Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Hukum Onani (masturbasi)

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada April 4, 2009

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seseorang yang berkata ; Apabila seorang lelaki perjaka melakukan onani, apakah hal itu bisa disebut zina dan apa hukumnya ?”

Jawaban:
Ini yang disebut oleh sebagian orang “kebiasaan tersembunyi” dan disebut pula “jildu ‘umairah” dan ‘‘istimna” (onani). Jumhur ulama mengharamkannya, dan inilah yang benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan orang-orang Mu’min dan sifat-sifatnya berfirman.
“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” [Al-Mu’minun : 5-7]

Al-‘Adiy artinya orang yang zhalim yang melanggar aturan-aturan Allah.

Di dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas ; dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah.

Maka dari itu, para ulama mengambil kesimpulan dari ayat di atas, bahwa kebiasaan tersembunyi (onani) itu haram hukumnya. Kebiasaan rahasia itu adalah mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak. Perbuatan ini tidak boleh ia lakukan, karena mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan.

Bahkan ada sebagian ulama yang menulis kitab tentang masalah ini, di dalamnya dikumpulkan bahaya-bahaya kebiasan buruk tersebut. Kewajiban anda, wahai penanya, adalah mewaspadainya dan menjauhi kebiasaan buruk itu, karena sangat banyak mengandung bahaya yang sudah tidak diragukan lagi, dan juga betentangan dengan makna yang gamblang dari ayat Al-Qur’an dan menyalahi apa yang dihalalkan oleh Allah bagi hamba-hambaNya.

Maka ia wajib segera meninggalkan dan mewaspadainya. Dan bagi siapa saja yang dorongan syahwatnya terasa makin dahsyat dan merasa khawatir terhadap dirinya (perbuatan yang tercela) hendaknya segera menikah, dan jika belum mampu hendaknya berpuasa, sebagaimana arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendakanya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya” [Muttafaq ‘Alaih]

Di dalam hadits ini beliau tidak mengatakan : “Barangsiapa yang belum mampu, maka lakukanlah onani, atau hendaklah ia mengeluarkan spermanya”, akan tetapi beliau mengatakan : “Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits tadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua hal, yaitu :

Pertama.
Segera menikah bagi yang mampu.

Kedua.
Meredam nafsu syahwat dengan melakukan puasa bagi orang yang belum mampu menikah, sebab puasa itu dapat melemahkan godaan dan bisikan syetan.

Maka hendaklah anda, wahai pemuda, ber-etika dengan etika agama dan bersungguh-sungguh di dalam berupaya memelihara kehormatan diri anda dengan nikah syar’i sekalipun harus dengan berhutang atau meminjam dana. Insya Allah, Dia akan memberimu kecukupan untuk melunasinya.

Menikah itu merupakan amal shalih dan orang yang menikah pasti mendapat pertolongan, sebagaimana Rasulullah tegaskan di dalam haditsnya.

“Artinya : Ada tiga orang yang pasti (berhak) mendapat pertolongan Allah Azza wa Jalla : Al-Mukatab (budak yang berupaya memerdekakan diri) yang hendak menunaikan tebusan darinya. Lelaki yang menikah karena ingin menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, dan mujahid (pejuang) di jalan Allah” [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

[Fatawa Syaikh Bin Baz, dimutl di dalam Majalah Al-Buhuts, edisi 26 hal 129-130]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 406-409 Darul Haq]

6 Tanggapan to “Hukum Onani (masturbasi)”

  1. nugraha said

    Assalamu’alaikum warhmatullahi wabarakatuh,

    Bagaimana jika onani ini dilakukan dengan menggunakan tangan istrinya dikarenakan istri lagi dalam keadaan nifas atau haidh? Bagaimana juga hukum mengeluarkan sperma dengan cara menyentuhkan alat kelamin suami ke anggota badan istrinya dikarenakan istri lagi dalam keadaan haidh atau nifas atau berhalangan?

    wassalamu’alaikum

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Wa’alaykumsalam warrahmatullah wabarokatuh

      Pada dasarnya hukum onani adalah haram sesuai dengan Surat Al-Mu’minun ayat 5-7 diatas, sebab perbuatan itu termasuk perbuatan melampaui batas. Begitu pula menurut pendapat Ibnu Taimiyah dan Syeikh Bin Baz. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu yang bersifat darurat, hal itu diperbolehkan. Seperti:

      1. Seorang pemuda yang belum mampu untuk menikah yang sedang menuntut ilmu di negeri yang didalamnya terdapat banyak kemaksiatan dan godaan syahwat dan puasa belum mampu untuk membendung syahwatnya yang menggebu dan apabila tidak ia putuskan (syahwatnya) takut akan terjerumus kepada perbuatan zina yang dilarang.

      2. Orang yang sakit dimana ia tidak sanggup untuk berpuasa dikarenakan kondisinya sedangkan syahwatnya sudah memuncak, dan ia takut dirinya terjerumus dalam zina.

      Seorang suami dengan istrinya maka tidak ada hijab yang menghalanginya terkecuali karena hukum syariat seperti, dilarangnya suami utnuk berhubungan badan dengan istri ketika haid sesuai dengan nash berikut:

      “Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : ‘Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid ; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci …”. [Al-Baqarah : 222]

      Dan sabda Rasulullah Shalallohu alaihi wa sallam:

      Dan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
      “Artinya : Lakukan apa saja, kecuali nikah (yakni : bersenggama)”. [Hadits Riwayat Muslim]

      Berdasarkan dalil di atas yang tidak diperbolehkan adalah bersetubuh atau bersatunya dua kelamin (bersenggama).

      Untuk menyalurkan syahwatnya, suami diperbolehkan melakukan selain jima’ (senggama), seperti : berciuman, berpelukan dan bersebadan pada selain daerah farji (vagina). Namun, sebaiknya, jangan bersebadan pada daerah antara pusat dan lutut jika sang isteri mengenakan kain penutup. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

      “Artinya : Pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku berkain, lalu beliau menggauliku sedang aku dalam keadaan haid”. [Hadits Muttafaq ‘Alaih].

      Untuk mengeluarkan sperma dengan menggunakan tangan istri, maka hal tersebut adalah mubah (boleh) selama tidak diringi dengan bersetubuh.

  2. Anonim said

    Aslmkm.
    Apa saja bahaya yang tampak jika sering melakukan onani?
    Terima kasih.

  3. Abu Ahmad As-Salafy said

    Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarokatuh

    Setahu saya dampak bila sering melakukan onani adalah sebagai berikut:

    1. Mengurangi iman. Karena Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
    2. Sulit untuk fokus dan konsentrasi, baik dalam belajar maupun dalam bekerja karena pikirannya selalu terbayang saat melakukan onani.
    3. Badan menjadi kurus dan lemas karena energinya habis terbuang karena onani.
    4. Mudah lelah dan capek jika beraktifitas.
    5. Dapat terserang ejakulasi dini.
    6. Air mani menjadi encer, sehingga kemampuan sperma menjadi menurun.
    7. Melemahkan syaraf-syaraf otak sehingga daya pikir menurun.
    8. Karena menyalurkan syahwatnya dengan onani, maka menganggap menikah tidak terlalu penting karena syahwatnya telah disalurkan dengan onani.

    Dan masih banyak lagi dampak negatif yang lainnya.

  4. saya mau tanya.bagaimana kalau kita melakukan onani tersebut di karenakan,istri kita tidak mau melayani kita sedang kan suami suda tak mampu lagi menahan hasrat,suami suda memberi tahu akan kewajiban sang istri terhadap suaminya,tapi isrti tetap menolak,sebatas mana saja istri boleh menolak ke inginan suami dalam hal berhubungan badan.

    • Abu Ahmad As-Salafy said

      Dari Abu Hurairah Radhiallohu anhu, Rasulalloh Shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
      ” Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu ia menolak, sehingga suaminya marah atasnya, maka malaikat melaknat perempuan itu hingga datang pagi.” (HR. Bukhari)

      hal yang dilakukan seorang istri jika melakukan hal seperti pada hadits nabi tersebut, maka ia telah melakukan dosa yang besar yang dapat menjerumuskan suami ke hal2 yang diharamkan, yang apabila tidak disadari akan membahayakan kelangsungan rumah tangga.

      Dalam hal ini diperlukan adanya saling pengertian antara suami istri, sperti apakah istri tersebut dalam keadaan sakit, haid, hamil, atau sedang sedih. begitu juga seorang istri harus memahami suaminya agar tak terjadi perpecahan dalam rumah tanga dan keharmonisan serta keselarasan dalam rumah tangga dapat terus terjaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: