Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Bila rasa cemburu telah hilang

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Maret 29, 2009

Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para wanita yang bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan tubuhnya didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar dan bekerja diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama lelaki sebagaimana salah seorang mereka bekerja bersama salah seorang keluarganya yang mahram, mengendarai mobil dan bersafar bersamanya

Setiap insan pernah merasakan cemburu, namun adakah rasa cemburu tatkala melihat kemaksiatan ? Kini kita lihat bagaimana fenomena yang ada bila rasa cemburu telah hilang.

Betapa banyak orang yang mengaku dirinya memiliki rasa cemburu, namun justru menanggalkan pakaian malu dengan melakukan perbuatan-perbuatan haram atau membiarkan kemaksiatan. Padahal Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah mewasiatkan kepada umatnya agar memiliki akhlak Al-Ghoiroh (cemburu).

Beliau telah menerangkan kedudukan akhlak yang utama ini dalam sabdanya (yang artinya) :
“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu dan cemburunya Allah bila seseorang mendatangi apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat cemburu bila dilanggar keharaman-keharamannya dan dilampaui batasan¬-batasannya, dan siapa yang telah melanggar apa yang Allah haramkan berarti telah (berani) melewati sebuah pagar yang besar.

Akhlak AI-Ghoiroh ini begitu menghujam dalam hati para sahabat, karena perhatian dan kesungguhan mereka dalam mengikuti wasiat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukulnya dengan pedang sebagai sangsinya. Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda, “Apakah kalian takjub dengan cemburunya Sa’ad, sesungguhnya aku lebih cemburu darinya dan Allah lebih cemburu dari padaku”. (HR. Bukhari).

Akhlak ini juga berpengaruh dalam diri Aisyah Radhiyallahu ‘anha tatkala ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda :”Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak bersandal, telanjang dan belum berkhitan”. Aku berkata, “Perempuan dan laki-laki berkumpul, (berarti) sebagian mereka akan melihat sebagian yang lain ?!” Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda, “Wahai Aisyah ! Urusan saat itu lebih mengerikan dari pada mereka saling melihat”. (HR.Bukhari).
Karena rasa cemburulah Aisyah Radhiyallahu ‘anha belum berfikir tentang ketakutan yang terjadi pada hari itu.

Demikian pula Ali Radhiyallahu ‘anhu ketika diutus kesuatu negeri beliau berkata kepada penduduknya : “Aku telah mendengar bahwa wanita-wanita kalian akan mendekati orang-orang kafir azam di pasar-pasar, tidakkah kalian cemburu, sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak memiliki rasa cemburu.”

Begitulah Al-Ghoiroh yang besar dalam diri para sahabat dan akhlak ini akan tetap berpengaruh pada diri orang-orang yang berpegang teguh dengan atsar salaf dan mengikuti jalan mereka.
Sebaliknya, al-ghoiroh hanya sekedar menjadi pengakuan bagi orang-orang yang ucapannya menyelisihi perbuatannya. Mereka mengaku memiliki rasa cemburu, namun membiarkan istri dan anak-anak perempuannya keluar rumah dengan menampakkan wajah, lengan, dada dan lekuk- lekuk tubuh, kemudian menjadi tontonan gratis para lelaki jalanan.

Suami yang demikian hendaknya memperhatikan peringatan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam dalam sabdanya :
“Tiga gologan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan dayuts.” (HR. Nasa’i 5 :80-81; Hakim 1: 72, 4 : 146, Baihaqi 10 : 226 dan Ahmad 2 : 134).

Dayuts ditafsirkan hadits-hadits lain, yaitu : Seorang kepala rumah tangga yang membiarkan kejelekan atau kerusakan dalam rumah tangganya. (Fathul Bari 10 : 401). Dayuts juga ditafsirkan oleh ulama : orang yang tidak cemburu terhadap istrinya.
Karena tiadanya rasa cemburu, akhirnya nampaklah perbuatan-perbuatan yang mengotori rasa malu dan melemahkan muru’ah (wibawa) sebagaimana perbuatan wanita-wanita jahil zaman sekarang.

Perhatikanlah, betapa banyak kita saksikan para wanita yang bertabaruj atau menampakkan keindahan perhiasan tubuhnya didepan umum. Kita lihat para wanita yang belajar dan bekerja diantara barisan para lelaki, mereka bekerja bersama lelaki sebagaimana salah seorang mereka bekerja bersama salah seorang keluarganya yang mahram, mengendarai mobil dan bersafar bersamanya atau kita lihat juga perginya seorang wanita bersama sopir pribadi ke tempat-tempat seperti pasar, sekolah dan lain-lain, tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan sopir tadi dengan bebasnya keluar masuk rumah sebagaimana mahramnya tanpa wanita itu merasa berdosa dan malu pada sopirnya, dengan dalih ia hanya seorang sopir.

Betapa banyak terjadi kesalahan dan pelanggaran kehormatan dengan sebab mengikuti hawa nafsu dan kebodohan. Kita lihat pula perbuatan wanita yang membeli dan melihat majalah- majalah cabul dan film hina serta mendengarkan musik dan lagu. Atau perbuatan wanita yang menari dalam resepsi pernikahan dan berbagai pesta dengan diiringi hiruk-pikuknya suara musik serta mengenakan pakaian yang dapat membangkitkan syahwat.

Lalu, apakah para wanita itu mengetahui apa makna malu yang sebenarnya?!!. Ataukah para wali-wali para wanita itu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki AI-Ghoiroh (cemburu) ?!! Sungguh hal itu amat jauh
Oleh karena itu hendaklah kita kembali dan bertaubat kepada Allah aza wajalla dan menghisab atas apa yang telah kita lakukan berupa kebaikan dan keburukan.

(Disadur dari Kutaib wa Asafa Alal Ghoiroh oleh Ummu Abdillah)

3 Tanggapan to “Bila rasa cemburu telah hilang”

  1. egodjiwa said

    um….. yeah right.. tanx for these all

  2. nugraha said

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saya ingin menanyakan hukum wanita yang bekerja.
    Misalkan begini : Sepasang suami istri dimana si istri adalah seorang dokter yang ingin bekerja untuk mengamalkan ilmunya sekaligus mencari nafkah (meski mencari nafkah adalah kewajiban si suami ). Hal hal apa saja yang harus diperhatikan agar proses tersebut tidak melanggar hukum agama (mohon detail keterangannya )? Kemudian bagaimana jika harus mengobati pasien laki laki dewasa yang bukan mahramnya? Apakah wanita diperbolehkan bekerja menjadi dosen di universitas umum ?

    Wassalamu’alaikum warahmatullah

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Wa’alaykumsalam warahmatuloh wabarokatuh

      Jika ditempat kerjanya terjadi campur baur antara kaum laki-laki dengan kaum wanita, maka wanita tidak boleh bekerja di sana dengan mitra kerja laki-laki yang sama-sama bekerja di satu tempat bekerja. Demikian ini karena bisa terjadi fitnah akibat bercampur baurnya kaum laki-laki dengan kaum wanita.

      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya terhadap fitnah kaum wanita, beliau mengabarkan bahwa setelah meninggalnya beliau, tidak ada fitnah yang lebih membahayakan kaum laki-laki dari pada fitnahnya kaum wanita, bahkan di tempat-tempat ibadah pun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan jauhnya kaum wanita dari kaum laki-laki, sebagaimana disebutkan dalam salah satu sabda beliau.

      “Artinya : Sebaik-baik shaf kaum wanita adalah yang paling akhir (paling belakang) dan seburuk-buruknya adalah yang pertama (yang paling depan)” [Hadits Riwayat Muslim dalam Ash-Shalah 440]

      Karena shaf pertama (paling depan) adalah shaf yang paling dekat dengan shaf kaum laki-laki sehingga menjadi shaf yang paling buruk, sementara shaf yang paling akhir (paling belakang) adalah yang paling jauh dari shaf laki-laki. Ini bukti nyata bahwa syari’at menetapkan agar wanita menjauhi campur baur dengan laki-laki. Dari hasil pengamatan terhadap kondisi umat jelas sekali bahwa campur baurnya kaum wanita dengan kaum laki-laki merupakan fitnah besar yang mereka akui, namun kini mereka tidak bisa melepaskan diri dari itu begitu saja, karena kerusakan merajalela.

      Untuk pertanyaan berikutnya, berikut ini saya ambilkan jawaban dari Syeikh Muhammad bin Ibrahim:

      PERTANYAAN:

      Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : “Apa hukum seorang dokter yang membuka aurat wanita dan berdua-duaan dengan mereka untuk berobat?”.

      JAWABAN:

      Pertama : Sesungguhnya wanita adalah aurat dan tempat kepuasan kebutuhan bilogis laki-laki. Karena itu dalam segala kondisi tidak diperbolehkan baginya untuk mengizinan laki-laki membukanya walaupun untuk tujuan pengobatan.

      Kedua : Apabila tidak ditemukan seorang dokter wanita yang diperlukan maka diperbolehkan baginya untuk berobat kepada dokter laki-laki, dan hal ini lebih mirip dengan keadaan darurat tetapi harus tetap terikat dengan aturan-aturan yang jelas. Oleh karena itu, para ahli fiqih berkata, keadaan darurat memperbolehkan untuk melakukan suatu hal sesuai dengan sekedar kebutuhan. Maka seorang dokter laki-laki tidak diperbolehkan untuk melihat atau memegang aurat pasien wanitanya yang tidak dibutuhkan untuk dilihatnya ataupun dipegang, dan wajib pula bagi wanita tersebut untuk menutup segala sesuatu yang tidak diperlukan untuk dibuka ketika berobat.

      Ketiga : Meski wanita dihukumi sebagai aurat, sesungguhnya aurat wanita bermacam-macam tingkatannya. Di antaranya ada aurat berat dan ada aurat yang lebih ringan darinya. Demikian pula sakit yang diderita oleh wanita, ada sakit yang berbahaya yang tidak boleh ditunda pengobatannya dan ada pula penyakit biasa yang tidak berbahaya apabila pengobatannya ditunda hingga mahramnya hadir untuk menemaninya berobat. Sebagaimana wanita juga bermacam-macam, di antara mereka ada wanita yang sudah tua dan wanita muda yang cantik serta ada pula pertengahan antara keduanya. Di antara mereka ada yang datang dalam keadaan tersiksa oleh penyakitnya dan juga di antara mereka ada yang datang ke rumah sakit tanpa terlihat pengaruh sakitnya. Di antara mereka ada yang dibius lokal atau keseluruhan, dan ada yang cukup diberi pil-pil dan semisalnya. Setiap individu dari mereka ada hukumnya tersendiri.

      Atas dasar semua itu maka berdua-duan dengan wnaita selain mahram adalah haram secara syara’ meskipun bagi dokter laki-laki yang mengobatinya berdasarkan hadits :

      “Artinya : Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan”.

      Maka harus hadir seseorang bersama keduanya baik suaminya ataupun salah satu mahramnya yang laki-laki. Dan apabila tidak bisa menghadirkan kerabat dekat yang wanita sedangkan sakitnya membahayakannya dan pengobatannya tidak biasa ditunda-tunda lagi, maka paling tidak harus dengan kehadiran seorang perawat wanita untuk menjaga agar tidak terjadi ‘khalwat’ yang terlarang.

      Keempat : Adapun soal tentang hukum aurat anak perempuan yang masih kecil, maka seorang anak perempuan apabila belum berumur tujuh tahun dihukumi tidak mempunyai aurat. Apabila telah mencapai umur tujuh tahun maka ia mempunyai aurat sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fiqih meskipun auratnya berbeda dengan aurat wanita yang lebih tua umurnya.

      [Fatawa wa Rasailusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 10/12]

      KAPAN DIPERBOLEHKAN MEMBUKA AURAT

      Oleh
      Syaikh Muhammad bin Ibrahim

      PERTANYAAN:

      Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : “Kapan aurat diperbolehkan untuk
      dibuka ?”.

      JAWABAN:
      Aurat hanya boleh dibuka karena adanya penyakit yang membahayakan.

      Adapun ungkapan : “Boleh membuka aurat untuk pengobatan” artinya boleh hingga aurat yang berat hanya saja aurat yang berat ini hanya diperbolehkan untuk dibuka dengan sebab suatu penyakit yang sangat berbahaya dan ditakutkan bisa menyebabkan meninggal atau semakin parahnya penyakit tersebut. Adapun sakit yang ringan, menurut saya tidak termasuk dalam ungkapan tersebut. Yang dimaksudkan disini adalah melihat aurat wanita dan laki-laki, dengan catatan bahwa yang diperbolehkan melihat aurat wanita hanyalah kaum wanita sendiri.

      Memang pada dasarnya aurat wanita tetap dianggap sebagai aurat di hadapan wanita lain, akan tetapi lebih ringan dibandingkan dengan di hadapan lelaki, karena penyebab timbulnya fitnah tidak ada dalam diri wanita apabila melihat pada aurat wanita lain.

      Maksud dari pengobatan di sini adalah pengobatan dari suatu penyakit. Sedangkan untuk tujuan menambah kekuatan, -dan dalam masalah ini banyak orang terlalaikan-, maka misalnya seorang lelaki membuka paha lelaki lain karena sakit yang ringan atau untuk tujuan menambah kekuatan, merupakan suatu kerusakan dan kejahatan yang besar. Ini telah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh manusia, tetapi ini adalah kebiasaan yang dilarang oleh syara’, meski banyak dilakukan oleh manusia.

      [Fatawa wa Rasailusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/152]

      Allohu A’lam

      Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: