Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Peringatan dari bahaya Ightiyaalat (penculikan dan pembunuhan) serta peledakan dengan dalih pembunuhan Kaab bin Al-Asyraf

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Maret 29, 2009

Oleh
Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri

[Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah, Darul Hadits Ma’rib Yaman, 1418H]
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]

Pertanyaan:
Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri ditanya : Kami mendapati beberapa orang yang mengaku aktivis Islam melakukan tindak penculikan (penyanderaan) beberapa tokoh atau melakukan peledakan pada beberapa perkantoran dan pertokoan. Apabila ditegur mereka membantah seraya berkata : “Perbuatan seperti ini telah dilakukan oleh para sahabat dengan seizin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu pada peristiwa terbunuhnya Kaab bin Asyraf seorang thagut dari bangsa Yahudi”. Apakah perbuatan seperti itu benar dan sesuai dengan metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah ? Dan apakah cara seperti itu dapat menolong agama Islam ? Kemudian apa nasehat Anda kepada mereka .?

Jawaban:
Semua orang pasti sudah mengetahui sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah di dalam masalah-masalah seperti ini. Terutama bagi orang-orang yang telah mengenal dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, baik melalui buku-buku mereka, kaset-kaset dakwah mereka, atau yang lainnya. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa cara-cara seperti itu adalah fitnah (sesat dan dapat menimbulkan malapetaka) dan dapat menghalangi orang dari agama Allah Jalla Jalaluhu. Kemudharatan yang ditimbulkannya lebih besar dari faedah yang dihasilkan. Walaupun oknum-oknum pelakunya berbuat dengan niat ikhlas semata-mata untuk membela Islam. Namun keadaan mereka seperti yang dilantunkan di dalam sebuah syair :

Saad menggiring onta-ontanya sambil berkemul (beselimut).
Wahai Saad, bukan begitu cara menggiring onta !!

Para tokoh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah abad ini telah memberi peringatan pada umat dari cara-cara seperti itu di antaranya adalah Samahatusy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Muhaddits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan ahli fikih dan ushul Fadhilatusy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan lain-lain. Akan tetapi di lain pihak, banyak pemuda-pemuda ingusan yang dangkal ilmunya dan miskin pengalaman tidak ambil peduli dengan perkataan alim ulama tersebut. Akibatnya, merebaklah api fitnah (kehancuran), meluaslah kerusakan di atas muka bumi, sungguh sangat mengenaskan !

Betapa banyak orang-orang yang tidak bersalah ikut terbunuh ! Betapa banyak umat Islam yang menjadi korban kekejian karena telah dianggap kafir. Semua ini dilakukan tanpa ada rasa takut ataupun segan. Betapa banyak anak-anak dan kaum wanita yang tidak tahu menahu ikut menjadi korban, akibat ucapan-ucapan yang tidak bertanggung jawab lagi jauh menyimpang dari pedoman Ahlus Sunnah wal Jama’ah didalam memahami dalil.

Perlu diketahui, kisah tewasnya Kaab bin Al-Asyraf tidak dapat dijadikan sebagai dalil bagi tindakan mereka, dengan alasan sebagai berikut.

1. Kaab -semoga Allah melaknatnya- sudah jelas kekafirannya.

Adapun pemuda-pemuda ingusan tersebut memvonis kafir dengan anggapan-anggapan yang kacau. Walau sebagian mereka ada yang bersih hatinya (ikhlas) namun hal itu tidak cukup hingga memenuhi syarat kedua yaitu sesuai dengan sunnah. Di antara mereka ada yang memvonis kafir degan hawa nafsu, atau untuk mengejar materi dunia. Boleh jadi orang yang dibunuh tersebut memang benar-benar kafir, seperti orang Yahudi atau Nahsrani, akan tetapi membunuh mereka juga ada syarat-syarat tertentu yang sudah dimaklumi oleh alim ulama. Namun, pemuda-pemuda ingusan tersebut membuta tulikan mata dan telinga mereka dari hal itu.

2. Pembunuhan atas Kaab bin Al-Asyraf adalah dorongan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata kepada para sahabat:

Artinya : Siapakah yang bersedia membunuh Kaab bin Al-Asyraf ? karena dia sesungguhnya telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya !”.

Rasulullah tentu saja tidak berucap dengan hawa nafsu, demikian pula halnya dengan para pewaris beliau yaitu alim ulama. Berbeda dengan pemuda-pemuda ingusan tadi, mereka bukan ulama dan tidak pula merujuk kepada ulama.

3. Tewasnya Kaab bin Al-Asyraf adalah kehinaan bagi orang Yahudi dan kebanggaan bagi kaum muslimin.

Berbeda dengan tindakan menyimpang para pemuda ingusan tadi, kenyataannya justru menghalangi orang dari agama Allah dan memecah belah persatuan kaum muslimin serta membuka peluang bagi musuh untuk mejajah negeri-negeri kaum muslimin dengan alasan memberantas terorisme dan kekerasan. Akibatnya penjara-penjara penuh dengan orang-orang yang lemah dan tidak bersalah, sehingga kaum muslimin menjadi rendah lagi hina.

Sungguh amat memilukan ! Betapa banyak pemuda-pemudah Islam yang dahulunya memancar cahaya pada wajah mereka, berbondong-bondong datang ke masjid untuk menghadiri majlis-majlis ilmu seperti ilmu Al-Qur’an dan aqidah, namun ketika ia diciduk aparat akibat perbuatan orang lain, ia pun berbalik hingga akhirnya ia menjadi pengelola tempat-tempat hiburan, menjadi orang yang merobohkan pilar-pilar agama Islam dan syir-syiarnya.

4. Kaab bin Al-Asyraf dibunuh oleh para sahabat, kemudian mereka berlindung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengangkat takbir karena gembira atas terbunuhnya Kaab bin Al-Asyraf.

Adapun pemuda-pemuda ingusan tadi, setelah melakukan perbuatan menyimpang tersebut, biasanya mereka bersembunyi dan orang lain yang tertangkap lalu disiksa dengan lecutan cambuk, atau dihajar sampai babak belur (dikepruk sampai remuk) dan lain sebagainya.

Benarlah ucapan seorang penyair :

Orang lain yang berbuat jahat namun aku yang kena getahnya,
Betapa malang nasibku seperti nasib jari telunjuk yang menyesali diri.

5. Para sahabat hanya membunuh Kaab bin Al-Arsyaf saja.

Sebab hanya dia yang diizinkan untuk dibunuh, bukan yang lain. Berebeda dengan praktek-praktek peledakan pada perkantoran yang di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan orang-orang yang beraneka ragam, ada yang jahat dan ada yang baik. Apakah status mereka sama dengn Kaab bin Al-Asyraf ?.

Allah Azza wa Jalla telah menunda proses penaklukan kota Makkah karena beberapa orang mukmin yang belum diketahui siapa mereka yang berada di sana. Allah berfirman :

“Artinya : Merekalah orang-orang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)-nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’minah yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikhendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih ” [Al-Fath : 25].

Padahal penaklukan kota Makkah adalah kemenangan besar bagi kaum muslimin, sebagaimana yang telah disebutkan Allah. Namun penaklukan tersebut ditunda agar jiwa kaum muslimin yang berada di sana dapat diselamatkan demikian juga jiwa beberapa orang yang tidak boleh dibunuh.

6. Kaab bin Al-Asyraf dibunuh tanpa berbau penghianatan. Pembaca yang budiman dapat melihat ucapan Al-Qadhi Iyadh tentang masalah ini yang dinukil Imam Nawawi di dalam “Syarah Shalih Muslim ” (XII : 371).

Adapun yang dilakukan oleh pemuda-pemuda ingusan tadi, pada umumnya dilakukan dengan berbagai macam penghianatan bukan sekedar kamuflase atau siasat (yang dibolehkan di dalam peperangan, -pent). Rahasianya adalah, pada waktu itu kaum muslimin memiliki kekuatan, berbeda dengan sekarang !.

Hanya kepada Allah saja kita mengadu akan asingnya kebenaran dan para pengikutnya.

7. Terbunuhnya Kaab bin Al-Asyraf membawa maslahat yang jelas. Berbeda dengan perbuatan para pemuda ingusan tadi yang nyata membawa kerusakan. Realita yang ada menjadi bukti atas semua itu. Merupakan musibah besar apabila tidak merujuk kepada fatwa alim ulama.

Benarlah ucapan seorang penyair :

Wahai segenap kaum !
Apakah mereka mendapat dukungan dari seorang ahli fiqih
atau seorang imam yang diikuti
atas bid’ah yang mereka lakukan ?
Seperti Sufyan Ats-Tsauri yang mengajarkan umat hakikat wara’
atau seperti Sulaiman At-Taimi yang mengurangi tidurnya (untuk shalat)
karena rasa takutnya kepada Zat Yang Maha Melihat
atau pahlawan Islam yakni Imam Ahmad
Imam yang selalu dielu-elukan para qori’ (penuntutu ilmu)
Imam yang tidak takut lecutan cambuk yang menakutkan
dan juga tidak takut kilatan pedang yang terunus

[Disalin dari buku Silsilah Al-Fatwa Asy-Syar’iyah edisi Indonesia Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syar’iyah oleh Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri, terbitan Pustaka At-Tibyan, Th 2000, hal 98 – 105, penerjemah Abu Ihsan]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: