antum. yang menolak suatu penjelasan hanya berdasar pada sedikit info tentang pribadi penulis pendapat tersebut bukannya antum? yang memperturutkan nafsu memegangi suatu nash tanpa mau tahu kondisi sesungguhnya dari yang ia dalilkan bukannya justru antum? kemarin si sa’ud bareng obama, musuh ummat islam. sebagian dari kalangan antum mengatakan kami terkena konspirasi. dengan fenomena tersebut, siapa kini yang sebenarnya terkena konspirasi jahat amerika? kemarin pula ia memilih menteri seorang perempuan, kemarin lagi, ia penjarakan ulama yang mengkritiknya.

    subhanallah…..

    ya Allah, jangan butakan mata hati kami dari melihat kebenaran dari-Mu ya Allah.

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Apakah lantaran Raja Abdullah bertemu dengan Obama lantas beliau dihukumi kafir dan murjiah, bagaimana dengan rakyat Saudi sendiri, apakah hanya karena penguasanya lantas antum menghukumi semua orang dinegeri Saudi itu adalah murjiah..Apakah Raja Abdullah melarang rakyatnya untuk mentauhidkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Apakah Raja Abdullah melarang untuk menunaikan sholat, zakat, puasa dan haji ?? kan tidak…

      Selama beliau masih bertauhid kepada Alloh dan menjalankan rukun Islam dan rukun Iman, maka kita tidak boleh memberontak kepadanya…

      Coba bayangkan Apalah jadinya jika Rakyat Saudi memberontak, maka akan terjadi pertumpahan darah dinegeri Haramain, negeri yang suci dan diberkati, kita tidak akan bisa berhaji, umrah dan lain sebagainya sebab pusat tauhid ada disana…

      Oleh sebab itu segala sesuatu harus dilihat dari segi maslahat dan mafsadatnya..Tidak asal main tuduh, fitnah, takfir, tahdir dll, semua harus didasarkan pada Ilmu yang dilandasi oleh Al-Qur’an dan Sunnah.

      Barokallohu Fiikum

  18. Abu Ahmad As-Salafy said

    Sebagai tambahan, Syeikh Rabi bin Hadi Al madkhali adalah ulama Ahlussunnah, biografinya insya Alloh segera saya posting. Ini guru-guru beliau dan ilmu yang beliau pelajari dari mereka:
    1. Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.
    2. Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits dan sanad.
    3. Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.
    4. Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul Bayan, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.
    5. Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.
    6. Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.

    Berbicara haruslah dengan ilmu, jangan asal mencap seseorang. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “…dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar (julukan-julukan) buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah panggilan kefasikan sesudah keimanan, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

    Barokallohu Fiikum

  19. catatanpinggirhati said

    ana bilang seperti itu? pertemuan itu setidaknya menunjukkan bagaimana sesungguhnya hubungan dia dengan obama sebagai pemimpin dari negara terlaknat Amerika, negara yang amat terkenal dengan pameo-nya “tidak ada roti gratis, bung”! mungkinkah Obama datang ke Saudi jika si raja murtad ini memihak kaum muslimin? tidak, duhai orang yang memiliki mata! pihak kerajaan justru sering menangkapi orang2 yang oleh kalangan antum dijuluki takfiri dan sebagainya! bahkan salah seorang syaikh antum, ana lupa namanya, ikut2an mencela ikhwan yang melakukan pembunuhan terhadap orang2 kafir di green zone di Riyadh sana, sembari tak lupa memuji setinggi langit penguasa itu! ulama penjilat!

    di sinilah antum salah memahami takfir. penghukuman suatu negara sebagai negara kafir atau muslim tidak lantas menjadikan semua rakyat yang tinggal di dalamnya sebagai kafir atau muslim secara keseluruhan. dalam sirah pun bisa kita lihat, bagaimana pada masyarakat di madinah terdapat orang2 yahudi. namun madinah al munawarrah tetap dikategorikan sebagai negara islam, saat itu, tanpa harus memaksa kaum yahudi untuk masuk islam, atau menyeret2 mereka dalam kelompok muslim. silakan baca kaidah takfir di sini:

    http://millahibrahim.wordpress.com/

    “Apakah Raja Abdullah melarang rakyatnya untuk mentauhidkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Apakah Raja Abdullah melarang untuk menunaikan sholat, zakat, puasa dan haji ?? kan tidak…

    Selama beliau masih bertauhid kepada Alloh dan menjalankan rukun Islam dan rukun Iman, maka kita tidak boleh memberontak kepadanya…”

    jadi tauhid bagi antum hanya sholat, zakat, puasa dan haji? sudah berapa lama antum mengaji? di mana tauhid rubbubiyah? di mana hak tasyri’ yang hanya menjadi kewenangan Allah? di mana antum sembunyikan pendapat syaikh muhammad bin abdul wahhab tentang nawaqidhul islam?

    apakah masih antum katakan ia masih bertauhid? buka mata dan hati antum!

    dia masih menjalankan rukun iman dan islam? rukun islam ya, tapi rukun iman? dia sudah meghapuskan keimanannya kepada Allah dengan memaksakan ketundukannya pada PBB, bukan pada syariat Islam!

    “Coba bayangkan Apalah jadinya jika Rakyat Saudi memberontak, maka akan terjadi pertumpahan darah dinegeri Haramain, negeri yang suci dan diberkati, kita tidak akan bisa berhaji, umrah dan lain sebagainya sebab pusat tauhid ada disana…

    Oleh sebab itu segala sesuatu harus dilihat dari segi maslahat dan mafsadatnya..Tidak asal main tuduh, fitnah, takfir, tahdir dll, semua harus didasarkan pada Ilmu yang dilandasi oleh Al-Qur’an dan Sunnah.”

    ini lebih aneh lagi! kematian sejuta manusia yang masih berpegang dengan tauhid tidak lebih mengerikan daripada matinya tauhid pada jutaan orang yang masih bernyawa! ku kira kelompok antum paling rajin mencermati urusan tauhid ini, nyatanya, tetap saja ia harus mengalah pada kepentigan kebanyakan orang! pantas kalau kemudian, fatwa haramnya demokrasi tidak membuat kelompok antum menggugat lebih lanjut keberadaannya. bahkan antum menerima kepemimpinan hasil demokrasi ini! tak ku kira kalian juga berwatak pragmatis!

  20. catatanpinggirhati said

    walau ana tahu antum tidak akan sudi membacanya, inilah sumber saya: Peringatan bagi manusia dari kesesatan kelompok jaamiyah dan madkholiyah oleh : Abu Muhammad Al Maqdeese Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah, shalawat serta salam untuk Rasulullah Saw, keluarga sahabat dan orang-orang yang loyal kepadanya. Sesungguhnya para pengikut jaamiyah dan madkhaliyah serta orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka sebenarnya mereka tidak lain hanyalah kelompok sesat dan murtad yang berwala’ (loyal) kepada para penguasa negara mereka secara umum dan kepada keluarga Sa’ud secara khusus, mereka itu adalah sekumpulan para ulama’ dan dai-dai penguasa bahkan mereka menjadi informan, intel penolong dan pembelanya. Pada hakekatnya mereka itu khususnya para ulama’ dan dai-dai pada zaman kita ini hanya disebut dengan dua kalimat : (Mereka adalah Khawarij yang murtad terhadap para dainya, atau mereka itu Murji’ah yang zindik terhadap para penguasa thogutnya). Mereka itu terhadap para dai yang mukhlisin seperti orang-orang yang dikatakan oleh Ibnu Umar Ra kepada mereka : (“Sejelek-jelek makhluk yaitu orang yang melihat ayat-ayat yang diturunkan untuk orang-orang kafir lalu dijadikan dalil untuk orang-orang mukmin”). Dan mereka terhadap para penguasa thoghut adalah pemimpin yang suka mabuk dengan pedoman orang-orang yang berkata :(“dosa itu tidak membahayakan selama ada iman”) • Di hijaz, diantara tokoh-tokoh mereka adalah : 1. Muhammad Amman Al Jaami : dia adalah orang yang berasal dari Atsyubi, datang ke Madinah al Munawwarah lalu dimudahkan baginya untuk belajar di Masjid Nabawi dan Jami’ah islamiyah, dia sebagai informan yang terkenal untuk para penguasa kepada para Syaikh dan penuntut ilmu dan sungguh dia itu telah celaka. 2. Robi’ bin Hadi Al Madkhali, seorang guru di Jami’ah Islamiyah yang bekerja penuh untuk para penguasa dan spesialis dalam memfitnah setiap dai yang menentang penguasa, awal kali yang mereka lakukan adalah terhadap Syaikh Mujahid Sayyid Quthub Rhm. 3. Falih bin Nafi’ Al Harbi, Syaikhnya para intel Sa’udi sebagaimana yang telah diketahui oleh Saudara-Saudara kita di Hijaz. 4. Muhammad bin Hadi Al Madkhali, penjahat para pemimpin keluarga Sa’ud dan penyair istana mereka yang sering mengisi di Jami’ah Islamiyah… dia menyerupai khowarij dalam sambutan baiknya dengan menganggap halal darah kaum muslimin dan mendapat berkahnya dengan membunuh mereka, serta mengharamkan darah orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, dia juga mempunyai syair yang berkenaan dengan eksekusi mati dari penguasa Sa’udi terhadap empat orang ikhwan yang bertauhid, yang telah melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang dari musuh islam dan orang-orang Amerika di Riyadh, sebagaimana dia berkata dengan penuh pujian kepada menteri dalam negeri Sa’udi berkenaan dengan tertangkapnya ikhwan-ikhwan tersebut dan menghukum mereka dengan hukuman mati. – Berjalanlah hai anak yang memiliki tauhid!! Yang mengalahkan… – Dan menghancurkan setiap thaghut dan syaitan… – Dan mengangkat bendera islam tinggi-tinggi… – Walaupun ada musuh dan pendengki… – Sedangkan penguasa adalah mereka keluarga Sa’ud. Bagi mereka… – Kita mendengar dan taat yang pasti dengan Al Qur’an… – Dan tidak boleh seorangpun untuk membatalkan bai’at mereka… – Dan barang siapa yang berkhianat maka dia mendapat dosa pengkhianatan… – Wahai para penjaga keamanan setelah Allah di negaraku… – Allah menjagamu dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan… – Wahai bapak Sa’ud semoga Allah memanjangkan umurmu… – Dalam membela agama dan sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan… – Allah…Allah… di dalam buku yang telah tersebar… – Manhaj takfir dan Ikhwan (ikhwanul muslimin)… – Setiap di negeriku telah dipenuhi dengan buku itu… – Dengan harga yang murah atau dengan cuma-cuma… – Bakarlah buku-buku itu dan hukumlah… – Orang-orang yang menjajakannya dikalangan para pemuda… Syair ini menyerupai syair Amron bin Hattan seorang Khawarij Azariqah dalam memuji orang-orang murtad yang membunuh Ali Ra, dan saya mempunyai bantahan terhadap kasidah itu dengan sajak yang sama, di dalamnya saya jelaskan kesesatan pembuat syair ini dan di dalamnya saya singkap kebathilan tuan-tuannya dari kalangan thaghut yang kafir… judulnya (Ilaa Harisit Tandiid Wa Ruhbaanihi). • Di kuwait para ikhwan kita menamakan mereka dengan para pemilik manhaj Al Inbithohi (tiarap) karena mereka melemahkan semangat para dai dan mujahidin dan karena tiarap mereka dari para pemimpin yang suka mabuk, mereka terbagi menjadi dua : yang berkelompok (berjamaah) dan yang tidak berjamaah, mereka berbeda-beda tingkat tiarapnya akan tetapi bertemu (sama) dalam satu pemikiran dan manhaj, diantara pentolan-pentolannya adalah : 1. DR. Abdullah Al Farisy (tidak berkelompok) dia dipecat dari organisasi Ihya’ut Turats, padahal organisasi itu didominasi oleh orang-orang yang beraliran inbithohi, contohnya adalah perkataannya terhadap para dai di dalam kaset (Al Fursan Ats Tsalatsah), Syaikh Abdur Rahim Ath Thahan menyebutnya sebagai (thaghut dan penyeru kesyirikan serta telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kekafiran). Renungkanlah hal ini, lalu kajilah kembali bantahannya mengenai penguasa thaghut dan serangannya terhadap orang-orang yang mengkafirkan mereka dan menamakan mereka dengan thaghut!! Qarun!! Yang mengingatkan pada sabda Nabi Saw mengenai anak-anak kecil yang bodoh dan sejelek-jelek ciptaan : “ Mereka membunuh orang-orang islam dan membiarkan para penyembah berhala” 2. Falah Ismail Mundakar (tidak berkelompok, dia keluar dari organisasi, dan contoh keberanian dia di dalam mengkafirkan para dai yaitu perkataannya di dalam kaset yang direkam (Apabila orang yang beragama fanatik terhadap kelompoknya maka dia telah murtad!!) sebaliknya anda akan melihat dia membela Fahd ketika memakai kalung salib dan mengejek orang-orang yang menghukuminya dengan kekafiran. Untuk itu dia berkata : (Apakah memakai kalung itu merupakan sebuah kekafiran? Siapa yang berkata bahwa berbuat kekafiran itu menyebabkan dia kafir? Adapun berhukum dengan hukum selain apa yang diturunkan oleh Allah, para ulama mengatakan itu adalah kufrun duuna kufrin (kafir tapi tidak kafir), dan yang kedua apakah salib itu benar-benar salib? Ini hanyalah sekedar sebuah upacara keagamaan dan bersifat protokoler saja, yang sudah saling diketahui oleh berbagai negara, dan setiap negara memiliki simbol masing-masing serta hal ini hanyalah sekedar bertukar hadiah sebagaimana yang dilakukan pada masa Harun Ar Rasyid!!!. Jelas kamu tidak akan merasa heran setelah kejadian ini jika kamu mengetahui bahwa pembimbing skripsinya untuk mendapatkan gelar magister bagi Mundakar itu yang paling berpengaruh dari para guru-gurunya adalah Amman Al Jaami. 3. Muhammad Al Anbari (tidak berkelompok) 4. Hammaad Al Utsman (tidak berkelompok) 5. Salim Ath Thawiil (tidak berkelompok) mereka itu sangat rajin dalam menyebarkan kesesatan mereka di kantor-kantor. 6. Adnan Abdul Qodir. 7. Muhammad Al Hammud (keduanya berkelompok dalam satu organisasi). Disana masih banyak lagi nama yang lainnya selain mereka, namun mereka inilah tokoh-tokohnya dan semuanya berkumpul untuk menutupi aib para thaghut dan membela kekafiran mereka serta menganggap mereka sebagai pemimpin yang sah, yang tidak boleh memberontak mereka, diwaktu yang sama mereka melancarkan peperangan terhadap para dai islam dan mujahidin atau orang-orang yang mengkafirkan para penguasa thaghut. • Di Al Imarat (Emirat arab), Abdullah As Sabt (berjama’ah) dia adalah salah satu tokoh (poros) penting di dalam organisasi dan dia sangat giat menyebarkan kebathilan mereka yang telah disebutkan diatas, namun telah tersingkap kebathilannya dan dia telah cacat karena telah melakukan pelanggaran-pelanggaran masalah keuangan di Emirat Arab. • Sedangkan di Urdun, termasuk orang-orang yang berjalan diatas manhaj mereka dan mengikuti langkah-langkah mereka dalam membela thaghut, memerangi para dai dan membuat kebohongan-kebohongan serta penipuan, diantaranya adalah : 1. Ali Al Halabi, orang yang berfatwa yang masyhur mengenai wajibnya melaporkan para dai dan mujahidin yang dia dan para pengikutnya menamakan mereka dengan Takfiriyin (orang-orang yang suka mengkafirkan), sebagaimana yang diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka : Apakah boleh melaporkan perkara orang-orang takfiriyin kepada penguasa pada masa sekarang ini? Lalu Al Halabi menjawa dengan jawaban yang membingungkan dan mengundang banyak penafsiran dengan berkata : (Apabila disana mengakibatkan kepada bahaya, kerusakan umat, penyesatan umat dan membangkitkan kejelekan maka hal ini adalah wajib). Kemudian dia ditanya tentang fatwanya ini pada tanggal 2 Robi’ul Awal 1420, dia menyangkalnya dengan keras dan menuduh bahwa kebiasaan mereka itu suka berbohong kepada para dai!! Lalu disodorkan kepadanya kaset yang di dalamnya terdapat tanya jawab dengan suara Al Halabi, maka dia membuat-buat kebohongan kepada seluruh orang yang mendengar pengingkarannya beberapa saat setelah itu dalam majlis yang sama, yang dilakukan di salah satu rumah ikhwan di daerah Az Zarqo’ (Urdun) setelah shalat isya’ dan diikuti oleh sekitar 40 orang, maka dia berbalik dengan membela fatwanya ini dengan gerah, dan sesungguhnya fatwa itu dimaksudkan kepada orang-orang yang merusak manhaj salafus sholeh terhadap umat. Lalu dia ditanya : Apakah buku-buku dan pandangan-pandangan Syaikh Safar Al Hawali, Syaikh Salman Al Audah dan Syaikh Umar Abdur Rahman Rhm – semoga Allah membebaskan penahanannya – serta orang-orang yang semisal dengan mereka apakah mereka itu termasuk para pemuda muslim yang bermanhaj salaf? Maka dia menjawab tanpa rasa malu dan takut : (Itu termasuk kerusakan tidak diragukan lagi dan tidak disangsikan lagi) . Hal itu sesuai dan sama dengan firqah (kelompok) Yazidiyah dari kelompok Khawarij, karena dalam perkataan mereka dengan membela orang yang bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah walaupun dia belum masuk ke dalam agamanya, namun bersamaan dengan itu mereka berlepas diri dari orang-orang yang bertauhid dan menghalalkan darah mereka. akan tetapi disana ada perbedaan antara dia dengan kelompok Yazidiyah itu, yaitu bahwa Yazidiyah menghalalkan darah orang-orang yang bertauhid karena sebuah dosa sedangkan orang-orang murtad sekarang ini telah menghalalkan darah orang-orang yang bertauhid karena ketaatan, seperti jihad, menerangkan perkataan yang benar dan berlepas diri dari thaghut serta mengkafirkan thaghut dan yang semisalnya. 2. Di Urdun juga ada Salim Al Hilali. Orang yang banyak berbicara tentang mujahidin dan para dai serta yang terkenal dengan pembajak buku-buku para dai dan ulama’. Contohnya lihat buku : (Al Kasyful Mitsali ‘An Saroqoti Salim Al Hilali) oleh Syaikh Ahmad Al Kuwaiti. 3. Masyhur Hasan, oleh Syaikh Ahmad Al Kuwaiti juga ada bukunya (Al Kasyful Masyhur ‘An Saroqoti Masyhur). 4. Termasuk orang yang membantu mereka dalam kesesatan dan juga sebagai penopang dana dengan penuh kemurahan hati adalah Sa’ad Al Hushaini yang ditunjuk sebagai duta besar Sa’udi di Urdun dan dia sebagai warga negara dan pembela Sa’udi hingga pikiran-pikirannyapun mengikuti langkah-langkah Jaamiyiin dan Madkhaliyyiin (pengikut-pengikut Jaamiyah dan Madkhaliyah). • Di Maghribi, langka-langkah mereka diikuti dalam menikam orang-orang yang bertauhid dan membela para thaghut dan orang-orang murtad adalah : 1. Muhammad bin Abdur Rahman Al Maghrawi, dia tidak takut dengan ancaman-ancaman dengan mengangkat perkara-perkara orang-orang yang menyelisihinya dari kalangan para dai kepada penguasa. 2. Diantara mereka yang dari Al Jazair adalah Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani, penulis kitab (Madaarikun Nadhzri Fis Siyasah), dia adalah sejelek-jelek dan seburuk-buruk dan penulisan dalam permasalahan ini, yang pada hakekatnya dia mengajak kepada politik inbithohiyyah (sikap tiarap) yang toleran dan berharap kepada thaghut serta keluar dari para dai, dia juga menganggap penguasa Aljazair dan pemimpin-pemimpinnya adalah sah, maka tidak boleh keluar dari mereka walaupun dengan lisan dan perkataan, oleh karena itu dia hingga sekarang tidak bisa melihat, karena telah buta matanya dan bashirahnya (mata hatinya) tertutup dengan suatu kekafiran yang nyata dan kesyirikan yang jelas serta terang-terangan memerangi agama yang telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin mereka, sebaliknya mereka berpura-pura buta (tidak melihat) akan kekafiran thaghut dan berusaha menutup-nutupinya, kamu akan melihat orang yang jelek ini diatas manhaj Syaikhnya Robi’ Al Madkhali yang melancarkan serangannya terhadap seorang mujahid yang agung Sayyid Quthub, maka tidak ada alasan dengan suatu ta’wil dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengkaji ulang mengenai bencana-bencana yang telah dilakukannya dan orang-orang yang semisal dengan dia yang terus menerus dia gencarkan, mereka tidak menukil dari perkataan Sayyid Quthub sedikitpun dalam rangka untuk membalas secara penuh untuk kebaikan-kebaikan thaghut. Diantara ciri-ciri yang menonjol dari kelompok Al Mariqoh (yang murtad ini) yang orang-orang berkumpul diatasnya sebagaimana yang telah kami katakan mereka itu adalah Khawarij terhadap para dai yang menentang thaghut kafir dan penguasa-penguasa zaman ini secara umum dan thaghut keluarga Sa’ud secara khusus, mereka melancarkan serangannya dan memusatkannya dengan penuh keganasan terhadap setiap dai atau mujahid atau ulama’ atau penulis yang menentang kekafiran-kekafiran penguasa walaupun hanya dengan lisan, maka mereka tidak melakukan hubungan kekerabatan denganmu dan tidak pula mengindahkan perjanjian serta tidak menerima ta’wil dan kesalahan-kesalahannya sebagai alasan .. di waktu yang sama mereka membuat alasan-alasan, alasan-alasan…. Dan alasan-alasan yang lainnya. Serta alasan bagi para thaghut yang kafir dalam setiap perbuata yang mereka lakukan berupa kesyirikan, kekafiran yang nyata dan kemurtadan yang besar. Dan usaha mereka didalam mengadukan para dai dan mengangkat (mengajukan) keputusan bagi para dai kepada thaghut telah tersingkap oleh setiap orang dan tidak ada yang mengingkarinya bahkan dengan kesesatan dan kezindikan mereka, mereka menganggap hal ini sebagai pendekatan diri kepada Allah, sesuatu yang ma’ruf dan merupakan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada Allah swt!! Syaikh Abu Qatadah Al Falistini rhm berkata – tentang kelompok ini – : “dalam perkembangannya dari tahun ke tahun tidak mungkin pengikut-pengikutnya bersikap netral ketika mereka melakukan sebab-sebabnya dan mengambil langkah awal dalam bersikap, perkembangan inilah yang kami ingatkan darinya dan kami melakukan pengingkaran-pengingkaran terhadap langkah awal dalam bersikap ini, maka merahlah hidung-hidung mereka karena adanya pengingkaran ini dan marahlah hati-hati mereka karena peringatan ini, akan tetapi apa yang telah kami ingatkan telah terjadi, dan AS SALAFIYYAH telah menjadi pekerja-pekerja (kaki tangan) keluarga Sa’ud yang busuk, diawali dengan sebagai kaki tangannya inilah kaum salafi meyakini akan keabsahan kepemimpinan ALI SA’UD DI JAZIRAH ARAB, bahkan sebagian mereka telah ikut masuk kedalam kesesatan mereka karena bukan hanya meyakini akan kepemimpinan mereka akan tetapi pembicaraan mereka sudah sampai pada masalah keyakinan bahwa raja yang terlaknat FAHD BIN ABDUL AZIZ apakah dia berada diatas aqidah salaf atau bukan? Bahkan pembicaraannya mendekati atau hampir mencapai pada batasan apakah dia termasuk thoifah manshurah atau bukan? Dengan adanya langkah awal yang aneh dan mengherankan ini, permasalahan ini sampai kepada penamaan kelompok ini dengan nama AS SALAFIYYAH, yang meyakini bahwa Robi’ Al Madkhali adalah sebagai imam dan Syaikhnya, hingga terbentuk kaki tangan keluarga Sa’ud yang terlaknat dengan secara terang-terangan dan buka-bukaan, yang menjalankan hukum dengan hukum selain syareat Allah, yang berwala’ (loyal) dengan musuh-musuh agama serta yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman”. Dari mana hukum ini kita dapatkan? : Di dalam risalah yang diberi judul oleh penulisnya : (At Tandhim As Sirri Al ‘Alami Baina Tahktith Wa Tathbiq Fil Mamlakah Al Arabiyyah Haqoiqun Wa Watsaiq). Sekelompok orang-orang salafi yang jelek menyebut diri mereka dengan nama (Salafi Ahlil Wala’) artinya Salafi yang loyal kepada penguasa Saudi dengan membuat Risaalah Amniyah Fikriyah, yang ditujukan kepada menteri dalam negeri pemerintahan Saudi Nayif bin Abdul Aziz, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam hal itu sebagaimana yang mereka katakan : “Dengan menghabiskan waktu yang sangat lama dan usaha yang keras dan mereka memuji Allah dengan dapat melewati kesulitan-kesulitan dan dengan kemudahan bagi mereka dalam menjaga rahasia ini hingga sampai kepada menteri dalam negeri yang mulia!!! Mereka mengucapkan terima kasih kepada Syaikh-Syaikhnya yang memberi bantuan kepada mereka dengan pelajaran-pelajaran yang lurus dan arahan-arahan yang benar yang sangat mereka butuhkan. Dan para Syaikh membenarkan sebagian yang telah mereka tulis (maka semoga Allah memberi balasan kepada mereka atas jasanya kepadaku dan kepada kaum muslimin yang mengambil manfaat darinya, dan atas pemahaman salafus shaleh yang mereka sebarkan dimanapun berada serta loyalitasnya yang kuat dan pembelaannya kepada pemerintah yang sesuai dengan sunnah ini dengan balasan yang baik dan semoga dipanjangkan umurnya. Sebagaimana juga aku mengucapkan rasa terimakasih kepada pemimpin-pemimpin kami yang mencintai para penasehat-penasehat yang mukhlis dan menghasung untuk saling bekerja sama yang menguntungkan yang terjalin dengan baik bersama mereka, yang membuka hati-hati mereka sebelum membuka pintu-pintu mereka, memperhatikan setiap nasehat-nasehat yang sampai kepada mereka dengan perhatian secara khusus, inilah yang mendorong dan menyebabkan kami membuat penulisan catatan-catatan ini dan mengemukakan judul ini dengan sejelas-jelasnya dan sesuai dengan realita, serta kami mengharapkan mendapat keridhoan dan kebaikan mereka, maka saya katakan dengan yakin : bahwa jikalau bukan karena kesabaran dan kemurahan hati kalian untuk kaum muslimin dan sambutan kalian terhadap nasehat-nasehat para pembimbing maka saya tidak akan berani di dalam mempersiapkan dan mengumpulkan catatan-catatan ini, kalau bukan karena kewajiban nasehat untuk kalian dan tuntutan wala’ (loyalitas)ku yang murni dari hati nuraniku bagi kalian maka saya tidak akan bersemangat untuk menyampaikannya kepada kalian dan memberikannya secara khusus bagi kalian, maka terimalah, ini bukan berarti aku memerintahkan untuk menerimanya, karena kalian adalah pemimpin bagi orang-orang yang kalian berikan baginya dan bagi keluarganya berupa kebaikan-kebaikan yang tidak mampu membalasnya kecuali Allah, pelajarilah saran-saran mereka dan kalian lebih memahami apa yang akan kalian pilih darinya. Kemudian saya mempunyai harapan yang lain – dan berharap kepada orang-orang yang mulia dan memiliki keutamaan adalah berharap untuk dikabulkan – untuk tidak menghukum kami lantaran penyimpangan-penyimpangan atau aib-aib yang telah kalian dapatkan pada kami, hal itu adalah merupakan tabiat manusia yang banyak terdapat pada diriku, semoga Allah mengekalkan kemuliaan dan kebesaran kalian dengan pengabdianmu untuk islam dan kaum muslimin serta penerapan hukum dengan syreat Allah yang jelas-jelas telah kalian lakukan, hinalah orang-orang yang menentang, jengkel, hasad dan musuh-musuh Allah yang selalu mengintai). Dengan perkataan-perkataan yang penuh penghambaan kepada keluarga Sa’ud, orang-orang Salafi menutup catatan-catatan mereka untuk badan intelejen. Apa catatan itu? : Catatannya mengingatkan kepada pemimpin-pemimpin – keluarga Sa’ud – akan adanya Tandhim Sirri Islami (sistem rahasia yang islami) yang berusaha untuk mendirikan daulah islam. Nasehat itu bunyinya : (Tandhim ini ada yang nampak dan ada yang tersembunyi, yang nampak dari tandhim ini adalah yang dapat dilihat oleh setiap orang yang memiliki mata yaitu : Berdakwah kepada Allah dibawah syiar (slogan) Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan amar ma’ruf nahi mungkar…. Sedangkan tandhim yang tersembunyi : Program-program yang menteror dan mengancam, persiapan-persiapan yang matang, pelaksanaan yang bertahap, perkumpulan-perkumpulan yang mencangkup seluruh masyarakat dan hal ini menyebar dengan cepat keseluruh bidang serta berbagai kegiatan, berpura-pura mencintai perangkat negara dan berteman dengan pemerintahan serta menempatkan di dalamnya pusat-pusat evakuasi, semua itu sebagai sarana untuk menghantarkan mereka sampai keperintahan untuk menegakkan negara islam yang telah mereka cari-cari”. Lalu perkataannya dilanjutkan oleh pengarang Al Amniy : “Sesugguhnya apa yang saya sebutkan tentang berbagai macam tingkatan akan kondisi realitas adalah karena banyaknya program-program tandhim sirri (sistem rahasia) internasional selama lebih dari 14 tahun, itu sebagian kecil dari segelintir saja dari banyaknya tandhim-tandhim sirri yang ada. Itu yang telah saya jumpai sendiri secara pribadi, atau yang saya dengar dari orang-orang yang berwala’ (loyal) di Madinah Munawwarah, atau dari para pelajar dari orang-orang salafi yang loyal dan yang telah diketahui oleh orang-orang selainku – dari orang-orang khusus – yang telah banyak saya sebutkan”. Maka catatan itu adalah laporan data kepada intelejen dengan jelas, benar-benar bahwa didalamnya terdapat beberapa penipuan yang keji karena di dalamnya mencampur adukkan sekumpulan para dai dan pemikir serta menjadikan mereka dalam satu tandhim dengan membuat headline yang dijadikan sebagai laporan yang sangat mirip dengan laporan-laporan surat kabar yang dilakukan oleh majalah-majalah jahat, akan tetapi yang kami anggap penting adalah orang yang sangat berbahaya ini semakin bertambah kuat dalam diri para pemuda salafi sebagaimana mereka telah sampai pada permasalahan yang sangat berbahaya ini, yaitu menyibukkan diri dengan terang-terangan terhadap kaum muslimin mengenai kepentingan-kepentingan thaghut Sa’udi yang jahat dan busuk. Dan orang-orang yang memberikan laporan ini berharap agar pemimpin mereka menjadikannya sebagai serangan terhadap para dai yang mereka sebut dalam laporan itu adalah melawan Syaikh Safar dan Salman (seandainya sikap positif yang sering dilakukan akhir-akhir ini oleh Hai’ah Kibarul Ulama’ (lembaga ulama’-ulama besar) seperti Salman Audah dan Safar Hawali serta selain mereka berdua dari orang-orang yang berjalan diatas manhaj kelompok mereka berdua, dengan sangat jelas sungguh itu adalah merupakan kebaikan yang sangat besar) (dan menjadikan laporan itu sebagai dasar pemikiran tandhim, yaitu pemikiran dan manhaj Sayyid Quthub Rh dan berkata : “Maka dari itu sarana yang paling bermanfaat dan kuat sebagai solusi adalah menkritisi (mengoreksi) pemikiran dan manhaj Sayyid Quthub yang tersebar di berbagai buku yang sangat disayangkan masih tersebar di negara kita hingga hari ini… dan untuk diketahui bahwa mengoreksi pemikiran dan manhaj Sayyid Quthub itu pada hakekatnya adalah mengoreksi pemikiran dan manhaj tandhim sirri yang dia pelopori. Maka hendaknya betul-betul memfokuskan pada permasalahan ini, karangan-karangan, rekaman-rekaman dan penyebaran dengan segala sarana yang memungkinkan, dalam hal ini banyak karangan-karangan fadhilah Syaikh ustadz DR. Robi’ bin Hadi Al Madkhali yang dikhususkan untuk mengoreksi pemikiran dan manhaj Sayyid Quthub dan dia didukung oleh kebanyakan para ulama’ besar dan selain mereka, serta mereka memuji apa yang telah dia tulis. Menyebarkan dan membagi-bagikan tulisannya adalah menbandung manfaat yang sangat besar sekali, karena dengan izin Allah akan berperan andil dalam menjaga kesatuan negara yang dijadikan obyek (tujuan) dari kelompok-kelompok politik untuk menghantarkan mereka kepada jalan kekuasaan dan menjadi sebab yang sangat penting dengan kehendak Allah untuk mengembalikan kebanyakan orang-orang yang terpengaruh dengan manhaj atau pemikiaran atau sesuatu dari mereka kepada manhaj yang asli yang dipegang oleh ulama dan negara, maka wajib menyokongnya dengan materi dan membagi-bagikannya ke daerah-daerah seluas-luasnya dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan rintangan-rintangan baik dalam bentuk penulisan atau percetakan atau penyebaran, karena hal itu telah menjadi bagian peperangan melawan pengikut-pengikut tandhim ini dengan segala cara, dan mereka telah sukses pada batas-batas tertentu”). Lalu penulis laporan mulai membuka (menyingkap) sarana-saran Hizbus Sirri (sesuai dengan akalnya) di dalam mencapai tujuan tujuannya. 1. Penugasan untuk berkhutbah di mihrab-mihrab dan mimbar-mimbar, serta mendirikan majlis-majlis di Masjid-Masjid, mengadakan dialog-dialog dan diskusi-diskusi mingguan dan bulanan, sebaliknya (sesuai dengan perkataannya) mereka tidak meminta dan memanggil seorangpun dari para Syaikh di Madinah al Munawarah, dan tidak mengundang para pelajar salafi ahlul wala’ untuk mengisi ceramah atau ikut serta dalam diskusi bahkan mereka secara terang-terangan melarang akan hal itu atau membuat-buat alasan dengan segala cara, dan itulah yang dilakukan oleh pusat dakwah di Madinah sejak tahun 1412 H tanpa bekerja sama dengan para Syaikh atau mengumumkan dialog-dialog mereka dengan alasan yang jelas dalam hal itu. Begitu juga apa yang dilakukan oleh pusat dakwah di Riyadh dengan berusaha untuk melarang Syaikh Falih Al Harbi untuk mengisi ceramah (padahal dia adalah salah seorang penasehat) pada salah satu perguruan tinggi di Riyahd. Dan yang lainnya terjadi di kota Al Majma’ah ketika Syaikh Abdul Aziz bin Baaz mencoba masuk kota itu lalu pusat dakwah memutuskan untuk berdialog dengan beliau namun ada pengumuman susulan untuk membatalkan acara itu. 2. Mengembangkan pusat-pusat penelitian, memperluas dalam membuat yayasan-yayasan ilmiyah dan masuk ke dalam instansi hukum, dia bekata : “Sekumpulan para hakim yang memperjuangkan manhaj hizbi (kelompok) atau orang-orang yang terpengaruh dengannya sampai menduduki jabatan-jabatan yang bermacam-macam, ada yang sampai berhasil menguasai jabatan hakim untuk mewujudkan beberapa tujuan-tujuan kelompok tersebut, seperti apa yang dilakukan oleh salah seorang hakim di Madinah Munawwarah dengan mengancam seorang pemilik rekaman yang terkenal dengan tuduhan bahwa kasetnya menyebabkan perbedaan dan mengakibatkan perpecahan. Dan menamakan sebagian kaset-kasetnya diantaranya, bantahan Syaikh Muhammad terhadap DR. Safar Hawali ditengah-tengah krisis teluk dan mengancamnya dengan mensegel tempatnya (menutup tempat rekaman”). 3. Memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan milik Masjid-Masjid, dan mengadakan acara-acara para pemuda dipusat-pusat kegiatan pada musim panas serta di camp-camp militer, kelompok-kelompok pramuka dan petualangan-petualangan serta masuk ke lembaga Amar ma’ruf dan nahi munkar, berkata penulis laporan ini : “Di bidang amar ma’ruf dan nahi munkar ini mereka telah berhasil mencapai pada jabatan yang tinggi dan strategis, dan mereka tidak memilih berbagai pimpinan cabang, pusat dan bagian-bagiannya – kebanyakan – kecuali dari orang-orang yang setuju dengan manhaj perjuangan, dan orang-orang yang tidak menyelisihinya serta orang-orang yang tidak banyak berkomentar tentang dakwahnya, setiap orang yang nampak berbeda dengannya atau nampak dia seorang salafi yang loyalis kepada pemerintahan maka dia akan dicopot dari jabatannya dengan sepenuhnya”. Contoh seperti ini sangat banyak, diantaranya apa yang terjadi dengan pimpinan pusat di daerah At Thoowiyah sebagaimana dia menjadi kandidat yang dinominasikan untuk menaikkan jabatannya kepada posisi yang kosong di pusat yang sama, akan tetapi mereka berubah pandangan tentang itu setelah terjadi dialog antara dia dengan wakil ketua umum bagian administrasi dan bendahara yang mana di dalam diskusi itu dia mengingkari perkataan dia yang disampaikan di dalam kepemimpinan pergerakan dan dia memperingatkannya. 4. Perang teritorial dengan rekaman-rekaman yang islami yang mencapai lebih dari 250 tempat di berbagai daerah di Saudi, dia berkata : “Dan tidak tersebar kecuali kaset-kaset para dai hizbi daripada orang-orang yang melarang atau dari orang-orang yang nampak berbeda, dan mereka tidak menerima peredaran satu kasetpun dari kaset-kaset para Syaikh di Madinah… ini selain penguasaan mereka untuk beberapa petugas di kementrian penerangan dan beberapa cabangnya dengan hal-hal yang memudahkan kaset-kaset mereka tersebar luas, padahal beberapa kasetnya mengandung masalah-masalah yang berbahaya dan menyerang agama dan negara, seperti kaset-kaset Salman Audah, yang terakhir seperti Shoni’ul khiyam dll. Sesungguhnya perilisan kaset-kaset ini oleh kelompok tersebut adalah pembicaraan yang sangat menyedihkan, itu disebabkan eratnya hubunganku dan pergaulanku bersama mereka, akan tetapi saya bersyukur kepada Allah yang telah membimbingku untuk mengikuti dua orang ahlul wala’ dalam membuat sebuah kajian yang realistis dan bersifat lapangan serta dikuatkan dalil-dalil tentang pemanfaatan orang-orang yang berjama’ah dengan cara-cara yang sangat penting sekali seperti kaset ini, kemudian memberikan solusi yang sesuai dengannya dan didukung oleh keadaannya yang realistis, dan Allah telah membimbing kami untuk menyampaikannya kepada yang mulia meteri dalam negeri pada pertengahan tahun 1414 H”. 5. Perhatian tentang kewanitaan, dan berkata informan intelejen : “Dan tidak tidak ketinggalan juga saya ingatkan disini tetang permasalahan yang sangat berbahaya, bahwa pusat-pusat dakwah dan bimbingan di Madinah sejak tahu 1412 H hingga sekarang telah mangumumkan adanya ceramah-ceramah khusus bagi wanita, kebanyakan para pengisinya (nara sumbernya) adalah para pemuda yang berjama’ah, sebaliknya mereka berusaha untuk menipu para Syaikh dari Madinah untuk tidak menerima atau tidak mengumumkan ceramah-ceramah mereka dengan segala methode dan sarana pembolehan akan hal itu. Dilanjutkan data-data tersebut dengan menyingkap tandhim khayalan ini… dan sangat terpuji langkah-langkah yang dilakukan oleh beberapa negara yang melarang kegiatan-kegiatan islam, lalu dia berkata : “Dan saya sangat ingin tunjukkan disini bahwa tindakan-tindakan yang diambil oleh pemerintah Mesir akhir-akhir ini berkenaan dengan peredaran buku-buku yang jelas-jelas menyelisihi pelajaran islam yang benar dan pembentukan lembaga-lembaga yang bekerja sama dengan Al Azhar yang mengurus masalah pelajaran buku-buku yang beredar di pasar-pasar Mesir serta mengeluarkan larangan untuk setiap buku yang berusaha membuat kacau gambaran tentang islam, sesungguhnya pemerintahan kita yang berbarakah ini harus mengambil tindakan-tindakan yang banyak lagi dengan data-data (laporan) seperti ini”. Kemudian laporan ini diakhiri dengan nasehat-nasehat dan bimbingan-bmbingan mengenai solusi untuk menghadapi tandhim ini. Yang paling penting adalah : mengkritisi buku-buku haraki (pergerakan) dan bersandar kepada buku-buku Al Madkhali (karangan-karangan Rabi’ Al Madkhali), dalam hal ini dia berkata : “Solusi inilah yang Allah tunjukkan kepada yang mulia Syaikh DR. Ustadz Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dalam seluruh karangan-karangannya dahulu maupun sekarang”. Dia menyeru untuk memperhatikan kepada kaset-kaset yang membantah orang-orang yang berjama’ah, lalu memuji Al Madkhali dan Amman Al Jaami serta kelompok keduanya : “Dan kaset-kaset mereka yang telah direkam dalam hal itu telah mendapatkan manfaat yang sangat besar sekali bagi masyarakat, ceramah-ceramahnya yang paling penting dan sudah direkam adalah : (Fa’tabiruu Yaa Ulil Abshaar), (Yaa Ahlal Bilaad Iyyaakum Wa Kufril Mun’imin) dll, oleh yang mulia Syaikh Falih bin Nafi’, dan (Lasnaa Ghoofiliin Walakin Nataghaafal), (Al baroo’ah ilallah Mimmaa Jaa’a Fii Syariith Fafirru Ilallah), (Liqaa’ Maftuh) dan (Katsbun Wa Watsaaiq)dll oleh Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali, juga (Risaalah Ilal Akhi Safar Al Hawali) dll oleh Oleh Muhammad Amman Al Jaami, serta ceramah-ceramah lainnya yang sangat bagus dan penting, yang paling besar dalam mewujudkan rekaman dan pengedarannya adalah studio rekaman At Thoyyibah di Madinah, yang berhak untuk mendapat bantuan dan semangat karena tekadnya yang besar dari para pegawainya ditengah-tengah krisis teluk hingga hari ini, begitu juga dari bidang penulisan dan pengarangan bagi orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah dalam hal itu diantara mereka seperti kitab Syaikh Robi’ Al Madkhali (Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Fi Naqdil Kutub Wa Rijaal Wath Thawaif) dan kitab lainnya (Ahlul Hadits Hum Ath Thoifah al Manshurah Wal Firqah An Najiyah) (Hiwar Ma’a Salman bin Fahd Al Audah) dan kitab yang mengandung seluruh permasalahan ini yang disusun dan dikeluarkan oleh yang mulia Syaikh Falih bin Nafi’ Al Harbi dengan judul (Lughatul Hiwaar Fil Manhaj Wal Afkaar Ma’a Salman Al Audah Wa Safar Al Hawali). Dan yang banyak mengandung perkataan-perkataan mereka yang direkam dan ditulis yang menyelisihi manhaj salafus shaleh disertai bantahannya serta penetapan manhaj salafus shaleh didalamnya. Kitab itu adalah (Haqiiqatud Da’wah Ilallah Wa Maa Ikhtashshot Bihi Jaziiratul Arab Wa Taquumu Manahijud Da’awaat Al Islamiyyah Al Waafidah Ilaiha) ditahqiq dan ditakhrij oleh Syaikh Falih Al Harbi”. Kemudin sampai pada perkataan selanjutnya : “Hendaknya betul-betul diberitahukan oleh para pemimpin dan penanggung jawab dari orang-orang yang loyalis akan pentingnya menyampaikan hal ini kepada menteri dalam negeri sebelum mencalonkan atau menaikkan jabatan atau menugaskan siapapun pada jabatan-jabatan pusat dan strategis, dan menanyakan keadaannya, jati diri yang sebenarnya dan loyalitasnya serta seberapa besar manfaat dan mashlahatnya”. Dan mendorong untuk betul-betul menjaga perangkat keamanan di dalam negara bersama para Syaikh yang loyalis dari kalangan orang-orang salafi yang ikhlash khususnya diantara mereka yang berasal dari Madinah Nabawiyah, disebabkan tindakan-tindakan mereka yang telah disebutkan diatas dan sudah diketahui oleh setiap orang (sesuai dengan lafadznya)”. Dengan ini selesailah pemaparan laporan data-data intelejen salafi untuk diserahkan secara langsung kepada menteri dalam negeri dikarenakan kebesaran daulah islamiyah kepada sejarah kepahlawanan yang berani, kecerdikan yang tinggi, pemimpin yang arif, seorang satrawan dan kritikus yang mulia Imam akbar Nayif bin Abdul Aziz, maka hiduplah suatu kelompok salafi yang loyalis. Dan saudaraku saya mempunyai beberapa point penting terhadap laporan ini saya paparkan dengan singkat diantaranya: Pertama : Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para antek-antek thaghut itu hasil dari kejadian yang bertahun-tahun bagi orang yang menyatakan akan kepemimpinan keluarga Sa’ud atau selain mereka dari kalangan pemimpin-pemimpin kafir yang murtad, ini adalah data-data dan laporan dari Sa’udi, begitu juga orang-orang yang seperti itu banyak sekali terdapat di Aljazair, Libya, Urdun, Mesir dan Suriah, sesungguhnya apabila seseorang meyakini kebenaran (keabsahan) wala’ (loyalitas) kepada para penguasa maka dia tidak akan menolak untuk menjadi mata-mata bagi mereka terhadap kaum muslimin, dan sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesal, untuk itu hendaknya hati-hati dari orang-orang yang memiliki pemikiran-pemikiran seperti ini. Kedua : Pemerintah thaghut Saudi telah mampu membentuk pasukannya dari para Syaikh salafi di seluruh dunia sebagai antek-anteknya mereka menulis data laporan keamanan tentang kegiatan-kegiatan harakah (pergerakan) islam, ini semua juga hasil dari apa yang dilakukan selama bertahun-tahun, sesungguhnya seorang salafi yang meyakini keimaman Abdul Aziz bin Baz, Muhammad Shalih Al Utsaimin, Lahidan, Fauzan dan Rabi’ Al Madkhali siapapun dia dan dari manapun dia, sesungguhnya dia pada akhirnya akan meyakini kepemimpinan keluarga Sa’ud, karena para Syaikh mereka yang beragama telah mengiklankan wala’ (loyalitas) dan ketaatan mereka kepada keluarga Sa’ud, maka pemimpin Syaikhku adalah juga pemimpinku dan imam bin Baaz adalah imam orang-orang salafi, maka begitu juga Fahd bin Abdul Aziz adalah imam orang-orang salafi di seluruh dunia, karena dia adalah imam resmi bagi para Syaikh salafi yang baru, maka dari itu disana jangan heran akan adanya pelajar salafi dari Aljazair, Libya, Urdun, Mesir, Suriah, India dan Pakistan serta dari negara-negara lain yang menjadi antek-anteknya keluarga Sa’ud dengan pekerjaan-pekerjaan yang telah disebutkan diatas. Ketiga : Sesungguhnya disana terdapat perbedaan antara tholibul ilmi (penuntut ilmu) yang berbeda pendapat dengan para pekerja yang mendapatkan gaji, namun orang-orang salafi ini yang telah menjadi pekerja yang digaji, berdasarkan dengan pemikiran seperti ini hendaknya kita mendiskusikan dan melakukan dialog bukan atas dasar perbedaan dalam satu sisi pemikiran dan perbedaan manhaj dan hendaknya kita mengetengahkan perbedaan ini dalam diskusi serta dialog dan itu sangat penting sekali. Orang-orang salafi ini hendaknya kita letakkan pada barisan pekerja-pekerja yang mendapatkan gaji dengan kewajiban dan hak-hak mereka tanpa di sembunyikan dan dirahasiakan lagi. Keempat : Sesungguhnya apa yang kami katakan adalah keadaan yang sebenarnya dan realitas yang terjadi, sesungguhnya banyak para pelaku dan harakah yang telah disingkap perkaranya serta terbuka rahasianya melalui jalan para pekerja (antek-antek) salafi ini, diantaranya adalah laporan data ini serta yang lainnya, sesungguhnya ditanganku ada laporan-laporan keamanan yang lainnya milik Syaikh DR. Amman Al Jaami (Syaikhnya orang-orang salafi) yang diajukan kepada Sulthan bin Abdul Aziz, juga kepada pemimpin orang-orang salafi Fahd bin Abdul Aziz yang lebih jelas daripada hal ini. Maka hati-hatilah dan hati-hatilah dari orang-orang salafi yang busuk ini, kami dalam tulisan ini belum bisa dapat menyingkap nama-nama para antek-antek ini baik personil-personil maupun kelompok-kelompoknya akan tetapi tidak mustahil saudara mengetahui tanda-tanda dan petunjuk-petunjuknya untuk dapat mengetahui kelompok-kelompok dan personil-personilnya. Selesailah ringkasan dari makalah-makalah diantara dua manhaj makalah no 76. Termasuk diantara kebid’ahan mereka adalah juga sama dengan Khawarij dan Mu’tazilah tentang kebid’ahan menjadikan kepemimpinan selain dari quraisy. Sesungguhnya mereka menamakan Fahd bin Abdul Aziz dengan imam kaum muslimin, sesungguhnya mereka mengikuti manhaj Khawarij dan Mu’tazilah tentang tidak menganggap syarat orang quraisy didalam keimaman … kajilah kembali hal itu dalam Shahih Al Bukhari, Kitabul Ahkam Bab : Al Umara’ min quraisy, dan kitab-kitab sunnah dan fiqh serta hukum-hukum kepemimpinan yang lainnya. Sesungguhnya itu adalah masalah yang sudah diketahui dan kamu tidak akan kesulitan dalam mengkajinya… bahkan imam Al Hafidz Ibnu Hajar menukil di dalam kitab Fathul Baari dari Qadhi Iyadh, perkataannya adalah : (“Disyareatkan pengangkatan imam dari quraisy oleh seluruh madzhab ulama’ dan mereka memasukkannya kedalam masalah ijma’, serta tidak ada seorangpun dari para salaf berpendapat yang menyelisihi hal itu dan begitu juga orang-orang setelah mereka diseluruh tempat” dia berkata : “Namun tidak termasuk perkataan Khawarij dan orang-orang yang sepakat dengan mereka dari kalangan mu’tazilah”). (XIII / 91). Padahal telah diketahui bahwa thaghut-thagut mereka itu tidak menguasai (memiliki) sifat-sifat kepemimpinan, artinya syarat dari syarat-syarat kepemimpinan, maka permasalahannya tidak berhenti hanya tentang syarat dari quraisy saja, karena dia tidak berakal, bukan islam, tidak berilmu bahkan tidak mempunayi muru’ah (kewibawaan) atau sifat-sifat lelaki. Maka dengan hal itu mereka lebih jelek dan jahat daripada orang-orang Khawarij, karena Khawarij tidak membolehkan kepemimpinan orang kafir dan murtad sebagaimana yang telah mereka lakukan. Maka renungkanlah berapa banyak sifat Khawarij di dalam manhaj mereka terhadap para dai, kemudian kamu akan melihat mereka para dai yang mukhlis dan para mujahidin bahwa mereka adalah orang-orang Khawarij dan Takfiriyyin untuk memuaskan thaghut-thaghut mereka…. – Mereka menuduh orang-orang tersebut melampaui batas, padahal mereka… – Mereka lebih pantas disebut orang yang melampaui batas…. – Untuk membela perbuatan-perbuatan orang-orang yang jahat…. – Atau sebagaimana yang dikatakan : dia menuduhku dengan kejelekannya lalu dia bersembunyi….. Diantara kebid’ahan mereka juga adalah mengeluarkan masalah tauhid kepada Allah di dalam pembuatan hukum dan syareat – atau yang dikenal dalam istilah modern dengan kehakiman – dan memisahkannya dari tauhid, dan memasukkannya kedalam kebid’ahan yang diada-adakan bahkan memasukkan orang-orang yang perhatian terhadap rukun yang mulia ini termasuk orang-orang yang setuju dengan rukun syiah di dalam aqidah mereka yang jelek tentang kepemimpinan, lihatlah perkataan Rabi’ bin Hadi Al Madkhali di dalam kitanya (Manhajul Anbiyaa’ fid Dakwah Ilallah) dan diikuti maksudnya oleh Al Halabi di dalam kitabnya (At Tahdziir Min Fitnatit Takfiir) keduanya hanyalah berbuat kebohongan dan pencampuradukan lalu dia berpegangan dan bersandar di dalam menjelekkan orang-orang yang perhatian terhadap rukun ini dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyyah dalam membantah orang-orang Rafidhah di dalam akidah tentang kepemimpinan dan cabang-cabangnya yang sesat dan rusak menurut mereka sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Minhajus Sunnah. Termasuk kebid’ahan mereka adalah tidak mahu menerima alasan para dai dan mujahidin dalam menta’wilkan atau melakukan kesalahan mengenai masalah-masalah yang tersembunyi atau musykil atau yang tidak diketahui kecuali dengan jalan penjelasan dan penyampaian hujjah ar risaliyah dan yang semacam itu, dari hal-hal yang dapat diterima alasan-alasannya oleh ahlus sunnah, namun menerima alasan para thaghut dan orang-orang kafir dengan kekafiran mereka yang sangat jelas dan kemurtadan mereka yang besar, serta membela mereka dengan berbagai macam sarana dan methode…. Hal itu nampak dengan jelas di dalam perlakuan Al Madkhali, dan seluruh orang-orang yang berjalan diatas manhajnya terhadap Syaikhul mujahid Sayyid Quthub Rh di seluruh tulisannya… Dan orang-orang akan bertanya dengan penuh pengingkaran : “Apakah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan Sayyid Quthub lebih besar dan berat menurut orang-orang yang murtad dan para pengikutnya dari pada dosa-dosa pemimpin yang suka mabuk Fahd, pemimpin para pengikutnya Madkhali dan Al Jaami”? hingga Fahd dan para thaghut semisalnya selamat darinya dan dari lisannya yang panjang dan kritikannya yang pedas, sedangkan Sayyid Quthub tidak selamat darinya! Subhanallah !!! mereka itu telah menutupi aib Fahd dan orang-orangnya, perbuatan-perbuatan, kejahatan-kejahatannya dan penolong-penolongnya dari barat hingga timur serta berhukum dengan undang-undang (mahkamah) thaghut baik nasional maupun internasional, dan membela perbuatannya seperti memakai salib juga peperangan mereka terhadap orang-orang yang bertauhid dan mujahidin, semua itu menurut mereka adalah merupakan pilihan yang baik dan pembelaan serta penta’wilan yang dibolehkan, sedangkan beberapa kecacatan, takwil-takwil dan kesalahan-kesalahan yang dapat diterima oleh ahlus sunnah tidak diberi ruang gerak baginya dan tidak melakukan pembelaan sebagaimana pembelaan yang diberikan kepada kekafiran Fahd dan pemimpin-pemimpin kafir serta pentolan-pentolan kemurtadan yang lainnya!! Syaikh Bakar bin Abu Zaid berkata di dalam risalahnya yang ditujukan kepada Rabi’ bin Hadi Al Madkhali seputar beberapa tulisan Al Madkahli dan serangan-serangannya secara terang-terangan terhadap Sayyid Quthub Rhm : (Maka saya anjurkan kepadamu untuk membaca buku yang terlampir (Adhwa’un islamiyyah ‘ala Aqidah Sayyid Quthub Wa Fikruhu) apakah ada hal-hal yang perlu untuk dicermati, lalu apabila ada yang perlu dicermati apakah diselesaikan saja proyek ini lalu ditutup dan tidak perlu untuk dibicarakan lagi? Atau itu sesuatu yang mungkin dapat diperbaiki dan diluruskan kemudian setelah itu dipelihara buku-buku yang telah dicetak dan disebarkan dan menjadi peninggalan bagi kalian di akherat nanti, sebagai bashirah bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Allah bagi hambanya di dunia, untuk itu saya akan paparkan sebagai berikut ini : 1. Saya melihat pada halaman pertama dari (daftar isi judul) maka saya dapatkan judul-judul yang telah terkumpul pada diri Sayyid Quthub Rhm, dasar-dasar kekafiran, penyimpangan dan kezindikan, perkataan dengan adanya wihdatul wujud, perkataan bahwa Al Qur’an adalah makhluk, membolehkan selain Allah untuk membuat syareat, berlebih-lebihan di dalam mengagungkan sifat-sifat Allah, tidak menerima hadits mutawatir, ragu-ragu di dalam masalah aqidah yang wajib untuk diyakini, mengkafirkan masyarakat dan judul-judul lain yang membuat bulu kuduk orang-orang yang beriman merinding. Dan tragisnya adalah keadaan para ulama’ kaum muslimin diberbagai tempat tidak memperhatikan bencana ini, bagaimana mungkin menghubungkan antara hal ini dengan kitab-kitab beliau yang tersebar di penjuru dunia seperti terang benderangnya matahari dan kebanyakan manusia mengambil manfaat dari kitab-kitabnya sampai-sampai ada dalam tulisan anda, dalam hal ini anda telah melakukan hal yang sama dengan judul-judul dan bahasannya, lalu kamu dapati kabar yang mendustakan atsar-atsarnya, intinya seluruh judul-judul yang provokatif tersebut menarik perhatian bagi pembaca yang terprovokasi untuk menjerumuskan Sayyid Quthub Rhm, dan sesungguhnya saya dan kalian serta setiap muslim yang sangat tidak suka jika terjerumus ke tempat-tempat dosa dan salah, dan sesungguhnya termasuk orang yang bodoh (pengecut) dan keji adalah memberikan kebaikan manusia kepada orang yang meyakini kebencian dan permusuhannya. 2. Saya melihatnya dan mendapatkan kitab ini telah kehilangan methode mengkritik, amanah dalam menukil ilmu, dasar-dasar pembahasan ilmiyah, jauh dari kenetralan ilmiyah dan tidak memegang teguh kebenaran. Sedangkan adab-adab berdialog dan methode-methode ilmiyah yang tinggi serta pemaparan yang tenang dan teguh jangan kamu harapkan dari kitab yang membahayakan ini. Saya paparkan alasan-alasannya ssebagai berikut ini : Pertama : Saya telah melihat rujukan-rujukan di dalam menukil dari kitab-kitab Sayyid Quthub adalah dari cetakan yang telah lama seperti kitab Fi Dhilalil Qur’an dan Al Adaalah Al Ijtimaiyyah, padahal telah kalian ketahui sebagaimana dalam catatan hal 29 dll, telah ada cetakan revisi setelahnya, dan seharusnya sesuai dengan dasar-dasar mengkritik dan amanah ilmiyah adalah melakukan kritikan apabila nash (teks) tersebut merupakan cetakan yang paling akhir pada setiap kitab apa saja, karena mungkin ada revisi yang dapat menghapus tulisan awal, hal ini insyaallah tidak tertutup lagi (telah jelas) dengan pengetahuan dasar yang anda ketahui, mungkin saja terjadi kerancuan pada diri pelajar yang hadir dalam pelajaran kalian sehingga tidak tahu akan hal ini, dan ini tidak samar lagi (sudah jelas) bagi kalangan ahlul ilmi, contonnya kitab Ar Ruh karangan Ibnul Qayyim ketika dia melihat sesuatu yang cacat di dalam kitab itu dia berkata : “Mungkin itu ditulis ketika awal-awal hidupnya” dan begitu juga pada hal-hal yang lainnya, dan kitab Al ‘Adalah Al Ijtimaiyyah adalah buku pertama kali yang beliau karang tentang islam…. Kedua : Serasa merinding bulu kudukku ketika saya membaca perkataan anda dalam daftar isi buku ini yaitu (Sayyid Quthub membolehkan selain Allah untuk membuat syareat), maka cepat-cepat saya melihatnya sebelum melakukan apapun, lalu saya lihat seluruh perkataannya adalah nukilan yang sama untuk beberapa baris dari kitabnya Al Adalah Al Ijtimaiyyah, dan perkataannya tidak ada yang berisi judul-judul yang penuh provokatif ini, taruhlah seandainya di dalamnya ada ungkapan yang meragukan atau bersifat umum (secara lepas), lalu bagaimana hal ini bisa dibawa kepada kekafiran yang menyamaratakan apa yang dilakukan oleh Sayyid Quthub Rhm didalam kehidupannya dan tulisan-tulisannya yang berupa ajakan kepada tauhid (mengesakan Allah) di dalam masalah hukum dan pembuatan syareat, serta menolak berlakunya hukum positif dan menentang orang-orang yang berbuat seperti itu, sesungguhnya Allah mencintai keadilan dan sikap obyektif di dalam segala hal, dan saya tidak melihat anda Insya Allah kecuali anda adalah orang yang ingin berbuat adil dan bersikap obyektif. Ketiga : Temasuk judul yang mengandung provokasi adalah perkataan anda (perkataan Sayyid Quthub dengan adanya wihdatul wujud : sesungguhnya Sayyid Quthub berkata dengan perkataan yang mengandung syubhhat yang disusun di dalam tafsir surat Al Hadid dan Al Ikhlash lalu dijadikan sandaran bagi dia untuk menuduhnya berpaham dengan adanya wihdatul wujud pada diri Sayyid Quthub, maka anda akan beranggapan baik kepada Sayyid Quthub ketika menukil perkataannya di dalam tafsir surat Al Baqarah sebagai bantahan yang sangat jelas dan gamblang tentang pemikiran wihdatul wujud, perkataannya adalah : “Dari sini kita akan hilangkan pemikiran wihdatul wujud dari pemikiran islam yang shahih”, saya tambahkan bahwa di dalam kitabnya (Maquumaatut Tashawwur Al Islami) sebagai bantahan terhadap orang-orang yang berkata dengan adanya wihdatul wujud, untuk itu kita katakan semoga Allah mengampuni Sayyid Quthub Rhm karena perkataannya yang rancu yang cenderung kepada wihdatul wujud dengan ungkapan yang sangat umum, dan sesuatu yang rancu tidak bisa dipertentangkan dengan nahs (teks) yang jelas dan pasti dari perkataannya, untuk itu segeralah menghapus pengkafiran yang diberikan kepada Sayyid Quthub dan saya sebenarnya sangat kasihan terhadap kalian. Keempat : Dari sini saya katakan sebagai teman anda yang baik dengan penuh penjelasan bahwa judul anda (Sayyid Quthub di dalam menafsirkan Laa ilaaha illallah menyelisihi para ulama’ dan ahli bahasa dan tanpa menjelaskan Rububiyyah dan Uluhiyyah menurut Sayyid Quthub) Saya katakan wahai orang-orang yang saya cintai, aku telah menyaring seluruh apa yang telah ditetapkan oleh Sayyid Quthub berupa petunjuk-petunjuk tauhid dan tuntutan-tuntutannya, serta kewajiban-kewajibannya yang memiliki tanda-tanda yang jelas di dalam kehidupannya yang panjang, maka semua apa yang telah saya sebutkan mengarah pada satu kalimat yaitu bahwa mentauhidkan Allah di dalam hukum dan pembuatan syareat adalah sebagai salah satu tuntutan kalimat tauhid, dan Sayyid Quthub Rhm telah memfokuskan ke dalam perkara ini, karena dia melihat adanya kejahatan dan dosa yang menghapus untuk berhukum dengan syareat Allah di dalam memutuskan perkara dll, dan menghalalkan undang-undang positif sebagai pengganti darinya, tidak diragukan lagi bahwa kejahatan yang sangat besar ini tidak pernah terjadi pada ummat islam sepanjang sejarah sebelum tahun 1342 H. Kelima : Dalam daftar isi (perkataan Sayyid Quthub bahwa Al Qur’an adalah makhluk dan kalam Allah termasuk masalah iradah) Ketika saya kaji dalam halaman-halaman yang telah disebutkan saya tidak dapatkan satu lafadzpun yang didalamnya menjelaskan bahwa Sayyid Quthub menyatakan lafadz ini (Al Qur’an adalah makhluk) lalu bagaiman bisa dengan mudah sekali dia menuduh hal ini dengan kekafiran, sesungguhnya terakhir kali yang saya lihat ungkapannya adalah seperti perkataannya (akan tetapi mereka tidak mampu untuk mengarangnya) – artinya huruf-huruf putus – seperti AlQur’an ini, karena Alqur’an itu buatan Allah bukan buatan manusia)… itu tidak diragukan lagi memang ada kesalahan akan tetapi apakah dengan kesalahan itu kita hukumi bahwa Sayyid Quthub berkata dengan perkataan kekafiran ini? !!! Ya Allah saya tidak mampu untuk bertanggung jawab akan hal itu…telah ada yang menyampaikan hal itu kepadaku perkataan seperti ini, yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Khaliq Adhimah Rhm di dalam mukaddimah kitabnya Diraasaat Fii Ushuulil Qur’anil Kariim yang dicetak oleh Universitas Al Imam Muhammad bin Sa’ud Al Islami, lalu apakah kita akan menuduh Universitas tersebut dengan mengatakan AlQur’an adalah makhluk? Ya..Allah, kan jelas tidak!!. Cukuplah pembahasan dari sisi ini dan ini sangat penting. Dari sisi yang lain saya ungkapkan beberapa hal sebagai berikut : Catatan buku ini sebanyak 161 halaman dengan tulisan tangan, yaitu dengan berbagai bentuk tulisan dan saya tidak mengetahui satu halamanpun ada tulisan anda sesuai dengan kebiasaan tulisan anda, kecuali memang tulisan-tulisan anda telah berbeda, atau terjadi kebingungan pada diri saya, atau sesungguhnya hal itu pesanan khusus bagi buku-buku Sayyid Quthub Rhm untuk sebagian para pelajar lalu meminta kepada setiap murid untuk mengungkapkan apa yang telah mereka lihat dengan bimbingan-bimbingan anda atau anda yang mendekte mereka… Maka daripada hal ini, saya tidak yakin bahwa itu tulisan anda kecuali apa ynag telah anda tulis di pojok (pinggir) buku bahwa hal itu adalah tulisan anda. Ini menurutku sudah cukup sebagai petunjuk bagi saya bahwa itu adalah tulisan anda yang terhormat. Meskipun terdapat tulisan-tulisan yang berbeda-beda namun kitab ini dari awal hingga akhirnya ditulis dengan satu cara yaitu dengan perasaan yang tegang dan kemarahan yang terus menerus, penjungkirbalikan fakta yang menyempitkan nash-nash (teks-teks) hingga melahirkan kesalahan yang besar dan menyebabkan terjadinya penafsiran-penafsiran dan perkataan-perkataan yang syubhat pada pemasalahan yang yang sudah pasti yang tidak menerima bantahan, hal ini juga mengingkari methode (kaedah) ilmiyah dalam mengkritik, yaitu kenetralan atau ketidak berpihakan secara ilmiyah. Dari segi susunan kalimat, apabila dihubungkan hal itu dengan methode (uslub)nya Sayyid Quthub, dia berada pada tingkatan bawah sedangkan Sayyid Quthub berada pada tingkatan yang tinggi, meskipun kami akui apa yang kalian tulis, namun tulisan itu adalah termasuk bagi orang yang pemula yang ciri-cirinya tidak sesuai dengan ciri-ciri seorang pelajar yang memiliki ilmu tinggi, harus ada kesetaraan kemampuan dalam membuat tata bahasa, dan kemampuan dengan ilmu balaghah dan bayannya serta kemampuan untuk memaparkan yang baik jika tidak maka hendaknya lebih baik dipatahkan saja penanya. Tulisan yang emosional dan penuh dengan kemarahan telah mengalahkan manhaj mengkritik yang ilmiyah, untuk itu bantahan itu tidak memenuhi adab-adab dalam berdialog. Di dalam buku ini dari awal hingga akhir penuh dengan serangan-serangan dan pemaksaan-pemaksaan serta pengerutan-pengerutan dalam pengungkapan. Kenapa bisa seperti itu? Kitab ini memotivasi terjadinya kelompok-kelompok baru yang menumbuhkan di dalam jiwa para pemuda memiliki kecondongan kepada kekafiran. Kadang-kadang dengan pengharaman dan kadang-kadang dengan pengingkaran, serta mengatakan ini adalah bid’ah, dia adalah orang bid’ah, ini sesat, itu sesat, padahal tidak ada keterangan yang jelas (cukup) untuk menghukuminya, maka terjadi penipuan-penipuan agama dan kesombongan, sehingga seakan-akan seseorang yang melakukan pekerjaan ini dianggap telah meletakkan beban yang berat dari punggungnya dan beristirahat dari kecapekannya, dan dia telah mengahalangi ummat ini dari terjerumus ke dalam jurang dan dia menurut orang lain telah membinasakan sikap wara’ dan kecemburuan terhadap kehormatan syareat yang suci, disertai tanpa ada klarifikasi yang pada hakekatnya adalah telah hilang, dan meskipun dianggap sebagai bangunan yang menjulang tinggi namun sebenarnya dia akan runtuh kemudian dingin terkena tiupan angin. Enam tanda-tanda ini menghiasi kitab ini sehingga kitab ini berubah menjadi tidak baik, ini yang nampak bagiku sesuai dengan maksudmu, dan saya mohon maaf dengan jawaban yang lambat ini, karena sebelumnya saya tidak punya keinginan untuk membaca buku-buku orang ini walaupun banyak orang-orang yang membutuhkannya, namun apa yang kalian sebutkan telah mendorongku untuk membaca seluruh buku-bukunya lalu saya dapatkan di dalam buku-buku itu kebaikan yang sangat banyak dan keimanan yang terang benderang serta kebenaran yang jelas, dan penjelasan yang gamblang tentang rencana-rencana musuh-musuh islam, yang berada di atas kebohongan-kebohongan dalam alur pembicaraan dan uraian yang panjang, dan kebanyakan perkataannya bertentangan dengan perkataan yang lainnya ditempat yang lain. Kesempurnaan ini adalah sangat jarang sekali. Orang ini (Sayyid Quthub) adalah seorang sastrawan, kemudian mengarahkan pekerjaannya untuk membela dan mengabdi untuk umat islam dengan AlQur’anul adhim dan sunnah syarifah, serta sejarah yang penuh dengan keharuman, sehingga terjadilah apa yang terjadi dari sikap-sikapnya dalam permasalahan-permasalahan yang terjadi pada zamannya, dengan menjadikan sikapnya berada di jalan Allah Swt, menyingkap kehinaan-kehinaan di zamannya, serta memintanya untuk menulis permintaan maaf dengan penanya dan dia berkata dengan penuh keimanan yang sangat masyhur “Sesungguhnya jari yang aku gunakan untuk bersyahadat ini sekali-kali tidak akan aku gunakan untuk menulis sesuatu yang bertentangan dengannya” atau kalimat yang semisalnya, maka kewajiban bagi seluruh manusia untuk mendoakan semoga dia mendapatkan ampunan dan memanfaatkan ilmunya, menjelaskan apa-apa yang kita yakini merupakan kesalahannya serta bahwa kesalahannya itu tidak menyebabkan kita terhalangi untuk mengambil ilmunya dan memblokir buku-bukunya. Semoga Allah menjagamu, sesungguhnya keadaannya adalah termasuk seperti keadaan orang-orang terdahulu seperti Abu Ismail Al Harawi dan Jailani, bagaimana Syaikhui Islam Ibnu Taimiyah membela keduanya padahal keduanya memiliki kesalahan, karena pada dasarnya keduanya memiliki manhaj dalam membela islam dan sunnah, lihatlah buku Manaazilis Saa’iriin oleh Al Harawi Rhm, kamu pasti akan melihat keanehan yang tidak bisa diterima, namun Ibnul Qayyim Rhm sangat memaafkannya dan tidak menghukumnya, hal itu terdapat dalam Syarh Madaarijus Saalikiin dan telah saya paparkan di dalam kitab (Tashnifun Naas Baina ad Dhanni Wal Yakin) yang memudahkanku untuk nenerapa kaedah-kaedah yang telah ditentukan dalam hal itu. Sebelum penutupan saya nasehatkan bagi Saudara-Saudaraku fillah yang terhormat supaya berbuat adil dalam mencetak buku ini (Adhwa’un Islamiyyah) dan tidak boleh disebarkan serta dicetak karena di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran yang keras dan dorongan yang kuat bagi para pemuda ummat ini dengan mengumpat dan memfitnah para ulama’, menolak mereka dan meremehkan kemampuan mereka serta berpaling dari keutamaan-keutamaan mereka..maafkanlah saya semoga Allah memberikan berkah kepadamu apabila saya keras dalam penulisan ini, itu disebabkan karena apa yang telah saya lihat dan sikap kalian yang sangat keras juga rasa sayangku terhadap kalian dan kecintaan kalian kepada kehormatan seperti yang telah saya ketahui. Itulah apa yang dapat saya tulis semoga Allah membenarkan seluruh tulisan tersebut… wassalaamualaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.. Saudara kalian Bakar Abu Zaid. Lalu apa yang dikatakan oleh Al Madkhali dan bantahannya terhadap perkataan yang ilmiyah tinggi ini?? Sesungguhnya perkataanya menyerupai celaan orang-orang yahudi kepada Abdullah bin Salam ketika dihadapkan kepada mereka bahwa dia telah mengikuti kebenaran dan islam setelah mereka mengatakan sebelumnya tentang dia (Dia adalah sebaik-baik kami anak dari sebaik-baik kami). Setelah penghormatan, pemuliaan dan pujian serta sanjungan yang telah dilakukan oleh Al Madkhali kepada Syaikh Bakar Abu Zaid supaya mendapat dukungan atau dia memujinya dengan penyerangannya terhadap Sayyid Quthub, lalu kamu lihat dia berkata tentang Syaikh Bakar Abu Zaid – ketika dia merasa kecewa dan hilang harapan dari dukungannya dan setelah sampai risalah ini kepadanya – “Sesungguhnya dia termasuk pembela dan penolong kebid’ahan serta bersimpati kepada Ahlul bid’ah dan kebathilan dan hatinya sakit karena hawa nafsu”. (Al Haddul Faashil fir Raddi Ala Bakar Abu Zaid) oleh Rabi’ Al Madkhali hal. 5 dan 98. Dan ketahuilah perkara ini tidak hanya berhenti bersama dengan orang-orang yang murtad dan sesat dari kalangan Al Jaamiyah dan Madkhaliyah serta orang-orang yang menempuh diatas jalan mereka dengan membela para thaghut itu, namun lebih daripada itu mereka melihat para thagut yang sesat itu sebagai pemimpin-pemimpin kaum muslimin atas peperangan mereka terhadap para dai, ulama’ dan mujahidin bahkan sampai melampaui batas hingga lebih jelek daripada itu. Ketika orang-orang salib Amerika dan lain-lainnya telah masuk ke jazirah Arab pada waktu perang teluk, DR. Safar Hawali berkata : “Sesungguhnya partai Ba’ats itu adalah musuh kita saat ini sedangkan Amerika dan Romawi (orang-orang barat Eropa), mereka itu adalah musuh kita hingga hari kiyamat” . Maka Muhammad Al Jami segera melancarkan serangan terhadap DR. Safar Hawali, dia mencela perkataannya dan sikapnya tentang kejadian itu, sampai-sampai dia mengatakannya sesat dan mengatakannya dengan kefasikan, mencaci maki Syaikh Salman Al Audah, padahal partai Ba’ats dan thaghutnya sebelum terjadi peperangan adalah yang termasuk disebut sebagai kalangan yang paling dicintai oleh Al Jaami dan penguasa yang paling dia bela, yang mana mereka telah membela, menolong dan memberi bantuan dengan segala macam bentuk pertolongan kepada partai Ba’ats juga pertolongan mereka ketika melawan Iran serta menutup mata bahwa partai itu memusuhi islam dan kaum muslimin juga pembantaian mereka terhadap orang-orang islam di Irak dan Kurdistan, pada waktu itu partai Ba’ats menurut keluarga Sa’ud dan antek-anteknya bukan orang kafir dan atheis, namun mereka menjadikannya kafir ketika partai itu melawan para thaghut keluarga Sa’ud dan keluarga Sa’ud senang dalam mentakfirkan mereka, tidak cukup disitu kesesatan mereka, ketika itu mereka membela pemerintah thaghut bahkan membangun sebuah pembelaan dan pertolongan dengan sekutu mereka dari kalangan orang-orang salib, memuji mereka bahkan mendoakan mereka sampai-sampai kesalahan mereka semakin panjang dengan berdiri diatas mimbar Masjidil Haram dengan mengatakan : (“Jazakumullah Amerika Anna khairan”) (semoga Allah membalas kebaikan kepada kalian wahai Amerika)!!! Sebaliknya dari semua hal ini kamu melihat mereka memuji peperangan para thaghut terhadap orang-orang yang bertauhid dan banyak berkomentar terhadap para dai yang menentang untuk bersekutu dengan orang-orang salib dan membela mereka. mereka membolehkan (menghalalkan) darah-darah para mujahidin bagi para salib dan menolong pemerintahan thaghut serta membela mereka terhadap pembunuhan dan hukuman mati bagi para mujahidin, sebagaimana contohnya dalam syairnya Al Madkhali tersebut.!! Mereka telah melebihi Khawarij yang sesat dalam hal ini, karena orang-orang Khawarij dahulu dan pemimpin-pemimpin mereka tidak pernah mereka bersekutu dengan orang-orang Ramawi dan orang-orang kafir serta tidak menolong mereka di dalam memerangi kaum muslimin dan orang-orang yang bertauhid, namun hal ini dilakukan oleh kelompok yang keji pada hari ini, dan hanya kepada Allah lah tempat meminta pertolongan dan Allah bertanggung jawab untuk menyediakan bagi din ini urusan yang dapat memberi petunjuk yang dapat memuliakan orang-orang yang taat kepada-Nya dan menghinakan orang-orang yang berbuat maksiat serta merendahkan orang-orang zindik dan munafik. WashallAllahu wa sallam ala Nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa ashaabihi ajma’iin. Disusun oleh : Abu Muhammad Al Maqdese Diterjemahkan oleh : Muhammad Ar Rahiil. 31-5-2005 M
  21. catatanpinggirhati said

    apakah dengan menunjukkan banyaknya guru yang kepadanya beliau berguru, lantas tiada kesalahan pada diri seseorang? ingat kasus anak nabi nuh, akh! atau istri nabi nuh dan nabi luth! keduanya di bawah bimbingan langsung orang yang bahkan lebih tinggi dari syaikh antum dan guru2nya, namun tetap saja Allah menjadikan keduanya menjadi orang2 dholim. tampaknya, ada kecondongan antum untuk menyucikan rabi’ bin hadi al madkhali dari kesalahan. aku berlindung kepada Allah dari hal demikian, na’udzubillahi min dzalik.

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Tolong komentar saya yang sebelumnya dibaca dengan hati-hati dan seksama karena nampaknya antum tidak membaca dan memahaminya dengan baik.

      “di sinilah antum salah memahami takfir. penghukuman suatu negara sebagai negara kafir atau muslim tidak lantas menjadikan semua rakyat yang tinggal di dalamnya sebagai kafir atau muslim secara keseluruhan. dalam sirah pun bisa kita lihat, bagaimana pada masyarakat di madinah terdapat orang2 yahudi. namun madinah al munawarrah tetap dikategorikan sebagai negara islam, saat itu, tanpa harus memaksa kaum yahudi untuk masuk islam, atau menyeret2 mereka dalam kelompok muslim. silakan baca kaidah takfir di sini: ”

      Apakah saya mengatakan definisi takfir pada komentar saya? Tidak, tapi justru saya yang tanya kepada antum tentang pemahaman antum tantang takfir
      “Apakah lantaran Raja Abdullah bertemu dengan Obama lantas beliau dihukumi kafir dan murjiah, bagaimana dengan rakyat Saudi sendiri, apakah hanya karena penguasanya lantas antum menghukumi semua orang dinegeri Saudi itu adalah murjiah..”
      tapi anehnya justru menganggap saya belum tahu tentang kaidah takfir, ana bisa menyadari mengkin karena antum sering mengkafirkan orang lantas kemudian merasa paling tahu dan ahli tentang takfir.

      “jadi tauhid bagi antum hanya sholat, zakat, puasa dan haji? sudah berapa lama antum mengaji? di mana tauhid rubbubiyah? di mana hak tasyri’ yang hanya menjadi kewenangan Allah? di mana antum sembunyikan pendapat syaikh muhammad bin abdul wahhab tentang nawaqidhul islam?

      apakah masih antum katakan ia masih bertauhid? buka mata dan hati antum!”

      Saya katakan bahwa beliau Raja Abdullah masih bertauhid karena kita sebagai makhluk Alloh Subhanahu wa Ta’ala hanya dapat menilai dari amalan dzohirnya bukan dalam hatinya karena hati seseorang adalah sesuatu ghoib orang lain

      “Allah tidak memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang ghaib.” (Ali ‘Imran: 179)
      “Di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)
      “Maka katakanlah: Sesungguhnya yang ghaib itu hanya kepunyaan Allah.” (Yunus: 30)

      Justru saya yang bertanya, apakah antum sudah membedah hati Raja Abdullah sehingga tahu hati beliau kafir?”

      Menyikapi fenomena penculikan, pembunuhan, dan pengeboman yang banyak dilakukan oleh Khawrij dan kawan-kawannya di negeri haramain Mekkah dan Madinah.

      Tak diragukan lagi bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang dengan keras orang2 atau pihak2 yang melakukan kekerasan di negeri yang suci dan diberkati yaitu Mekkah dan Madinah.
      Allah telah menjadikan negeri Makkah dan Madinah sebagai tempat yang aman hingga hari kiamat, semenjak Allah memerintahkan kepada kekasih-Nya nabi Ibrahim agar mengumumkan kepada manusia untuk menunaikan ibadah haji, mereka datang ke Baitul Haram (Ka’bah) dari segala penjuru negeri ; sebagaimana Allah berfirman.

      “Artinya : Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” [Al-Haj : 27]

      Dan Allah berfirman sembari memberi nikmat kepada penduduk negeri Haramain.
      “Artinya : Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan)” [Al-Qashas : 57]

      Demikianlah firman-Nya.

      “Artinya : Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” [Al-Quraisy : 3-4]

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
      “Artinya : Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” [Al-Haj : 25]

      Sesungguhnya hanya sekedar berniat melakukan kejahatan di Makkah adalah sebuah kejahatan dan dosa yang besar, maka bagaimanakah dengan mereka yang menumpahkan darah yang haram di negeri Al-Haram ?

      Bagaimanakah halnya orang yang meletakkan dan menaruh senjata dan bahan peledak dalam tumpukan mushaf Al-Qur’an, dan menyangka bahwasanya hal ini adalah jihad dan pengorbanan ?

      Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu, yang berusaha membuat kerusakana di negeri Al-Haramain (Saudi Arabia) dan negeri Islam lainnya, pada hakikatnya mereka itu adalah orang-orang yang berkhidmat (pada) musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nashara serta seluruh musuh-musuh Islam, karena musuh-musuh Islam itu bergembira dan menabuh genderang bahkan menari-nari ketika gangguan menimpa negeri Islam, khususnya negeri Islam, yang memelihara dan menjaga Makkah dan Madinah, negara yang menyebarkan aqidah Tauhid di negeri Arab dan selain negeri Arab.

  22. catatanpinggirhati said

    “Saya katakan bahwa beliau Raja Abdullah masih bertauhid karena kita sebagai makhluk Alloh Subhanahu wa Ta’ala hanya dapat menilai dari amalan dzohirnya bukan dalam hatinya karena hati seseorang adalah sesuatu ghoib orang lain”

    semakin yakin saja ana bahwa kelompok antum benar2 telah terkelabui dengan pemahaman bahwa keimanan tidak terpengaruh oleh amal! bahwa iman tidak bisa berkurang karena perbuatan sebagaimana amal sholih tidak berfaidah sama sekali bagi pelakunya selama ia masih diliputi kekafiran! khas irja’i!

    syaikh sa’id bin wahf al qahthani dalam al wala’ wal bara’ menjelaskan tentangnya. silakan baca buku beliau tersebut! jangan pernah berpuas hanya dengan buku kecil dari syaikh bin baz tentang al wala’ wal bara’ ini! oh ya, di saudi sana kabarnya pelajaran tentang ini akan dihapus dikarenakan mengancam kepentingan pihak kerajaan!

    antum dah baca apa yang ana postingkan dari tulisan syaikh al maqdisy?

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Lagi-lagi komentar saya tidak dibaca dengan baik…malah permasalahannya jadi diperlebar kemana-mana, lebih baik saya menulis dengan singkat saja agar antum bisa membaca dengan baik dan tidak tergesa2.

      Silahkan baca kisah di bawah ini:

      ” Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami (menghadapi) Bani Huraqah, maka kami datang (menyerang) kaum tersebut pagi hari. Kamipun berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang Anshar menyusul (mengejar) seorang diantara mereka. Tatkala kami telah berhasil mencapainya, ia berucap : “Laa Ilaaha Illallaah”.
      Temanku orang Anshar menahan dirinya (dari membunuhnya), sementara aku menikamkan tombakku sehingga orang itu terbunuh olehku. Ketika kami datang (ke Madinah) berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda : “Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah?” Aku menjawab. “Orang itu hanya mencari perlindungan saja” (pura-pura mengucapkan kalimat tauhid). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulangi pertanyaan tadi sehingga aku berangan-angan sekiranya aku belum masuk Islam kecuali pada hari itu” [Hadits Riwayat Bukhari 4269, 6872, dan Muslim 273,274 dan ini lafadz Bukhari]

      Ini membuktikan bahwa kita tidak mengetahui isi hati sesorang, manusia hanya bisa melihat dari amalan dzohirnya saja, sedangkan isi hati hanyalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang tahu..jika nekat mentakfir atau membunuh orang yang bersyahadat (muslim), maka resiko silahkan ditanggung sendiri..

      Barokallohu Fiikum

  23. nugraha said

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Jika suatu pemerintahan (misalkan jaman Presiden Suharto) yang kemudian dilengserkan kemudian diganti oleh Pak Habibi maka apakah kita juga harus taat kepada pemerintahan tersebut karena bisa dikatakan telah terjadi pembrontakan oleh rakyat kepada Pak HArto. Dimana pembrontakan terhadap pemerintah adalah masalah yang dianggap sangat besar oleh kaum yang bermanhaj salaf.

    Kemudian jika suatu saat terjadi pembrontakan oleh sekelompok orang terhadap raja arab kemudian ternyata penggantinya tersebut menerapkan hukum syariah Islam yang lebih baik dari raja arab yang sekarang, apakah kaum yang bermanhaj salaf juga akan menaati pemerintahan tersebut?

    Apakah ada perbedaan pandangan di kaum yang bermanhaj salaf terhadap pemerintahan yang dipilih secara sistem Demokrasi / pemilu dengan pemerintahan yang diambil dengan pembrontakan?

    Ketika Ikhwanul muslimin menang pemilu di mesir (yang tentu saja mungkin akan bisa membentuk pemerintahan ) tetapi kemudian hasil pemilu dibatalkan, apakah itu juga bukan suatu pembrontakan dari pemerintah?

    Mohon Tanggapannya

    Barokallohu Fiikum

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Wa’alaykumsalam warrahmatullah wabarokatuh

      Kita juga harus taat kepada pemimpin itu selama beliau tidak memerintahkan kita kepada kemaksiatan dan ia masih bertauhid kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. katakanlah rakyat atau sebagian pemimpin memberontak/pembangkangan (kudeta) kepada pemerintah. Maka pemimpinnya juga harus kita taati bila ia sesuai dengan syarat diatas. Yang diharamkan adalah perbuatan pemberontakannya.

      Lihatlah apa yang terjadi setelah Presiden Soeharto dikudeta, mungkin bagi mereka para pemuja demokrasi akan mengatakan kehidupan sekarang lebih baik, jika dibanding jaman Presiden Soeharto. Tapi jika kita tanya kepada kakek, bapak, atau pedagang pasar, meraka merasa kehidupan merka pada saat dahulu lebih baik, sebab mereka berkaca pada bidang ekonomi.

      Belum lagi saat ini dimana moral bangsa ini sudah carut marut, bukan main rusaknya, belum lagi korupsi yang makin merajalela bukan hanya ditingkat pusat akan tetapi sampai ke daerah2 karena otonomi yang terlalu luas dll. masih banyak dampak negatif lainnya.

      Tentang pemberontakan. Memang hal tersebut masih menjadi hal yang diperdebatkan oleh beberapa kelompok seperti hizbut tahrir, NII, khawarij dll. Beberapa diantaranya berpendapat bahwa pemimpin tersebut telah kafir disebabkan melaksanakan hukum yang dibuat oleh manusia yang bukan berasal dari Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga mereka mengkafirkan semua yang terdapat dipemerintahan sepeti presiden, wakil presiden, ketua DPR, ketua MPR dll sampai pucuk pimpinan terbahaw yaitu camat, lurah, RT dll.

      Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Islam adalah hanya masalah mengkafirkan dll. Konsekuansi dari mengkafirkan akan sangat besar dampaknya yaitu, semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terdapat di Indonesia otomatis masuk dalam kriteria pengkafiran mereka karena mereka melaksanakan hukum yang dibuat oleh pemerintah (manusia), lantas kelompok2 yang mengatas namakan Islam walaupun masih di ragukan keIslamannya itu, memberontak dengan mengangkat senjata, menghalalkan darahnya (spt kaum Khawarij), mengambil harta mereka, menjadikan istri2 tadi sebagai budak rampasan perang dll…bisa antum bayangkan jika kita hidup seperti itu.

      Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

      “Artinya : Siapapun orang yang mengatakan kepada saudaranya ‘Hai Kafir’, maka perkataan itu akan mengeneai salah satu diantara keduanya. Jika perkataannya benar, (maka benar). Tetapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang yang mengatakannya” [Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu Umar].

      Oleh sebab itu biasanya pemberontakan terhadap penguasa diawali oleh sebuah pengkafiran. terhadap inilah kita harus berhati-hati.

      Sikap kita terhadap pemimpin adalah sebagai berikut:

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada.

      “Artinya : Barangsiapa melihat sebuah perkara maksiat pada diri-diri pemimpinnya, maka hendaknya ia membenci kemaksiatan yang dilakukannya dan janganlah ia membangkang pemimpinnnya. Sebab barangsiapa melepaskan diri dari jama’ah lalu mati, maka ia mati secara jahiliyah”
      Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
      “Artinya : Seorang muslim wajib patuh dan taat (kepada umara’) dalam saat lapang maupun sempit, pada perkara yang disukainya ataupun dibencinya selama tidak diperintah berbuat maksiat, jika diperintah berbuat maksiat, maka tidak boleh patuh dan taat”.

      Kaum khawarij pimpinan Osama bin Laden Mengklaim bahwa mereka ingin menegakkan syariat Islam di Afghanistan menurut pemahaman mereka. Setelah mereka menguasai Afghanistan, mereka menerapkan syariat Islam disana, tapi syariat Islam menurut versi mereka bukan menurut para Salaf. Diantara yang mereka yakini yaitu, semua pelaku dosa besar dihukumi kafir mutlak sehingga pantas untuk dihukum mati, seperti Zina, mabuk, judi dll semua pelakunya dihukumi kafir. tapi apa yang terjadi akibat perbuatan mereka, kaum muslimin hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan, pembunuhan dimana-mana, darah seolah-olah tak pernah berhenti mengalir di sana disebabkan setiap waktu ada saja orang yang mati dibunuh disana. Justru kerusakanlah yang muncul disana. Padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada haji wada’.

      “Artinya : Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta benda kalian dan kehormatan-kehormatan kalian adalah haram atas kalian, seperti haram (mulia)nya hari kalian (hari haji wada’) ini, di bulan kalian ini dan di negeri (tanah haram) kalian ini”.

      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

      “Artinya : Setiap muslim bagi muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannnya” [Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah]

      Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula.

      “Artinya : Takutkah kalian akan kezhaliman, sesungguhnya kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat” [Hadits Riwayat Muslim, dari Jabir]

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

      “Artinya : Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya iahal Jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya” [An-Nisa : 93]

      Itulah adalah akibatnya jika mereka beramal tanpa dibarengi dengan ilmu. Yang ada hanyalah kerusakan yang terjadi.

      Sesuatu dikatakan pemberontakan itu adalah jika kaum yang dipimpin melawan kepada orang yang memimpin, dan bukan sebaliknya. Tentang pemilu itu sudah jelas keharamannya disebabkan oleh banyak hal seperti tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunah, membelanjakan harta tidak pada tempatnya dll, selengkapnya bisa antum baca di situs atau blog salaf yang ada.

      Barokallohu Fiikum

  24. nugraha said

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Jadi kesimpulannya apakah kita harus SELALU taat kepada pemimpin/penguasa/presiden (selama dia tidak memerintahkan kemaksiatan) siapapun orangnya dan bagaimanapun cara dia memperoleh kekuasaan tersebut?

    Kemudian apakah kita diperbolehkan pindah daerah ke suatu negeri dimana pemimpinnya / negerinya sudah melakukan hukum islam secara benar?

    Barokallohu Fiikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: