Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Perbedaan Antara Dakwah Salafiyah Dan Dakwah Hizbiyah (Bagian 3 terakhir)

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Juli 6, 2009

Penulis: Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiry

Pada jaman-jaman belakangan ini telah bermunculan jama’ah-jama’ah Islamiyah ini, yang mana (pada hakekatnya) semua itu adalah perpanjangan dari firqah-firqah atau golongan-golongan yang diada-adakan yang telah meninggalkan jalannya para shahabat. Perpecahan ini telah digambarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam dengan sabdanya:
“Dan akan berpecah belah ummatku menjadi 73 golongan semuanya di di dalam neraka kecuali satu.”

Golongan yang satu ini memiliki ciri-ciri dan memiliki sifat-sifat. Ciri-ciri dan sifat ini telah dijelaskan oleh Nabi shollallahu’alaihi wa sallam sebagai jawaban atas pertanyaan para shahabat tatkala mereka bertanya:

“Siapa (golongan) yang satu itu Wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Yaitu orang-orang yang mereka itu berada di atas apa-apa yang aku dan para shahabatku pada hari ini berada di atasnya”

Perhatikanlah kata “pada hari ini”, yaitu apa yang Nabi shollallahu’alaihi wa sallam berada di atasnya pada hari itu, bukan seperti pernyataan sebagian orang dengan “ Al Islam to day” yakni Al Islam hari ini, dan…
Bagaimana dengan Islam yang kemarin?
Bagaimana tentang Islam para shahabat?
Bagaimana dengan As Salafus Shalih?
Mereka tidak ingin menoleh terhadap apa yang telah lalu.

Penyair dari mereka berkata:
“janganlah engkau sampaikan kepadaku fatwa yang telah berumur 50 tahun, sebagaimana di dalam qosidahnya yang berjudul “Da’Al-Hawasyi”
Nabi shollallahu’alaihi wa sallam bersabda (satu) jama’ah, sementara mereka berkata jama’ah- jama’ah. Nabi shollallahu’alaihi wa sallam bersabda satu, sementara mereka menajdikannya lebih banyak. Nabi shollallahu’alaihi wa sallam bersabda bahwa golongan yang selamat cuma satu, sementara mereka menjadikan semua golongan ini selamat. Bagaimana bisa seperti itu?
Nabi berkata satu jama’ah, mereka berkata jama’ah-jama’ah. Beliau berkata satu kelompok, sementara mereka mengatakan kelompok-kelompok. Ini bertabrakan dengan apa yang datang dari Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam.

Sungguh perdebatan yang telah berlalu adalah disebabkan oleh perselisihan-perselisihan aqidah dan madzhab yang masih terus berlanjut sampai hari ini, dan berkepanjangan sampai mencakup perselisihan manhajiyyah (jalan agama-pen) dan khususnya jalan dakwah. Dan adalah merupakan kewajiban atas orang yang sanggup untuk merujuk kepada Al Kitab dan As Sunnah dalam bab-bab I’tikad (keyakinan) dan hukum-hukum, untuk sanggup pula merujuk kepada apa yang datang dari Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam dalam masalah dakwah kepada Allah. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan kepada kita jalan berdakwah kepada-Nya, dimana Allah Azza wa Jalla berfirman:

﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِى أَدْعُواْإِلَى اللهِ, عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى﴾
Artinya: “Katakanlah(Wahai Rasul): “Inilah jalanku, yang aku menyeru/berdakwah kepada Allah di atas bashiroh, aku dan orang-orang yang mengikutiku.” (Yunus:108)
Maksudnya: “Katakanlah wahai Muhammad: “inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah”- dan pada hal ini terdapat peringatan akan keikhlasan. “diatas bashirah” yaitu di atas ilmu. “Aku dan yang mengikutiku” pada hal ini terdapat peringatan terhadap al mutaba’ah (pengikut terhadap Nabi-pen).
Ikhlas, ilmu dan Mutaba’ah (harus selalu ada-pen) sampai-sampai pada dakwah kepada Allah. Ar Rasul shollallahu’alaihi wa sallam beliaulah yang telah bersabda:
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat”.
Beliau yang telah bersabda:
“Ambillah dariku manasik(tata cara ibadah haji) kalian”
Begitu pula disini beliau pula yang berkata, sebagai mana Allah memerintahkannya dalam menjelaskan jalan dakwah:

﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِى أَدْعُواْإِلَى اللهِ, عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى﴾
Artinya: “”Inilah jalanku, yang aku menyeru/berdakwah kepada Allah di atas bashiroh: (ilmu-pen),, aku dan orang-orang yang mengikutiku.” (Yunus:108)
Apakah engkau tidak menyanggupi apa yang telah disanggupi oleh Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam dalam dakwahnya?! Bukanlah dari jalannya Rasulullah untuk tahazzub (bergolong- golongan, berpartai-partai) dan taashub (fanatik buta) kepada individu-individu (tertentu), sementara jama’ah-jama’ah do jaman sekarang ini seeprti hizb Al Ikhwan (Ikhwanul Muslimin- adm) dan Jama’ah tabligh dan semacamnya tegak di atas tahazzub dan ta’ashub terhadap orang- orang, bahkan jama’ah-jama’ah tersebut, pada hakikatnya tegak di atas aqidah-aqidah yang rusak, milik golongan-golongan yang 72. oleh karena itulah engkau akan dapati bahwa para pembelanya akan saling akrab dan bekerja sama (tolong menolong bersama Syi’ah , Sufiyah (para pengikut tarekat-tarekat sufi), Al Asya’irah , Al Mu’tazilah, sementara itu mereka sama sekali tidak akan bergaul/bergabung bersama As Salafiyyah, para pengikut golongan yang selamat, pengikut hadits dan atsar. Maka engkau akan melihat adanya pelampauan batas secara terang-terangan terhadap manhaj slaaf dan ulama salaf. Siapa yang telah mensifati (baca: menggelari –pen.) ahlus sunnah sebagai al hasyawiah dan al musyabbihah , serta (menggelari) para ulama yang beramal dengan ilmunya seeprti Asy Syinqithy-pengarang tafsir Adwaul Bayan, Ibn Baz, Al Albani dan Ibn Al ‘Utsaimin bahwa mereka adalah perpustakaan tua dan berpindah- pindah yang butuh untuk diperbaiki.

Siapakah yang telah membantah mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak memahamai sedikitpun dari fiqih kekinian?
Siapakah yang telah mengatakan bahwa mereka itu adalah ulama-ulama milik penguasa yang mengeluarkan fatwa-fatwa sesuai dengan kemauan penguasa dan pemerintah?
Siapa yang telah membunuh Syaikh Jamilurrahman dan siapa pula yang telah melampaui batas terhadap Syaikh Aman Al Jami di dalam masjid?
Siapakah?…..dan Siapakah?…..suatu daftar yang panjang…

Seseorang (Syaikh –pen) sedang memebrikan ceramah di suatu daerah, kemudian tiba-tiba lampu-lampu dipadamkan. Fulan, juga termasuk Ahlul Ilmi dipukul di dalam masjid!!! Subhanallah, apakah dia mengajak kepada kekufuran dan kesesatan? Apakah dia mengajak kepada zandaqah (kemunafikan)? Apakah dia mengajak kepada fujur (perbuatan hina)? )? Apakah dia mengajak kepada perbuatan maksiat? )? Apakah dia mengajak kepada mizmar (alat musik)?. Bahkan dia menyeru kepada Kitabullah dan kepada sunnah Rasulullah berdasarkan manhaj salafus shalih di negeri yang tegak di atas hal ini. Hanya saja di jaman ini, manhaj salaf dan dakwah salafiyyah telah hilang melalui tangan-tangan para pengikut yang telah terbina oleh orang-orang hizbiyyin. Mereka itu adalah pengikut pada jalan-jalan hizbiyyah ini, seeprti pengikut Al Banna’iyyah (Ajaran Hasan Al Banna –pen) ada Ilyasiyyah ( pengikut ajaran Muhammad Ilyas –pen) atau Al Quthbuyyah (pengikut ajaran Sayyid Quthb –pen) atau As Sururiyyah (Pengikut Muhammad Surur –pen). Mereka semua adalah sebab (utama) terjatuhnya ummat slam dewasa ini pada pengkafiran, peledakan dan pada penjauhan ummat ini dari ulama’ dan pemerintah.

Sesungguhnya orang yang membunuh Syaikh Jamilurrahman bukanlah orang yang jahil (bodoh), dia (pembunuhnya) adalah pemimpin redaksi suatu majalah yang menurut keyakinan mereka majalah ini punya suara dalam jihad, akan tetapi ta’ashub (fanatisme) telah membutakan matanya demikian pula hawa nafsu hizbi (kelompok) telah menguasainya sehingga dia berbuat apa yang telah diperbuatnya berupa dosa besar. Sebab itulah ada perbedaan antara jihad dan pengrusakan.
Pokoknya, perselisihan ini telah dikabarkan oleh Nabi shollallahu’alaihi wa sallam akan tetapi pengkabaran ini bukanlah dalil (petunjuk) akan bolehnya, melainkan pengkabaran akan suatu perkara yang Allah telah takdirkan. Ini adalah pengkabaran akan taqdir kauny ( ketentuan Allah Azza wa Jalla yang harus berlalu/terjadi baik ataupun buruk). Akan tetapi bagaimana dengan perintah syari’at yang dating di dalam firman Allah ta’ala:

﴿وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ ﴾
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…” ( Ali ‘Imran : 103)

Maka kabar akan adanya perselisihan bukan dalil tentang bolehnya (perselisihan itu –pen), bahkan merupakan dalil akan tercelanya hal itu, sebab syari’at dating dengan (perintah untuk –pen) berkumpul (bersatu –adm) bukan untuk berselisih. Dan siapa saja yang menyelisihi jalannya para salafus shalih pada aqidah-aqidah (keyakinan), hokum-hukum atau manhaj-manhaj da’wah maka dia menyelisihi Al Firqatun Najiyah (golongan yang selamat), Ath Tho’ifah Al Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan), maka wajib baginya untuk kembali.
(Bersambung…)
Referensi: Majalah An-nashihah Vol. 09 1426 H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: