Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Fenomena sikap ekstrim

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada April 4, 2009

Oleh
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

MURAJA’AT FI FIQHIL WAQI’ AS-SIYASI WAL FIKRI ‘ALA DHAUIL KITABI WAS SUNNAH

[Koreksi Total Masalah Politik Dan Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah]

Pertanyaan :
Seorang ulama salaf yaitu Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Fadhilatusy Syaikh, beberapa catatan yang perlu diperhatikan sekarang ini adalah munculnya gejala sikap ghuluw (ekstrim) serta reaksi masyarakat umum terhadap fenomena ini. Bagaimana caranya meredam fenomena tersebut dan siapakah yang bertanggung jawab dalam hal ini ?

Jawaban :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umat dari bahaya sikap ekstrim, beliau bersabda.

“Artinya : Waspadalah terhadap sikap ghuluw (ekstrim) karena perkara yang membinasakan umat sebelum kamu adalah sikap ghuluw”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.

“Artinya : Binasalah mutanaththi’un, binasalah muthanaththi’un, binasalah muthanaththi’un”

Muthanaththi’un ialah orang yang berlebih-lebihan dalan melampui batas dalam perkara agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar” [An-Nisaa : 171]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu” [Al-Maidah : 77]

Yang wajib adalah beristiqomah di atas al-haq tanpa perlu diiringi sikap ekstrim dan tidak pula sikap apatis. Allah telah berkata kepada NabiNya dan para pengikutnya.

“Artinya : Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat berserta kamu dan janganlah kamu melampui batas” [Hud : 112]

Yakni janganlah menambah-menambahi dan jangan bersikap ekstrim, karena yang dituntut adalah keistiqomahan, yaitu bersikap tengah di antara sikap ekstrim dan apatis. Itulah pedoman Dienul Islam dan merupakan metode para nabi seluruhnya, yakni istiqomah di atas Dienullah tanpa disertai sikap ekstrim dan berlebih-lebihan dan tidak pula sikap apatis.

[Disalin dari kitab Muraja’att fi fiqhil waqi’ as-sunnah wal fikri ‘ala dhauil kitabi wa sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur’an & As-Sunnah, hal 65-66 Terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: