Media Salafy Online

Meniti jalan di atas Al-Qur'an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf

Perbedaan Antara Dakwah Salafiyah Dan Dakwah Hizbiyah (Bagian 1)

Posted by Abu Ahmad As-Salafy pada Juli 6, 2009

Penulis: Syaikh Muhammad Bin Ramzan Al-Hajiry

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kita memuji-Nya, meminta pertolongan pada-Nya dan memohon ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari kejelekkan diri-diri kita dan dari kejahatan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk padanya maka tiada yang dapat menyesatkannya.

Amma ba’du
Sungguh ummat Islam dewasa ini menghadapi suatu bahaya yang besar dan merasakan derita karena suatu cobaan/ujian yang menyakitkan disebabkan perbuatan-perbuatan musuhnya, baik yang menampakkan permusuhan yang nyata yaitu dari kalangan semua agama kafir: yahudi, nashara, hindu dan semisalnya, ataukah dari musuh-musuh yang permusuhannya tersembunyi, dari kalangan kita sendiri, mereka itu adalah orang-orang munafik pengikut bid’ah dan hawa nafsu.


Adapun musuh-musuh yang nyata dari kalangan orang-orang kafir, mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap umat Islam, tidak seperti ahlul dholal (sesat) dan bid’ah. Hal ini disebabkan karena Alloh telah menjanjikan bagi nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak membinasakan ummat ini (Islam) melalui tangan-tangan ahlul kufur.
Dan ini adalah do’a Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dikabulkan oleh Allah Ta’ala untuknya. Akan tetapi kehancuran / kebinasaan ummat ini adalah dari diri mereka sendiri, disebabkan oleh permusuhan dan kebencian di antara mereka. Dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya (no.1890) dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhuma dia berkata ketika turunnya ayat ini (yang artinya ): “ Katakanlah (wahai Muhammad) Dialah Allah yang Maha Sanggup untuk mengirimkan adzab terhadap kalian dari arah atas kalian…(Al-An’am:65)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Aku berlindung dengan wajah-Mu.”
Alloh Ta’ala berfirman yang artinya : “atau dari bawah kaki kalian”
Nabi berkata (berdo’a): “Ini lebih ringan atau ini lebih mudah”

Di dalam kitab shahih Muslim (No.hadits 2890) dari hadits Sa’id bin Abi Waqash Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari datang dari arah daerah Al-Aliyah (1), hingga ketika melewati masjid bani Mu’awiyah, beliau masuk dan melakukan shalat dua rakaat yang kami shalat bersamanya, lalu beliau berdo’a kepada Rabbnya dengan do’a yang panjang, setelah itu beliau menghadap kami lalu berkata:
“Aku telah meminta kepada Rabbku tiga hal, dan maka Dia (Alloh) memberikan dua hal dan menolak permintaanku pada satu hal. Aku memohon kepada-Nya agar Dia tidak membinasakan ummatku dengan sebab kekeringan (paceklik), maka Dia mengabulkannya. Aku mohon kepada- Nya agar tidak membinasakan ummatku dengan menenggelamkannya, maka Dia mengabulkannya. Dan aku mohon kepada-Nya tidak dijadikan kehancuran mereka dikalangan mereka sendiri maka Dia menolaknya.”

Dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah di dalam sunannya (No.Hadits 3951) dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu’anhu ia berkata:
“Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat pada suatu hari dan memanjangkan sholatnya. Ketika beliau selesai kami berkata : “Wahai Rasululloh, Engkau pada hari ini telah memanjangkan shalatmu.”

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku telah melakukan shalat dengan harapan dan kekhawatiran. Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk ummatku tiga hal maka Dia memberikan untukku dua hal dan menolak dariku satu hal. Aku memohon pada-Nya agar tidak dijadikan musuh dari selain mereka (ummat Rasulullah-pen) dapat menguasai mereka, maka Dia mengabulkannya. Dan aku memohon kepada-Nya untuk tidak membinasakan mereka dengan menenggelamkannya, maka Dia mengabulkannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar tidak menjadikan kehancuran mereka disebabkan oleh permusuhan diantara mereka sendiri, maka Dia menolaknya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad di dalam Musnadnya (5/240), Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Shahihnya (2/225), dan pada sanadnya terdapat Rajaa bin Al Anshari, yang dikomentari oleh Al Hafidz (Ibnu Hajr) di dalam kitab At Taqrib: “maqbul”(artinya diterima riwayatnya jika ada pendukungnya sebagaimana perkataan Al Hafidz-pen)
Dan hadits ini memiliki jalan lain pada kitab Al Musnad (5/243) yang isnadnya dho’if (lemah), akan tetapi dia memiliki banyak syawahid (pendukung) yang menjadikannya shahih.

Allah Azza wa Jalla memiliki sunnah-sunnah (cara-cara/kebiasaan) terhadap musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh Islam dan sunnah-sunnah tersebut yang tidak berganti dan tidak berubah. Diantaranya adalah apa yang difirmankan Allah Ta’ala (yang artinya) : “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Al- Anfal:30)

Di dalam surat Ath-Thariq (yang artinya):
“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. Karena itu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.” (Ath-Thariq:15-17)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berkata pada Nabi-Nya, (yang artinya):
“…dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikkan.” (An-Nahl:127- 128)

Kalau begitu, jika ummat ini tidak ingin disusahkan oleh makarnya para pembuat makar dan dalam menghadapi apa yang telah disusun (direncanakan) oleh orang-orang yang berniat menyerangnya, maka wajib atas ummat ini –baik secara perseorangan (individu) maupun berkelompok, sebagai pemerintah maupun yang diperintah (rakyat), sebagai ulama atau sebagai awwam (orang kebanyakan), untuk berpegang teguh (konsisten) terhadap dua perkara yang disebutkan dalam ayat. Dua perkara tersebut adalah: Taqwa dan Ihsan.
Akan tetapi apakah taqwa itu?

Ketaqwaan adalah melaksanakan segala yang Allah perintahkan baik berupa perkataan maupun berupa amalan-amalan, yang dzhahir maupun yang batin (tidak nampak), serta menahan diri dari larangan Allah baik berupa perkataan-perkataan maupun perbuatan-perbuatan, yang dzahir maupun batin.

Kemudian Al Ihsan, yang dia adalah tingkatan dien (agama) yang tertinggi, yang maknanya adalah sebagaimana datang di dalam hadits Jibril alaihis salam:
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat- Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Maka jika ummat Islam telah mewujudkan taqwa dan ihsan, akan terwujud baginya janji Allah bahwa ummat ini tidak akan berada di dalam kesempitan dari makar yang dilakukan oleh para pembuat maker
.
Inilah taqwa yaitu engkau memasang tameng/pelindung antara engkau dan adzab Allah dengan melaksanakan apa yang Ia perintahkan dan meninggalkan apa yang Ia larang.
( Bersambung )

(Dikutip dari majalah An-Nashihah Volume 09 1426H 2005M)



1. Suatu daerah dataran tinggi Timur Laut Madinah (penerjemah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: